Pustaka DigitalNurul Hikmah
Sampul Matan Taqrib

Matan Taqrib

Sampul Matan Taqrib

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kata Pengantar Penerjemah

Segala puji bagi Allah Ta'ala, Tuhan semesta alam, yang telah memudahkan jalan ilmu bagi siapa saja yang Dia kehendaki kebaikan baginya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.

Di antara kitab fikih mazhab Syafi'i yang paling luas tersebar dan paling banyak dipelajari ialah Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, yang lebih dikenal dengan nama Matan Abi Syuja' atau Matan Taqrib, karya al-Qadhi Abu Syuja' Ahmad bin al-Husain al-Ashfahani rahimahullah ta'ala. Kitab ini disusun dengan ungkapan yang sangat ringkas dan pembagian yang tertib, sehingga mudah dihafal oleh pemula. Karena itu, para ulama menerimanya dengan baik dan menulis banyak syarah atasnya, dan kitab ini menjadi salah satu pelajaran fikih pertama di pesantren, dayah, dan madrasah di Nusantara.

Dalam edisi ini, teks matan diambil dari al-Maktabah asy-Syamilah, kemudian diberi harakat lengkap sesuai kaidah nahwu dan sharaf, serta ditashih dengan membandingkannya dengan teks matan yang masyhur. Ayat Al-Qur'an ditulis sesuai Mushaf Standar Indonesia, dan terjemahnya mengikuti terjemah Kementerian Agama Republik Indonesia.

Terjemah diletakkan tepat di bawah setiap paragraf Arab. Penerjemah berusaha setia pada lafaz kitab tanpa meringkasnya, namun tetap mengupayakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Istilah-istilah fikih yang telah lazim di kalangan santri tetap dipertahankan dan diberi penjelasan singkat. Selain itu, ditambahkan catatan kaki untuk menjelaskan istilah, memberi contoh praktis, menyebutkan pendapat yang mu'tamad dalam mazhab Syafi'i bila berbeda dengan ungkapan matan, serta mengonversi ukuran-ukuran syar'i ke ukuran yang dikenal sekarang menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer.

Para pembaca hendaknya membaca kitab ini seperti orang sakit membaca resep dokter: bukan sekadar untuk mengetahui, tetapi untuk diamalkan. Terjemah dan catatan dalam buku ini tidak dapat menggantikan belajar langsung di hadapan guru yang memiliki sanad keilmuan, karena ilmu fikih memiliki rincian yang hanya dapat dipahami dengan sempurna melalui bimbingan guru.

Penerjemah menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan pada cetakan berikutnya. Semoga Allah Ta'ala menjadikan karya ini ikhlas karena-Nya, bermanfaat bagi para penuntut ilmu, dan menjadi amal jariah bagi penulisnya, penerjemahnya, dan semua yang membantu penerbitannya. Amin.

Biografi Pengarang

Beliau adalah al-Qadhi Abu Syuja', Syihabuddin, Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahan1i, yang juga diberi kunyah2 Abu ath-Thayyib, bermazhab Syafi'i. Beliau dinisbahkan kepada Ashfahan karena asal keluarganya dari sana. Para penulis biografinya menyebutkan bahwa beliau lahir di Bashrah dan tumbuh besar di sana.

Beliau menuntut ilmu sejak kecil dan mendalami fikih mazhab Imam asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu hingga mahir di dalamnya. Beliau mengajarkannya di Bashrah dalam waktu yang lama, sehingga banyak orang mengambil manfaat darinya. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi (hakim), dan sebagian sejarawan menyebutkan bahwa beliau juga pernah memegang jabatan wazir (menteri)3. Meskipun demikian, beliau dikenal dengan sifat zuhud, menjaga kehormatan diri, dan suka membelanjakan harta di jalan-jalan kebaikan.

Kemudian beliau meninggalkan dunia dan jabatan-jabatannya, lalu tinggal menetap di Madinah al-Munawwarah — semoga salawat dan salam yang paling utama tercurah kepada penghuninya. Beliau berkhidmat di Masjid Nabawi: menyapunya, menyalakan lampu-lampunya, dan menghamparkan tikar-tikarnya, hingga wafat di sana.

Di antara yang diriwayatkan tentang beliau ialah bahwa beliau berumur panjang, hingga dikatakan4 bahwa beliau hidup sekitar seratus enam puluh tahun tanpa ada satu pun anggota tubuhnya yang rusak. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab: "Aku tidak pernah bermaksiat kepada Allah dengan satu pun anggota tubuh ini. Ketika aku menjaganya dari maksiat di waktu kecil, Allah menjaganya untukku di waktu tua." Para penulis biografi sangat berselisih tentang tahun wafatnya: sebagian menempatkannya di akhir abad kelima Hijriah, dan sebagian lagi mengundurkannya hingga akhir abad keenam. Allah lebih mengetahui hakikatnya.

Karya beliau yang paling masyhur adalah matan ini, yang dinamai Ghayah al-Ikhtishar atau al-Ghayah wa at-Taqrib, dan dikenal pula dengan nama Matan Abi Syuja'. Di dalamnya beliau menghimpun bab-bab fikih, mulai dari bersuci hingga memerdekakan budak, dengan ungkapan yang ringkas dan pembagian yang terbatas jumlahnya, agar mudah dihafal oleh pemula.

Para ulama menerima kitab ini dengan baik, sehingga banyak syarah dan hasyiyah5 yang ditulis atasnya. Di antara yang paling masyhur ialah Fath al-Qarib al-Mujib karya Ibnu Qasim al-Ghazzi, Kifayah al-Akhyar karya Taqiyuddin al-Hishni, al-Iqna' karya al-Khathib asy-Syirbini, dan Hasyiyah Syekh Ibrahim al-Bajuri atas Fath al-Qarib. Kitab ini termasuk yang pertama kali diajarkan dalam fikih Syafi'i di pesantren, dayah, surau, dan madrasah-madrasah agama di Kepulauan Melayu dan selainnya; para santri menghafalnya, kemudian membaca syarah-syarahnya. Semoga Allah merahmati penulisnya dengan rahmat yang luas dan memberi kita manfaat dengan ilmu-ilmunya. Amin.

Catatan

1 Ashfahan (Isfahan) adalah kota besar di wilayah Persia, kini termasuk negara Iran.

2 Kunyah ialah nama panggilan yang diawali "Abu" (bapak si Fulan) atau "Ummu" (ibu si Fulan), sebagai bentuk penghormatan.

3 Wazir ialah pembantu utama khalifah atau sultan dalam urusan pemerintahan.

4 Ungkapan "dikatakan" (qila) menunjukkan bahwa kisah umur panjang ini dinukil tanpa kepastian.

5 Syarah ialah kitab penjelas atas sebuah matan; hasyiyah ialah catatan penjelas atas sebuah syarah.

مُقَدِّمَةُ الْمُصَنِّفِMukadimah Pengarang

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya yang suci, dan kepada seluruh sahabatnya.

قَالَ الْقَاضِيْ أَبُوْ شُجَاعٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَحْمَدَ الْأَصْفَهَانِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى: سَأَلَنِيْ بَعْضُ الْأَصْدِقَاۤءِ حَفِظَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى أَنْ أَعْمَلَ مُخْتَصَرًا فِي الْفِقْهِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحْمَةُ اللّٰهِ تَعَالَى عَلَيْهِ وَرِضْوَانُهُ، فِيْ غَايَةِ الِاخْتِصَارِ وَنِهَايَةِ الْإِيْجَازِ؛ لِيَقْرُبَ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ دَرْسُهُ، وَيَسْهُلَ عَلَى الْمُبْتَدِئِ حِفْظُهُ، وَأَنْ أُكْثِرَ فِيْهِ مِنَ التَّقْسِيْمَاتِ وَحَصْرِ الْخِصَالِ، فَأَجَبْتُهُ إِلَى ذٰلِكَ طَالِبًا لِلثَّوَابِ، رَاغِبًا إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى فِي التَّوْفِيْقِ لِلصَّوَابِ، إِنَّهُ عَلَى مَا يَشَاۤءُ قَدِيْرٌ، وَبِعِبَادِهِ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ.

Al-Qadhi Abu Syuja' Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahani rahimahullah ta'ala berkata: Sebagian sahabatku — semoga Allah Ta'ala menjaga mereka — memintaku untuk menyusun sebuah ringkasan fikih menurut mazhab Imam asy-Syafi'i1 — semoga rahmat dan keridaan Allah Ta'ala tercurah kepadanya — dengan seringkas-ringkasnya dan sepadat-padatnya, agar mudah dipelajari oleh penuntut ilmu dan mudah dihafal oleh pemula, serta agar aku memperbanyak pembagian dan pembatasan jumlah perkara di dalamnya. Maka aku memenuhi permintaannya itu demi mengharap pahala dan memohon kepada Allah Ta'ala taufik menuju kebenaran. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki, Mahalembut lagi Maha Mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya.

Catatan

1 Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i (150–204 H), pendiri mazhab Syafi'i yang dianut mayoritas umat Islam di Asia Tenggara.

كِتَابُ الطَّهَارَةِKitab Bersuci

اَلْمِيَاهُ الَّتِيْ يَجُوْزُ التَّطْهِيْرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهٍ: مَاۤءُ السَّمَاۤءِ، وَمَاۤءُ الْبَحْرِ، وَمَاۤءُ النَّهْرِ، وَمَاۤءُ الْبِئْرِ، وَمَاۤءُ الْعَيْنِ، وَمَاۤءُ الثَّلْجِ، وَمَاۤءُ الْبَرَدِ.

Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh macam: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air embun beku (es hujan)1.

ثُمَّ الْمِيَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ، وَهُوَ الْمَاۤءُ الْمُطْلَقُ؛ وَطَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ، وَهُوَ الْمَاۤءُ الْمُشَمَّسُ؛ وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ، وَهُوَ الْمَاۤءُ الْمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ؛ وَمَاۤءٌ نَجِسٌ، وَهُوَ الَّذِيْ حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ، أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ. وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيٍّ تَقْرِيْبًا فِي الْأَصَحِّ.

Kemudian air terbagi menjadi empat bagian: (1) air suci lagi menyucikan dan tidak makruh, yaitu air mutlak2; (2) air suci lagi menyucikan tetapi makruh, yaitu air musyammas (air yang dipanaskan oleh terik matahari)3; (3) air suci tetapi tidak menyucikan, yaitu air musta'mal (yang telah dipakai untuk bersuci wajib)4 dan air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci5; dan (4) air najis, yaitu air yang kemasukan najis sedangkan ia kurang dari dua qullah, atau sebanyak dua qullah tetapi berubah (sifatnya). Dua qullah itu kira-kira lima ratus rithl Baghdad6 menurut pendapat yang paling sahih.

فَصْلٌPasal

وَجُلُوْدُ الْمَيْتَةِ تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ إِلَّا جِلْدَ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا. وَعَظْمُ الْمَيْتَةِ وَشَعْرُهَا نَجِسٌ إِلَّا الْآدَمِيَّ.

Kulit bangkai menjadi suci dengan disamak7, kecuali kulit anjing, babi, dan hewan yang lahir dari keduanya atau dari salah satunya. Tulang dan bulu bangkai hukumnya najis, kecuali (bangkai) manusia8.

فَصْلٌPasal

وَلَا يَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَيَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ غَيْرِهِمَا مِنَ الْأَوَانِيْ.

Tidak boleh menggunakan bejana dari emas dan perak9, dan boleh menggunakan bejana selain keduanya.

فَصْلٌPasal

وَالسِّوَاكُ مُسْتَحَبٌّ فِيْ كُلِّ حَالٍ إِلَّا بَعْدَ الزَّوَالِ لِلصَّاۤئِمِ، وَهُوَ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا: عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.

Bersiwak itu disunahkan dalam setiap keadaan, kecuali setelah tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa10. Siwak lebih ditekankan kesunahannya pada tiga keadaan: ketika bau mulut berubah karena lama diam (tidak makan)11 atau sebab lainnya, ketika bangun dari tidur, dan ketika hendak mengerjakan salat.

فَصْلٌPasal

وَفُرُوْضُ الْوُضُوْۤءِ سِتَّةُ أَشْيَاۤءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Fardu wudhu ada enam perkara: (1) niat ketika membasuh wajah12; (2) membasuh wajah; (3) membasuh kedua tangan beserta kedua siku; (4) mengusap sebagian kepala13; (5) membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki14; dan (6) tertib sesuai urutan yang telah kami sebutkan.

وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاۤءَ: التَّسْمِيَةُ، وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الْإِنَاۤءَ، وَالْمَضْمَضَةُ، وَالِاسْتِنْشَاقُ، وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ، وَمَسْحُ الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاۤءٍ جَدِيْدٍ، وَتَخْلِيْلُ اللِّحْيَةِ الْكَثَّةِ، وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ، وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، وَالطَّهَارَةُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، وَالْمُوَالَاةُ.

Sunah wudhu ada sepuluh perkara15: (1) membaca basmalah; (2) membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana; (3) berkumur; (4) menghirup air ke hidung; (5) mengusap seluruh kepala; (6) mengusap kedua telinga, bagian luar dan dalamnya, dengan air yang baru; (7) menyela-nyela janggut yang tebal dan menyela-nyela jari-jari kedua tangan dan kedua kaki; (8) mendahulukan anggota kanan atas yang kiri; (9) bersuci tiga kali-tiga kali; dan (10) berturut-turut (muwalah)16.

فَصْلٌPasal

وَالِاسْتِنْجَاۤءُ وَاجِبٌ مِنَ الْبَوْلِ وَالْغَاۤئِطِ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِالْأَحْجَارِ ثُمَّ يُتْبِعَهَا بِالْمَاۤءِ، وَيَجُوْزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْمَاۤءِ أَوْ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يُنْقِيْ بِهِنَّ الْمَحَلَّ، فَإِذَا أَرَادَ الِاقْتِصَارَ عَلَى أَحَدِهِمَا فَالْمَاۤءُ أَفْضَلُ. وَيَجْتَنِبُ اسْتِقْبَالَ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارَهَا فِي الصَّحْرَاۤءِ، وَيَجْتَنِبُ الْبَوْلَ وَالْغَاۤئِطَ فِي الْمَاۤءِ الرَّاكِدِ، وَتَحْتَ الشَّجَرَةِ الْمُثْمِرَةِ، وَفِي الطَّرِيْقِ، وَالظِّلِّ، وَالثُّقْبِ، وَلَا يَتَكَلَّمُ عَلَى الْبَوْلِ وَالْغَاۤئِطِ، وَلَا يَسْتَقْبِلُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَلَا يَسْتَدْبِرُهُمَا.

Istinja' hukumnya wajib karena buang air kecil dan buang air besar. Yang lebih utama ialah beristinja' dengan batu17, kemudian diikuti dengan air. Boleh pula mencukupkan diri dengan air saja, atau dengan tiga buah batu yang dapat membersihkan tempat keluarnya kotoran. Jika ia hendak mencukupkan dengan salah satunya, maka air lebih utama. Hendaknya ia menghindari menghadap kiblat dan membelakanginya di tanah lapang18; menghindari buang air kecil dan buang air besar di air yang tidak mengalir, di bawah pohon yang berbuah, di jalan, di tempat berteduh, dan di lubang19; tidak berbicara ketika buang air kecil dan buang air besar; serta tidak menghadap matahari dan bulan20, dan tidak pula membelakangi keduanya.

فَصْلٌPasal

وَالَّذِيْ يَنْقُضُ الْوُضُوْۤءَ سِتَّةُ أَشْيَاۤءَ: مَا خَرَجَ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ، وَالنَّوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّنِ، وَزَوَالُ الْعَقْلِ بِسُكْرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَلَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَاۤئِلٍ، وَمَسُّ فَرْجِ الْآدَمِيِّ بِبَاطِنِ الْكَفِّ، وَمَسُّ حَلْقَةِ دُبُرِهِ عَلَى الْجَدِيْدِ.

Perkara yang membatalkan wudhu ada enam: (1) sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur)21; (2) tidur dalam keadaan tidak menetapkan tempat duduknya22; (3) hilang akal karena mabuk atau sakit; (4) laki-laki menyentuh perempuan ajnabiyah (bukan mahram)23 tanpa penghalang; (5) menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan bagian dalam24; dan (6) menyentuh lingkaran duburnya menurut qaul jadid (pendapat baru Imam asy-Syafi'i)25.

فَصْلٌPasal

وَالَّذِيْ يُوْجِبُ الْغُسْلَ سِتَّةُ أَشْيَاۤءَ: ثَلَاثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيْهَا الرِّجَالُ وَالنِّسَاۤءُ، وَهِيَ: الْتِقَاۤءُ الْخِتَانَيْنِ، وَإِنْزَالُ الْمَنِيِّ، وَالْمَوْتُ؛ وَثَلَاثَةٌ تَخْتَصُّ بِهَا النِّسَاۤءُ، وَهِيَ: الْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْوِلَادَةُ.

Perkara yang mewajibkan mandi ada enam: tiga perkara berlaku bagi laki-laki dan perempuan, yaitu bertemunya dua khitan (bersetubuh)26, keluarnya mani, dan kematian; dan tiga perkara khusus bagi perempuan, yaitu haid, nifas, dan melahirkan27.

فَصْلٌPasal

وَفَرَاۤئِضُ الْغُسْلِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: النِّيَّةُ، وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ إِنْ كَانَتْ عَلَى بَدَنِهِ، وَإِيْصَالُ الْمَاۤءِ إِلَى جَمِيْعِ الشَّعْرِ وَالْبَشَرَةِ. وَسُنَنُهُ خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: التَّسْمِيَةُ، وَالْوُضُوْۤءُ قَبْلَهُ، وَإِمْرَارُ الْيَدِ عَلَى الْجَسَدِ، وَالْمُوَالَاةُ، وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى.

Fardu mandi ada tiga perkara: (1) niat28; (2) menghilangkan najis jika ada di badannya29; dan (3) meratakan air ke seluruh rambut dan kulit. Sunah mandi ada lima perkara: (1) membaca basmalah; (2) berwudhu sebelumnya; (3) menjalankan (menggosokkan) tangan pada badan; (4) berturut-turut (muwalah); dan (5) mendahulukan anggota kanan atas yang kiri.

فَصْلٌPasal

وَالِاغْتِسَالَاتُ الْمَسْنُوْنَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلًا: غُسْلُ الْجُمُعَةِ، وَالْعِيْدَيْنِ، وَالِاسْتِسْقَاۤءِ، وَالْخُسُوْفِ، وَالْكُسُوْفِ، وَالْغُسْلُ مِنْ غَسْلِ الْمَيِّتِ، وَالْكَافِرِ إِذَا أَسْلَمَ، وَالْمَجْنُوْنِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ إِذَا أَفَاقَا، وَالْغُسْلُ عِنْدَ الْإِحْرَامِ، وَلِدُخُوْلِ مَكَّةَ، وَلِلْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ، وَلِلْمَبِيْتِ بِمُزْدَلِفَةَ، وَلِرَمْيِ الْجِمَارِ الثَّلَاثِ، وَلِلطَّوَافِ، وَلِلسَّعْيِ، وَلِدُخُوْلِ مَدِيْنَةِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Mandi-mandi yang disunahkan ada tujuh belas30: (1) mandi Jumat31; (2–3) mandi dua hari raya; (4) mandi salat istisqa' (minta hujan); (5) mandi gerhana bulan; (6) mandi gerhana matahari; (7) mandi karena memandikan mayat; (8) mandi orang kafir apabila masuk Islam; (9) mandi orang gila dan orang pingsan apabila keduanya sadar; (10) mandi ketika ihram; (11) mandi untuk memasuki Mekah; (12) mandi untuk wukuf di Arafah; (13) mandi untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah; (14) mandi untuk melempar tiga jumrah32; (15) mandi untuk tawaf; (16) mandi untuk sa'i; dan (17) mandi untuk memasuki kota Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فَصْلٌPasal

وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ جَاۤئِزٌ بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَبْتَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ، وَأَنْ يَكُوْنَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ غَسْلِ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ، وَأَنْ يَكُوْنَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا. وَيَمْسَحُ الْمُقِيْمُ يَوْمًا وَلَيْلَةً، وَالْمُسَافِرُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بِلَيَالِيْهِنَّ، وَابْتِدَاۤءُ الْمُدَّةِ مِنْ حِيْنِ يُحْدِثُ بَعْدَ لُبْسِ الْخُفَّيْنِ، فَإِنْ مَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ، أَوْ مَسَحَ فِي السَّفَرِ ثُمَّ أَقَامَ، أَتَمَّ مَسْحَ مُقِيْمٍ. وَيَبْطُلُ الْمَسْحُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاۤءَ: بِخَلْعِهِمَا، وَانْقِضَاۤءِ الْمُدَّةِ، وَمَا يُوْجِبُ الْغُسْلَ.

Mengusap kedua khuf (sepatu kulit)33 hukumnya boleh dengan tiga syarat: (1) mulai memakai keduanya setelah sempurna bersuci; (2) keduanya menutupi bagian kaki yang wajib dibasuh; dan (3) keduanya termasuk sepatu yang dapat dipakai berjalan terus-menerus. Orang mukim boleh mengusap selama sehari semalam, dan musafir selama tiga hari tiga malam. Awal masanya dihitung sejak ia berhadas34 setelah memakai kedua khuf. Jika ia mengusap ketika di tempat tinggal lalu bepergian, atau mengusap dalam perjalanan lalu bermukim, maka ia menyempurnakan masa usap orang mukim. Usapan menjadi batal karena tiga perkara: (1) melepas keduanya; (2) habisnya masa; dan (3) sesuatu yang mewajibkan mandi35.

فَصْلٌPasal

وَشَرَاۤئِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: وُجُوْدُ الْعُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَدُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلَاةِ، وَطَلَبُ الْمَاۤءِ، وَتَعَذُّرُ اسْتِعْمَالِهِ وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ، وَالتُّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِيْ لَهُ غُبَارٌ، فَإِنْ خَالَطَهُ جِصٌّ أَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجْزِئْ.

Syarat tayamum ada lima perkara: (1) adanya uzur karena bepergian atau sakit; (2) masuknya waktu salat; (3) mencari air36; (4) sulit menggunakan air dan tidak mendapatkannya setelah dicari; dan (5) debu suci yang berdebu (memiliki serbuk halus)37. Jika debu itu bercampur kapur atau pasir, maka tidak mencukupi.

وَفَرَاۤئِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: النِّيَّةُ، وَمَسْحُ الْوَجْهِ، وَمَسْحُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، وَالتَّرْتِيْبُ. وَسُنَنُهُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: التَّسْمِيَةُ، وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، وَالْمُوَالَاةُ. وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: مَا أَبْطَلَ الْوُضُوْۤءَ، وَرُؤْيَةُ الْمَاۤءِ فِيْ غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ، وَالرِّدَّةُ. وَصَاحِبُ الْجَبَاۤئِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّيْ، وَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ. وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ، وَيُصَلِّيْ بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَا شَاۤءَ مِنَ النَّوَافِلِ.

Fardu tayamum ada empat perkara: (1) niat; (2) mengusap wajah; (3) mengusap kedua tangan beserta kedua siku; dan (4) tertib. Sunahnya ada tiga perkara: (1) membaca basmalah; (2) mendahulukan anggota kanan atas yang kiri; dan (3) berturut-turut. Perkara yang membatalkan tayamum ada tiga: (1) semua yang membatalkan wudhu; (2) melihat air di luar waktu salat38; dan (3) murtad. Orang yang memakai jabirah (pembalut tulang patah) mengusap di atasnya, bertayamum, lalu salat, dan ia tidak wajib mengulang salatnya jika ia memasang jabirah itu dalam keadaan suci39. Ia bertayamum untuk setiap salat fardu40, dan dengan satu kali tayamum ia boleh mengerjakan salat sunah sebanyak yang ia kehendaki.

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ مَاۤئِعٍ خَرَجَ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ نَجِسٌ إِلَّا الْمَنِيَّ. وَغَسْلُ جَمِيْعِ الْأَبْوَالِ وَالْأَرْوَاثِ وَاجِبٌ إِلَّا بَوْلَ الصَّبِيِّ الَّذِيْ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ، فَإِنَّهُ يَطْهُرُ بِرَشِّ الْمَاۤءِ عَلَيْهِ. وَلَا يُعْفَى عَنْ شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِلَّا الْيَسِيْرَ مِنَ الدَّمِ وَالْقَيْحِ، وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ سَاۤئِلَةٌ إِذَا وَقَعَ فِي الْإِنَاۤءِ وَمَاتَ فِيْهِ فَإِنَّهُ لَا يُنَجِّسُهُ. وَالْحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا. وَالْمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلَّا السَّمَكَ وَالْجَرَادَ وَالْآدَمِيَّ. وَيُغْسَلُ الْإِنَاۤءُ مِنْ وُلُوْغِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ، وَيُغْسَلُ مِنْ سَاۤئِرِ النَّجَاسَاتِ مَرَّةً تَأْتِيْ عَلَيْهِ، وَالثَّلَاثُ أَفْضَلُ. وَإِذَا تَخَلَّلَتِ الْخَمْرَةُ بِنَفْسِهَا طَهُرَتْ، وَإِنْ خُلِّلَتْ بِطَرْحِ شَيْءٍ فِيْهَا لَمْ تَطْهُرْ.

Setiap benda cair yang keluar dari dua jalan hukumnya najis, kecuali mani41. Membasuh semua jenis air kencing dan kotoran hukumnya wajib, kecuali air kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan42; ia menjadi suci dengan dipercikkan air di atasnya. Tidak ada najis yang dimaafkan kecuali sedikit darah dan nanah43, serta hewan yang tidak memiliki darah mengalir44 apabila jatuh ke dalam bejana lalu mati di dalamnya, maka ia tidak menajiskannya. Semua hewan hukumnya suci, kecuali anjing, babi, dan hewan yang lahir dari keduanya atau dari salah satunya. Semua bangkai hukumnya najis, kecuali ikan, belalang, dan manusia. Bejana dibasuh karena jilatan anjing dan babi sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan debu45; dan dibasuh dari najis-najis lainnya satu kali yang merata padanya46, sedangkan tiga kali lebih utama. Apabila khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya47, maka ia menjadi suci; tetapi jika dijadikan cuka dengan memasukkan sesuatu ke dalamnya, maka ia tidak suci.

فَصْلٌPasal

وَيَخْرُجُ مِنَ الْفَرْجِ ثَلَاثَةُ دِمَاۤءٍ: دَمُ الْحَيْضِ، وَالنِّفَاسِ، وَالِاسْتِحَاضَةِ. فَالْحَيْضُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ عَلَى سَبِيْلِ الصِّحَّةِ مِنْ غَيْرِ سَبَبِ الْوِلَادَةِ، وَلَوْنُهُ أَسْوَدُ مُحْتَدِمٌ لَذَّاعٌ. وَالنِّفَاسُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ الْوِلَادَةِ. وَالِاسْتِحَاضَةُ هِيَ الدَّمُ الْخَارِجُ فِيْ غَيْرِ أَيَّامِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ.

Darah yang keluar dari kemaluan perempuan ada tiga: darah haid, darah nifas, dan darah istihadhah48. Haid ialah darah yang keluar dari kemaluan perempuan dalam keadaan sehat, bukan karena sebab melahirkan; warnanya hitam, panas, lagi terasa perih. Nifas ialah darah yang keluar sesudah melahirkan. Istihadhah ialah darah yang keluar di luar hari-hari haid dan nifas.

وَأَقَلُّ الْحَيْضِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَأَكْثَرُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ. وَأَقَلُّ النِّفَاسِ لَحْظَةٌ، وَأَكْثَرُهُ سِتُّوْنَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا. وَأَقَلُّ الطُّهْرِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ. وَأَقَلُّ زَمَنٍ تَحِيْضُ فِيْهِ الْمَرْأَةُ تِسْعُ سِنِيْنَ. وَأَقَلُّ الْحَمْلِ سِتَّةُ أَشْهُرٍ، وَأَكْثَرُهُ أَرْبَعُ سِنِيْنَ، وَغَالِبُهُ تِسْعَةُ أَشْهُرٍ.

Paling sedikit haid adalah sehari semalam49, paling banyak lima belas hari, dan pada umumnya enam atau tujuh hari. Paling sedikit nifas adalah sekejap, paling banyak enam puluh hari, dan pada umumnya empat puluh hari. Paling sedikit masa suci di antara dua haid adalah lima belas hari, dan tidak ada batas bagi paling lamanya. Usia paling muda seorang perempuan mengalami haid adalah sembilan tahun. Paling singkat masa kehamilan adalah enam bulan, paling lama empat tahun, dan pada umumnya sembilan bulan.

وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ثَمَانِيَةُ أَشْيَاۤءَ: الصَّلَاةُ، وَالصَّوْمُ، وَقِرَاۤءَةُ الْقُرْآنِ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، وَدُخُوْلُ الْمَسْجِدِ، وَالطَّوَافُ، وَالْوَطْءُ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: الصَّلَاةُ، وَقِرَاۤءَةُ الْقُرْآنِ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، وَالطَّوَافُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ. وَيَحْرُمُ عَلَى الْمُحْدِثِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ.

Haram karena haid dan nifas delapan perkara: (1) salat; (2) puasa; (3) membaca Al-Qur'an50; (4) menyentuh mushaf dan membawanya; (5) masuk masjid; (6) tawaf; (7) bersetubuh; dan (8) bersenang-senang pada anggota antara pusar dan lutut51. Haram bagi orang junub lima perkara: (1) salat; (2) membaca Al-Qur'an; (3) menyentuh mushaf dan membawanya; (4) tawaf; dan (5) berdiam di masjid52. Haram bagi orang yang berhadas (kecil) tiga perkara: (1) salat; (2) tawaf; dan (3) menyentuh mushaf dan membawanya.

Catatan

1 Barad ialah butiran es yang turun dari langit bersama hujan. Ketujuh air ini pada hakikatnya kembali kepada dua asal: air yang turun dari langit dan air yang keluar dari bumi.

2 Air mutlak ialah air yang cukup disebut "air" tanpa tambahan sifat yang melekat, seperti air hujan atau air sumur; berbeda dengan air teh, air kelapa, atau air mawar.

3 Makruh dipakai pada badan bila dipanaskan di negeri yang sangat panas dalam bejana logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Imam an-Nawawi memilih pendapat bahwa air ini tidak makruh.

4 Seperti air bekas basuhan wudhu atau mandi wajib yang menetes dari anggota badan. Air ini menjadi musta'mal bila jumlahnya kurang dari dua qullah.

5 Yaitu perubahan yang banyak sehingga air tidak lagi disebut air mutlak, seperti air yang bercampur kopi atau sabun hingga berubah warna, rasa, atau baunya secara nyata.

6 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, dua qullah kira-kira 216 liter, atau bak berukuran sekitar 60 cm pada setiap sisinya.

7 Menyamak ialah membersihkan kulit dari sisa daging, darah, dan lemaknya dengan benda yang sepat (seperti tawas), sehingga bila direndam air kulit itu tidak membusuk lagi.

8 Manusia suci, baik ketika hidup maupun setelah mati, karena kemuliaannya.

9 Haram bagi laki-laki dan perempuan, baik untuk makan, minum, maupun berwudhu. Bejana yang ditambal sedikit perak karena kebutuhan hukumnya boleh.

10 Karena siwak menghilangkan bau mulut orang yang berpuasa, yang dipuji dalam hadis sebagai lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.

11 Azm ialah lama diam atau lama tidak makan, yang biasanya membuat bau mulut berubah.

12 Niat dilakukan dalam hati bersamaan dengan basuhan pertama bagian wajah, misalnya: "Aku berniat menghilangkan hadas kecil" atau "Aku berniat fardu wudhu".

13 Cukup mengusap sebagian kecil kulit kepala atau rambut, walaupun sehelai, selama rambut itu tidak keluar dari batas kepala.

14 Mata kaki ialah dua tulang yang menonjol di kedua sisi pergelangan kaki; keduanya wajib ikut dibasuh.

15 Rincian dalam matan berjumlah sebelas bila dihitung satu per satu. Bilangan sepuluh sesuai bila menyela-nyela janggut dan menyela-nyela jari dihitung satu sunah, karena keduanya sama-sama takhlil (menyela-nyela). Sunah wudhu sebenarnya lebih banyak lagi, seperti bersiwak dan menghadap kiblat.

16 Muwalah ialah membasuh anggota berikutnya sebelum anggota sebelumnya kering, dalam keadaan udara dan badan yang normal.

17 Termasuk batu ialah setiap benda padat, suci, kesat (dapat mengangkat kotoran), dan tidak dimuliakan, seperti tisu. Syaratnya kotoran belum kering dan tidak melampaui tempat keluarnya.

18 Yakni tanpa penghalang. Di dalam bangunan WC atau dengan penghalang setinggi kira-kira dua pertiga hasta yang dekat dengannya, hukumnya tidak haram, tetapi lebih utama dihindari.

19 Karena dikhawatirkan di dalamnya ada hewan yang tersakiti atau menyakiti.

20 Menurut Imam an-Nawawi dalam ar-Raudhah, membelakangi keduanya tidak makruh.

21 Apa pun yang keluar, baik biasa seperti air kecil dan angin, maupun tidak biasa seperti darah atau batu, kecuali mani orang itu sendiri (yang mewajibkan mandi).

22 Orang yang tidur duduk dengan pantat menempel rapat pada lantai atau tempat duduknya, wudhunya tidak batal.

23 Yakni perempuan yang sudah mencapai usia yang biasanya menimbulkan syahwat. Wudhu keduanya, yang menyentuh dan yang disentuh, sama-sama batal. Menyentuh mahram, rambut, gigi, dan kuku tidak membatalkan.

24 Yaitu bagian yang tertutup ketika kedua telapak tangan dirapatkan, termasuk bagian dalam jari-jari. Menyentuh dengan punggung tangan tidak membatalkan.

25 Qaul jadid ialah pendapat Imam asy-Syafi'i setelah beliau menetap di Mesir; qaul qadim ialah pendapat beliau ketika di Irak. Yang diamalkan pada umumnya adalah qaul jadid.

26 Yakni masuknya kepala zakar ke dalam kemaluan, walaupun tidak keluar mani.

27 Walaupun anak yang dilahirkan keluar tanpa disertai darah.

28 Misalnya: "Aku berniat menghilangkan hadas besar" atau "Aku berniat mandi janabah", bersamaan dengan basuhan pertama anggota badan.

29 Menurut pendapat yang dipilih an-Nawawi, satu kali basuhan sudah mencukupi untuk menghilangkan najis dan hadas sekaligus bila najisnya hilang dengan basuhan itu.

30 Rincian dalam matan berjumlah delapan belas bila dihitung satu per satu. Bilangan tujuh belas sesuai bila mandi orang gila dan orang pingsan dihitung satu, karena keduanya disebut dalam satu ungkapan dengan satu sebab, yaitu sadar dari hilangnya akal.

31 Disunahkan bagi orang yang hendak menghadiri salat Jumat. Waktunya mulai terbit fajar, dan lebih utama dikerjakan mendekati waktu berangkat.

32 Yakni pada hari-hari tasyrik, satu kali setiap hari.

33 Khuf ialah sepatu yang menutupi kaki sampai kedua mata kaki. Kaus kaki tipis yang tidak kuat dipakai berjalan tidak sah diusap.

34 Contoh: seorang mukim memakai khuf setelah berwudhu untuk salat Subuh, lalu berhadas pukul 10.00. Ia boleh mengusap khufnya sampai pukul 10.00 keesokan harinya.

35 Seperti junub. Ia wajib melepas khufnya dan membasuh kakinya ketika mandi.

36 Yakni di tempatnya, kepada teman-teman perjalanannya, dan di sekitarnya sejauh teman-temannya masih dapat mendengar panggilannya bila ia meminta tolong.

37 Debu yang dipakai disyaratkan suci, belum musta'mal, dan berserbuk halus yang dapat menempel. Debu di dinding atau kasur yang suci juga boleh dipakai.

38 Maksudnya melihat air sebelum memulai salat. Jika air terlihat ketika sedang salat dan salat itu termasuk yang tidak wajib diulang (seperti tayamum musafir), salatnya tidak batal.

39 Menurut pendapat yang mu'tamad, juga disyaratkan jabirah itu tidak berada pada anggota tayamum (wajah dan kedua tangan); jika berada di sana, salatnya wajib diulang.

40 Termasuk salat nazar. Satu kali tayamum tidak boleh dipakai untuk dua salat fardu, walaupun salah satunya qadha.

41 Mani manusia suci, tetapi disunahkan untuk dibasuh.

42 Yakni belum berumur dua tahun dan hanya meminum susu. Air kencing bayi perempuan wajib dibasuh walaupun ia hanya meminum susu.

43 Yaitu yang menurut kebiasaan dianggap sedikit, seperti darah nyamuk, darah bisul, dan darah luka sendiri yang tidak berceceran.

44 Seperti lalat, semut, nyamuk, dan kecoak, yang bila dipotong tidak mengalir darahnya.

45 Debu dicampur dengan air; lebih utama pada basuhan yang pertama. Najis seperti ini disebut najis mughallazhah (berat).

46 Setelah zat najisnya hilang beserta warna, bau, dan rasanya. Jika warna atau bau sulit dihilangkan, keduanya dimaafkan.

47 Wadahnya ikut menjadi suci bersama cuka itu.

48 Istihadhah ialah darah penyakit. Ia tidak menghalangi salat dan puasa; perempuan yang mengalaminya membersihkan dan membalut kemaluannya, lalu berwudhu setiap hendak salat fardu setelah masuk waktunya.

49 Yakni dua puluh empat jam, baik bersambung maupun terputus-putus dalam masa lima belas hari. Ukuran-ukuran dalam paragraf ini didasarkan pada penelitian (istiqra') Imam asy-Syafi'i terhadap keadaan kaum perempuan.

50 Haram bila diniatkan membaca Al-Qur'an. Jika diniatkan berzikir, seperti membaca Bismillah atau Alhamdulillah ketika makan, hukumnya boleh.

51 Bersenang-senang pada selain anggota itu, seperti berpelukan atau berciuman, hukumnya boleh.

52 Sekadar melintas di dalam masjid tanpa berhenti hukumnya boleh bagi orang junub.

كِتَابُ الصَّلَاةِKitab Salat

اَلصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: الظُّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلِّ الزَّوَالِ. وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزِّيَادَةُ عَلَى ظِلِّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ فِي الِاخْتِيَارِ إِلَى ظِلِّ الْمِثْلَيْنِ، وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ. وَالْمَغْرِبُ، وَوَقْتُهَا وَاحِدٌ، وَهُوَ غُرُوْبُ الشَّمْسِ وَبِمِقْدَارِ مَا يُؤَذِّنُ وَيَتَوَضَّأُ وَيَسْتُرُ الْعَوْرَةَ وَيُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَيُصَلِّيْ خَمْسَ رَكَعَاتٍ. وَالْعِشَاۤءُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا إِذَا غَابَ الشَّفَقُ الْأَحْمَرُ، وَآخِرُهُ فِي الِاخْتِيَارِ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَفِي الْجَوَازِ إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ الثَّانِيْ. وَالصُّبْحُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا طُلُوْعُ الْفَجْرِ الثَّانِيْ، وَآخِرُهُ فِي الِاخْتِيَارِ إِلَى الْإِسْفَارِ، وَفِي الْجَوَازِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ.

Salat fardu ada lima. (1) Zuhur: awal waktunya tergelincirnya matahari, dan akhirnya apabila bayang-bayang setiap benda telah sama dengan panjangnya, setelah bayang-bayang saat tergelincir1. (2) Asar: awal waktunya ketika bayang-bayang melebihi panjang bendanya, dan akhirnya untuk waktu ikhtiyar (pilihan) sampai bayang-bayang dua kali panjang benda, dan untuk waktu jawaz (boleh) sampai terbenam matahari. (3) Magrib: waktunya hanya satu2, yaitu terbenam matahari dan sekadar cukup untuk azan, berwudhu, menutup aurat, ikamah, dan salat lima rakaat. (4) Isya: awal waktunya apabila mega merah telah hilang, dan akhirnya untuk waktu ikhtiyar sampai sepertiga malam, dan untuk waktu jawaz sampai terbit fajar kedua (fajar shadiq)3. (5) Subuh: awal waktunya terbit fajar kedua, dan akhirnya untuk waktu ikhtiyar sampai cuaca terang, dan untuk waktu jawaz sampai terbit matahari.

فَصْلٌPasal

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَهُوَ حَدُّ التَّكْلِيْفِ. وَالصَّلَوَاتُ الْمَسْنُوْنَةُ خَمْسٌ: الْعِيْدَانِ، وَالْكُسُوْفَانِ، وَالِاسْتِسْقَاۤءُ. وَالسُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَاۤئِضِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً: رَكْعَتَا الْفَجْرِ، وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ، وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَثَلَاثٌ بَعْدَ الْعِشَاۤءِ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ. وَثَلَاثُ نَوَافِلَ مُؤَكَّدَاتٌ: صَلَاةُ اللَّيْلِ، وَصَلَاةُ الضُّحَى، وَصَلَاةُ التَّرَاوِيْحِ.

Syarat wajib salat ada tiga perkara: (1) Islam; (2) baligh4; dan (3) berakal; dan itulah batas taklif (dibebani hukum syariat). Salat-salat sunah ada lima: dua salat hari raya, dua salat gerhana, dan salat istisqa'. Salat sunah yang mengiringi salat fardu ada tujuh belas rakaat: dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur5 dan dua rakaat sesudahnya, empat rakaat sebelum Asar, dua rakaat sesudah Magrib, dan tiga rakaat sesudah Isya yang salah satunya dijadikan witir6. Ada pula tiga salat sunah yang muakkad (sangat ditekankan): salat malam7, salat Duha, dan salat Tarawih.

فَصْلٌPasal

وَشَرَاۤئِطُ الصَّلَاةِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: طَهَارَةُ الْأَعْضَاۤءِ مِنَ الْحَدَثِ وَالنَّجَسِ، وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ بِلِبَاسٍ طَاهِرٍ، وَالْوُقُوْفُ عَلَى مَكَانٍ طَاهِرٍ، وَالْعِلْمُ بِدُخُوْلِ الْوَقْتِ، وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَيَجُوْزُ تَرْكُ الْقِبْلَةِ فِيْ حَالَتَيْنِ: فِيْ شِدَّةِ الْخَوْفِ، وَفِي النَّافِلَةِ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّاحِلَةِ.

Syarat salat sebelum memasukinya ada lima perkara: (1) sucinya anggota badan dari hadas dan najis; (2) menutup aurat dengan pakaian yang suci; (3) berdiri di tempat yang suci; (4) mengetahui masuknya waktu8; dan (5) menghadap kiblat. Boleh tidak menghadap kiblat dalam dua keadaan: dalam keadaan sangat takut (perang), dan dalam salat sunah ketika bepergian di atas kendaraan9.

فَصْلٌPasal

وَأَرْكَانُ الصَّلَاةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ رُكْنًا: النِّيَّةُ، وَالْقِيَامُ مَعَ الْقُدْرَةِ، وَتَكْبِيْرَةُ الْإِحْرَامِ، وَقِرَاۤءَةُ الْفَاتِحَةِ، وَبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ آيَةٌ مِنْهَا، وَالرُّكُوْعُ، وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، وَالرَّفْعُ، وَالِاعْتِدَالُ، وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، وَالسُّجُوْدُ، وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، وَالْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، وَالْجُلُوْسُ الْأَخِيْرُ، وَالتَّشَهُّدُ فِيْهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ، وَالتَّسْلِيْمَةُ الْأُوْلَى، وَنِيَّةُ الْخُرُوْجِ مِنَ الصَّلَاةِ، وَتَرْتِيْبُ الْأَرْكَانِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Rukun salat ada delapan belas10: (1) niat11; (2) berdiri bagi yang mampu; (3) takbiratul ihram; (4) membaca al-Fatihah, dan Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayatnya; (5) rukuk; (6) thuma'ninah (diam sejenak) di dalamnya12; (7) bangkit (dari rukuk) dan i'tidal (berdiri tegak); (8) thuma'ninah di dalamnya; (9) sujud; (10) thuma'ninah di dalamnya; (11) duduk di antara dua sujud; (12) thuma'ninah di dalamnya; (13) duduk terakhir; (14) tasyahud di dalamnya; (15) membaca salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalamnya; (16) salam yang pertama; (17) niat keluar dari salat13; dan (18) tertib rukun-rukun sesuai urutan yang telah kami sebutkan.

وَسُنَنُهَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا شَيْئَانِ: الْأَذَانُ، وَالْإِقَامَةُ. وَبَعْدَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا شَيْئَانِ: التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ، وَالْقُنُوْتُ فِي الصُّبْحِ، وَفِي الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ الثَّانِيْ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ.

Sunah salat sebelum memasukinya ada dua perkara: azan dan ikamah. Sesudah memasukinya ada dua perkara: tasyahud awal, dan qunut14 pada salat Subuh serta pada salat Witir di paruh kedua bulan Ramadan15.

وَهَيْئَاتُهَا خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً: رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ تَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ، وَعِنْدَ الرُّكُوْعِ، وَالرَّفْعِ مِنْهُ، وَوَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ، وَالتَّوَجُّهُ، وَالِاسْتِعَاذَةُ، وَالْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِهِ، وَالْإِسْرَارُ فِيْ مَوْضِعِهِ، وَالتَّأْمِيْنُ، وَقِرَاۤءَةُ سُوْرَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ، وَالتَّكْبِيْرَاتُ عِنْدَ الرَّفْعِ وَالْخَفْضِ، وَقَوْلُ: سَمِعَ اللّٰهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، وَالتَّسْبِيْحُ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ، وَوَضْعُ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخِذَيْنِ فِي الْجُلُوْسِ، يَبْسُطُ الْيُسْرَى وَيَقْبِضُ الْيُمْنَى إِلَّا الْمُسَبِّحَةَ فَإِنَّهُ يُشِيْرُ بِهَا مُتَشَهِّدًا، وَالِافْتِرَاشُ فِيْ جَمِيْعِ الْجَلَسَاتِ، وَالتَّوَرُّكُ فِي الْجَلْسَةِ الْأَخِيْرَةِ، وَالتَّسْلِيْمَةُ الثَّانِيَةُ.

Hai'at salat (sunah-sunah yang tidak diganti dengan sujud sahwi) ada lima belas perkara: mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ketika rukuk, dan ketika bangkit darinya; meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri; membaca doa tawajjuh (iftitah)16; membaca isti'adzah (ta'awudz); mengeraskan bacaan pada tempatnya; memelankan bacaan pada tempatnya; membaca amin; membaca surah sesudah al-Fatihah; bertakbir ketika bangkit dan turun; mengucapkan Sami'allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) dan Rabbana lakal hamd (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji); membaca tasbih ketika rukuk dan sujud; meletakkan kedua tangan di atas kedua paha ketika duduk, dengan membentangkan tangan kiri dan menggenggam tangan kanan kecuali jari telunjuk, karena ia berisyarat dengannya ketika bertasyahud; duduk iftirasy17 pada semua duduk; duduk tawarruk18 pada duduk terakhir; dan salam yang kedua.

فَصْلٌPasal

وَالْمَرْأَةُ تُخَالِفُ الرَّجُلَ فِيْ خَمْسَةِ أَشْيَاۤءَ: فَالرَّجُلُ يُجَافِيْ مِرْفَقَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ، وَيُقِلُّ بَطْنَهُ عَنْ فَخِذَيْهِ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ، وَيَجْهَرُ فِيْ مَوَاضِعِ الْجَهْرِ، وَإِذَا نَابَهُ شَيْءٌ فِي الصَّلَاةِ سَبَّحَ، وَعَوْرَةُ الرَّجُلِ مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ. وَالْمَرْأَةُ تَضُمُّ بَعْضَهَا إِلَى بَعْضٍ، وَتَخْفِضُ صَوْتَهَا بِحَضْرَةِ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ، وَإِذَا نَابَهَا شَيْءٌ فِي الصَّلَاةِ صَفَّقَتْ، وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلَّا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا، وَالْأَمَةُ كَالرَّجُلِ.

Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam lima perkara. Laki-laki merenggangkan kedua sikunya dari kedua lambungnya; mengangkat perutnya dari kedua pahanya ketika rukuk dan sujud; mengeraskan suara pada tempat-tempat yang dikeraskan; apabila terjadi sesuatu (yang perlu diingatkan) dalam salat, ia bertasbih (mengucapkan Subhanallah); dan aurat laki-laki adalah anggota antara pusar dan lututnya. Adapun perempuan merapatkan sebagian anggota tubuhnya dengan sebagian yang lain; memelankan suaranya di hadapan laki-laki ajnabi (bukan mahram); apabila terjadi sesuatu dalam salat, ia bertepuk tangan19; seluruh badan perempuan merdeka adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya; sedangkan budak perempuan seperti laki-laki20.

فَصْلٌPasal

وَالَّذِيْ يُبْطِلُ الصَّلَاةَ أَحَدَ عَشَرَ شَيْئًا: الْكَلَامُ الْعَمْدُ، وَالْعَمَلُ الْكَثِيْرُ، وَالْحَدَثُ، وَحُدُوْثُ النَّجَاسَةِ، وَانْكِشَافُ الْعَوْرَةِ، وَتَغَيُّرُ النِّيَّةِ، وَاسْتِدْبَارُ الْقِبْلَةِ، وَالْأَكْلُ، وَالشُّرْبُ، وَالْقَهْقَهَةُ، وَالرِّدَّةُ.

Perkara yang membatalkan salat ada sebelas: (1) berbicara dengan sengaja; (2) banyak gerakan21; (3) berhadas; (4) terkena najis22; (5) terbukanya aurat; (6) berubahnya niat; (7) membelakangi kiblat; (8) makan; (9) minum; (10) tertawa terbahak-bahak23; dan (11) murtad.

فَصْلٌPasal

وَرَكَعَاتُ الْفَرَاۤئِضِ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً، فِيْهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُوْنَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُوْنَ تَكْبِيْرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيْمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُوْنَ تَسْبِيْحَةً. وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُوْنَ رُكْنًا: فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُوْنَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُوْنَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُوْنَ رُكْنًا. وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيْضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوْسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.

Rakaat salat fardu (sehari semalam) ada tujuh belas rakaat; di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat takbir, sembilan tasyahud, sepuluh salam, dan seratus lima puluh tiga tasbih. Jumlah rukun dalam salat (sehari semalam) ada seratus dua puluh enam: pada salat Subuh tiga puluh rukun, pada salat Magrib empat puluh dua rukun, dan pada salat yang empat rakaat lima puluh empat rukun. Barang siapa tidak mampu berdiri dalam salat fardu, ia salat sambil duduk; dan barang siapa tidak mampu duduk, ia salat sambil berbaring24.

فَصْلٌPasal

وَالْمَتْرُوْكُ مِنَ الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: فَرْضٌ، وَسُنَّةٌ، وَهَيْئَةٌ. فَالْفَرْضُ لَا يَنُوْبُ عَنْهُ سُجُوْدُ السَّهْوِ، بَلْ إِنْ ذَكَرَهُ وَالزَّمَانُ قَرِيْبٌ أَتَى بِهِ وَبَنَى عَلَيْهِ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ. وَالسُّنَّةُ لَا يَعُوْدُ إِلَيْهَا بَعْدَ التَّلَبُّسِ بِالْفَرْضِ، لٰكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا. وَالْهَيْئَةُ لَا يَعُوْدُ إِلَيْهَا بَعْدَ تَرْكِهَا، وَلَا يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا. وَإِذَا شَكَّ فِيْ عَدَدِ مَا أَتَى بِهِ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَنَى عَلَى الْيَقِيْنِ، وَهُوَ الْأَقَلُّ، وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ. وَسُجُوْدُ السَّهْوِ سُنَّةٌ، وَمَحَلُّهُ قَبْلَ السَّلَامِ.

Perkara yang tertinggal dari salat ada tiga: fardu, sunah (ab'adh), dan hai'at. Fardu tidak dapat diganti dengan sujud sahwi; tetapi jika ia teringat padanya dan waktunya masih dekat25, ia mengerjakannya, melanjutkan salatnya, lalu sujud sahwi. Sunah (ab'adh) tidak boleh kembali dikerjakan setelah ia memulai fardu (berikutnya)26, tetapi ia sujud sahwi karena meninggalkannya. Hai'at tidak dikerjakan kembali setelah ditinggalkan, dan tidak pula disujud sahwi karenanya. Apabila ia ragu tentang jumlah rakaat yang telah ia kerjakan, ia berpegang pada yang yakin, yaitu jumlah yang paling sedikit, lalu sujud sahwi. Sujud sahwi hukumnya sunah, dan tempatnya sebelum salam.

فَصْلٌPasal

وَخَمْسَةُ أَوْقَاتٍ لَا يُصَلَّى فِيْهَا إِلَّا صَلَاةٌ لَهَا سَبَبٌ: بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَعِنْدَ طُلُوْعِهَا حَتَّى تَتَكَامَلَ وَتَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ، وَإِذَا اسْتَوَتْ حَتَّى تَزُوْلَ، وَبَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، وَعِنْدَ الْغُرُوْبِ حَتَّى يَتَكَامَلَ غُرُوْبُهَا.

Ada lima waktu yang tidak boleh dikerjakan salat di dalamnya, kecuali salat yang memiliki sebab27: (1) sesudah salat Subuh sampai matahari terbit; (2) ketika matahari terbit sampai sempurna terbitnya dan naik setinggi satu tombak; (3) ketika matahari tepat di tengah langit sampai tergelincir; (4) sesudah salat Asar sampai matahari terbenam; dan (5) ketika matahari terbenam sampai sempurna terbenamnya.

فَصْلٌPasal

وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَعَلَى الْمَأْمُوْمِ أَنْ يَنْوِيَ الِائْتِمَامَ دُوْنَ الْإِمَامِ. وَيَجُوْزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْحُرُّ بِالْعَبْدِ، وَالْبَالِغُ بِالْمُرَاهِقِ، وَلَا تَصِحُّ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ، وَلَا قَارِئٍ بِأُمِّيٍّ. وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيْهِ وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ أَجْزَأَهُ مَا لَمْ يَتَقَدَّمْ عَلَيْهِ. وَإِنْ صَلَّى الْإِمَامُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَأْمُوْمُ خَارِجَ الْمَسْجِدِ قَرِيْبًا مِنْهُ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، وَلَا حَاۤئِلَ هُنَاكَ جَازَ.

Salat berjamaah hukumnya sunah muakkad28. Makmum wajib berniat mengikuti imam, sedangkan imam tidak wajib. Orang merdeka boleh bermakmum kepada budak, dan orang baligh kepada anak yang hampir baligh29. Tidak sah laki-laki bermakmum kepada perempuan, dan tidak sah pula qari' (orang yang baik bacaan al-Fatihahnya) bermakmum kepada ummi (orang yang tidak baik bacaannya). Di tempat mana pun di dalam masjid ia salat mengikuti salat imam yang berada di masjid itu, sedangkan ia mengetahui salat imamnya, maka salatnya mencukupi selama ia tidak berada di depan imam. Jika imam salat di dalam masjid dan makmum di luar masjid dekat dengannya, sedangkan ia mengetahui salat imamnya dan tidak ada penghalang di sana30, maka hukumnya boleh.

فَصْلٌPasal

وَيَجُوْزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ فِيْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ، وَأَنْ تَكُوْنَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ، وَأَنْ يَكُوْنَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ، وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ، وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيْمٍ. وَيَجُوْزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِيْ وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاۤءَ، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاۤءِ فِيْ وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاۤءَ. وَيَجُوْزُ لِلْحَاضِرِ فِي الْمَطَرِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا فِيْ وَقْتِ الْأُوْلَى مِنْهُمَا.

Musafir boleh mengqashar salat yang empat rakaat dengan lima syarat: (1) perjalanannya bukan untuk maksiat; (2) jaraknya enam belas farsakh31, tidak termasuk perjalanan pulang; (3) ia mengerjakan salat empat rakaat itu secara ada' (dalam waktunya)32; (4) berniat qashar bersamaan dengan takbiratul ihram; dan (5) tidak bermakmum kepada orang mukim. Musafir juga boleh menjamak salat Zuhur dengan Asar33 pada waktu salah satunya yang ia kehendaki, dan menjamak Magrib dengan Isya pada waktu salah satunya yang ia kehendaki. Orang yang tidak bepergian boleh menjamak keduanya ketika hujan pada waktu salat yang pertama34.

فَصْلٌPasal

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الْجُمُعَةِ سَبْعَةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالذُّكُوْرِيَّةُ، وَالصِّحَّةُ، وَالِاسْتِيْطَانُ. وَشَرَاۤئِطُ فِعْلِهَا ثَلَاثَةٌ: أَنْ تَكُوْنَ الْبَلَدُ مِصْرًا أَوْ قَرْيَةً، وَأَنْ يَكُوْنَ الْعَدَدُ أَرْبَعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْجُمُعَةِ، وَأَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِيًا، فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ أَوْ عُدِمَتِ الشُّرُوْطُ صُلِّيَتْ ظُهْرًا. وَفَرَاۤئِضُهَا ثَلَاثَةٌ: خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا، وَأَنْ تُصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِيْ جَمَاعَةٍ. وَهَيْئَاتُهَا أَرْبَعُ خِصَالٍ: الْغُسْلُ، وَتَنْظِيْفُ الْجَسَدِ، وَلُبْسُ الثِّيَابِ الْبِيْضِ، وَأَخْذُ الظُّفُرِ، وَالطِّيْبُ. وَيُسْتَحَبُّ الْإِنْصَاتُ فِيْ وَقْتِ الْخُطْبَةِ، وَمَنْ دَخَلَ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ ثُمَّ يَجْلِسُ.

Syarat wajib Jumat ada tujuh perkara: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; (5) laki-laki; (6) sehat; dan (7) bermukim tetap35. Syarat sah mengerjakannya ada tiga: (1) tempatnya berupa kota atau desa; (2) jumlahnya empat puluh orang dari ahli Jumat36; dan (3) waktunya masih ada. Jika waktunya telah habis atau syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka dikerjakan salat Zuhur. Fardunya ada tiga: dua khutbah37 yang imam berdiri pada keduanya dan duduk di antara keduanya, serta dikerjakan dua rakaat secara berjamaah. Hai'atnya ada empat perkara38: (1) mandi dan membersihkan badan; (2) memakai pakaian putih; (3) memotong kuku; dan (4) memakai wangi-wangian. Disunahkan diam mendengarkan ketika khutbah. Barang siapa masuk (masjid) ketika imam sedang berkhutbah, ia salat dua rakaat yang ringan39, kemudian duduk.

فَصْلٌPasal

وَصَلَاةُ الْعِيْدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ: يُكَبِّرُ فِي الْأُوْلَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُوْلَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا. وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيْدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوْضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ.

Salat dua hari raya hukumnya sunah muakkad, yaitu dua rakaat. Pada rakaat pertama ia bertakbir tujuh kali selain takbiratul ihram, dan pada rakaat kedua lima kali selain takbir bangkit (berdiri). Sesudahnya ia berkhutbah dua kali; pada khutbah pertama ia bertakbir sembilan kali, dan pada khutbah kedua tujuh kali. Ia bertakbir sejak terbenam matahari pada malam hari raya sampai imam memulai salat (Id)40. Pada Iduladha (ia juga bertakbir) setiap selesai salat fardu, mulai Subuh hari Arafah sampai Asar hari terakhir dari hari-hari tasyrik41.

فَصْلٌPasal

وَصَلَاةُ الْكُسُوْفِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، فَإِنْ فَاتَتْ لَمْ تُقْضَ. وَيُصَلِّيْ لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ وَخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ، فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ قِيَامَانِ يُطِيْلُ الْقِرَاۤءَةَ فِيْهِمَا، وَرُكُوْعَانِ يُطِيْلُ التَّسْبِيْحَ فِيْهِمَا دُوْنَ السُّجُوْدِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، وَيُسِرُّ فِيْ كُسُوْفِ الشَّمْسِ، وَيَجْهَرُ فِيْ خُسُوْفِ الْقَمَرِ.

Salat gerhana hukumnya sunah muakkad. Jika terlewat, tidak diqadha. Untuk gerhana matahari dan gerhana bulan dikerjakan salat dua rakaat; pada setiap rakaat ada dua kali berdiri42 yang ia panjangkan bacaannya, dan dua kali rukuk yang ia panjangkan tasbihnya, tidak pada sujud. Sesudahnya ia berkhutbah dua kali. Ia memelankan bacaan pada gerhana matahari dan mengeraskannya pada gerhana bulan.

فَصْلٌPasal

وَصَلَاةُ الِاسْتِسْقَاۤءِ مَسْنُوْنَةٌ، فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ بِالتَّوْبَةِ وَالصَّدَقَةِ وَالْخُرُوْجِ مِنَ الْمَظَالِمِ وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاۤءِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ فِيْ ثِيَابِ بِذْلَةٍ وَاسْتِكَانَةٍ وَتَضَرُّعٍ، وَيُصَلِّيْ بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيْدَيْنِ، ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَهُمَا، وَيُحَوِّلُ رِدَاۤءَهُ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاۤءِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَيَدْعُوْ بِدُعَاۤءِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ: «اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا مَحْقٍ، وَلَا بَلَاۤءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ. اَللّٰهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالْآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُوْنِ الْأَوْدِيَةِ. اَللّٰهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا، هَنِيْۤئًا مَرِيْۤئًا، مَرِيْعًا سَحًّا، عَامًّا غَدَقًا، طَبَقًا مُجَلِّلًا، دَاۤئِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ. اَللّٰهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاۤءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاۤءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا». وَيَغْتَسِلُ فِي الْوَادِيْ إِذَا سَالَ، وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ.

Salat istisqa' (minta hujan) hukumnya disunahkan. Imam memerintahkan orang-orang untuk bertobat, bersedekah, keluar dari kezaliman (mengembalikan hak orang lain), berdamai dengan orang yang bermusuhan, dan berpuasa tiga hari. Kemudian pada hari keempat ia keluar bersama mereka dengan pakaian sehari-hari, dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Ia salat bersama mereka dua rakaat seperti salat dua hari raya, kemudian berkhutbah sesudahnya, membalikkan selendangnya43, memperbanyak doa dan istighfar, serta berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini curahan rahmat, dan jangan Engkau jadikan curahan azab, jangan pula pemusnah, bencana, perusak, dan penenggelam. Ya Allah, (turunkanlah) di atas bukit-bukit dan dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan perut lembah-lembah. Ya Allah, (turunkanlah) di sekitar kami, bukan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, yang menyenangkan, yang baik akibatnya, yang menyuburkan, yang lebat, yang merata, yang deras, yang menutupi bumi, yang meliputi, yang terus-menerus sampai hari kiamat. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba dan negeri-negeri ditimpa kesusahan, kelaparan, dan kesempitan yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami, deraskanlah air susu (ternak) untuk kami, turunkanlah kepada kami keberkahan langit, tumbuhkanlah untuk kami keberkahan bumi, dan hilangkanlah dari kami bencana yang tidak dapat dihilangkan oleh selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, maka turunkanlah hujan yang lebat dari langit kepada kami.” Ia mandi di lembah apabila airnya mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.

فَصْلٌPasal

وَصَلَاةُ الْخَوْفِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: أَحَدُهَا: أَنْ يَكُوْنَ الْعَدُوُّ فِيْ غَيْرِ جِهَةِ الْقِبْلَةِ، فَيُفَرِّقُهُمُ الْإِمَامُ فِرْقَتَيْنِ: فِرْقَةٌ تَقِفُ فِيْ وَجْهِ الْعَدُوِّ، وَفِرْقَةٌ خَلْفَهُ، فَيُصَلِّيْ بِالْفِرْقَةِ الَّتِيْ خَلْفَهُ رَكْعَةً، ثُمَّ تُتِمُّ لِنَفْسِهَا وَتَمْضِيْ إِلَى وَجْهِ الْعَدُوِّ، وَتَأْتِي الطَّاۤئِفَةُ الْأُخْرَى فَيُصَلِّيْ بِهَا رَكْعَةً، وَتُتِمُّ لِنَفْسِهَا، وَيُسَلِّمُ بِهَا. وَالثَّانِيْ: أَنْ يَكُوْنَ الْعَدُوُّ فِيْ جِهَةِ الْقِبْلَةِ، فَيَصُفُّهُمُ الْإِمَامُ صَفَّيْنِ وَيُحْرِمُ بِهِمْ، فَإِذَا سَجَدَ سَجَدَ مَعَهُ أَحَدُ الصَّفَّيْنِ، وَوَقَفَ الصَّفُّ الْآخَرُ يَحْرُسُهُمْ، فَإِذَا رَفَعَ سَجَدُوْا وَلَحِقُوْهُ. وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُوْنَ فِيْ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَالْتِحَامِ الْحَرْبِ، فَيُصَلِّيْ كَيْفَ أَمْكَنَهُ رَاجِلًا أَوْ رَاكِبًا، مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَغَيْرَ مُسْتَقْبِلٍ لَهَا.

Salat khauf44 (dalam keadaan takut/perang) ada tiga macam. Pertama: musuh berada di selain arah kiblat. Imam membagi pasukan menjadi dua kelompok: satu kelompok berdiri menghadapi musuh, dan satu kelompok di belakangnya. Ia salat bersama kelompok yang di belakangnya satu rakaat, lalu kelompok itu menyempurnakan salatnya sendiri dan pergi menghadapi musuh. Kemudian kelompok yang lain datang, lalu imam salat bersama mereka satu rakaat, mereka menyempurnakan salatnya sendiri, dan imam salam bersama mereka. Kedua: musuh berada di arah kiblat. Imam membariskan mereka menjadi dua saf dan bertakbiratul ihram bersama mereka. Apabila imam sujud, salah satu saf sujud bersamanya, sedangkan saf yang lain tetap berdiri menjaga mereka; apabila imam bangkit, mereka (saf penjaga) sujud lalu menyusulnya. Ketiga: dalam keadaan sangat takut dan perang berkecamuk. Ia salat sebisanya, sambil berjalan kaki atau berkendaraan, menghadap kiblat ataupun tidak menghadapnya.

فَصْلٌPasal

وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لُبْسُ الْحَرِيْرِ وَالتَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ، وَيَحِلُّ لِلنِّسَاۤءِ، وَقَلِيْلُ الذَّهَبِ وَكَثِيْرُهُ فِي التَّحْرِيْمِ سَوَاۤءٌ. وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرِيْسَمًا وَبَعْضُهُ قُطْنًا أَوْ كَتَّانًا جَازَ لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرِيْسَمُ غَالِبًا.

Haram bagi laki-laki memakai sutra45 dan memakai cincin emas46, sedangkan bagi perempuan halal. Emas yang sedikit dan yang banyak sama saja dalam keharamannya. Apabila sebagian kain terbuat dari sutra dan sebagiannya dari katun atau linen, maka boleh memakainya selama sutranya tidak lebih dominan.

فَصْلٌPasal

وَيَلْزَمُ فِي الْمَيِّتِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: غَسْلُهُ، وَتَكْفِيْنُهُ، وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ، وَدَفْنُهُ. وَاثْنَانِ لَا يُغَسَّلَانِ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا: الشَّهِيْدُ فِيْ مَعْرَكَةِ الْمُشْرِكِيْنَ، وَالسِّقْطُ الَّذِيْ لَمْ يَسْتَهِلَّ صَارِخًا. وَيُغَسَّلُ الْمَيِّتُ وِتْرًا، وَيَكُوْنُ فِيْ أَوَّلِ غَسْلِهِ سِدْرٌ، وَفِيْ آخِرِهِ شَيْءٌ مِنْ كَافُوْرٍ. وَيُكَفَّنُ فِيْ ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيْضٍ لَيْسَ فِيْهَا قَمِيْصٌ وَلَا عِمَامَةٌ.

Wajib dilakukan terhadap mayat empat perkara: (1) memandikannya; (2) mengafaninya; (3) menyalatkannya; dan (4) menguburkannya. Ada dua golongan yang tidak dimandikan dan tidak disalatkan: orang yang mati syahid dalam pertempuran47 melawan kaum musyrik, dan bayi keguguran yang tidak menangis48 (tidak tampak tanda hidup) ketika lahir. Mayat dimandikan dengan bilangan ganjil; pada basuhan pertama dicampur daun bidara, dan pada basuhan terakhir dicampur sedikit kapur barus. Ia dikafani dengan tiga lapis kain putih49, tanpa gamis dan tanpa serban.

وَيُكَبِّرُ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ: يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ بَعْدَ الْأُوْلَى، وَيُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الثَّانِيَةِ، وَيَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ فَيَقُوْلُ: «اَللّٰهُمَّ هٰذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدَيْكَ، خَرَجَ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا، وَمَحْبُوْبُهُ وَأَحِبَّاۤؤُهُ فِيْهَا، إِلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هُوَ لَاقِيْهِ. كَانَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا. اَللّٰهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ، وَأَصْبَحَ فَقِيْرًا إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، وَقَدْ جِئْنَاكَ رَاغِبِيْنَ إِلَيْكَ شُفَعَاۤءَ لَهُ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ إِحْسَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْۤئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَهُ، وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ، وَجَافِ الْأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ، وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ الْأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتَّى تَبْعَثَهُ آمِنًا إِلَى جَنَّتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ». وَيَقُوْلُ بَعْدَ الرَّابِعَةِ: «اَللّٰهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ». وَيُسَلِّمُ بَعْدَ الرَّابِعَةِ.

Ia (yang menyalatkan) bertakbir empat kali atas jenazah. Sesudah takbir pertama ia membaca al-Fatihah; sesudah takbir kedua ia membaca salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; dan sesudah takbir ketiga ia mendoakan mayat dengan mengucapkan: “Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, anak dari dua hamba-Mu50. Ia telah keluar dari kesenangan dan kelapangan dunia — sedangkan orang yang ia cintai dan para kekasihnya ada di dunia — menuju kegelapan kubur dan apa yang akan ia jumpai. Ia dahulu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu, dan Engkau lebih mengetahui tentang dirinya daripada kami. Ya Allah, sesungguhnya ia telah singgah kepada-Mu, dan Engkau adalah sebaik-baik tempat singgah. Ia kini sangat membutuhkan rahmat-Mu, sedangkan Engkau tidak membutuhkan untuk mengazabnya. Kami datang kepada-Mu dengan penuh harap sebagai pemberi syafaat baginya. Ya Allah, jika ia orang yang berbuat baik, tambahkanlah kebaikannya; dan jika ia orang yang berbuat buruk, maafkanlah ia. Dengan rahmat-Mu, sampaikanlah ia kepada keridaan-Mu, lindungilah ia dari fitnah dan azab kubur, lapangkanlah kuburnya, renggangkanlah tanah dari kedua lambungnya, dan dengan rahmat-Mu, berikanlah kepadanya rasa aman dari azab-Mu hingga Engkau membangkitkannya dalam keadaan aman menuju surga-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.” Sesudah takbir keempat ia mengucapkan: “Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, janganlah Engkau timpakan fitnah kepada kami sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.” Ia salam sesudah takbir keempat.

وَيُدْفَنُ فِيْ لَحْدٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، وَيُسَلُّ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ بِرِفْقٍ، وَيَقُوْلُ الَّذِيْ يُلْحِدُهُ: بِسْمِ اللّٰهِ، وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَيُضْجَعُ فِي الْقَبْرِ بَعْدَ أَنْ يُعَمَّقَ قَامَةً وَبَسْطَةً، وَيُسَطَّحُ الْقَبْرُ، وَلَا يُبْنَى عَلَيْهِ، وَلَا يُجَصَّصُ. وَلَا بَأْسَ بِالْبُكَاۤءِ عَلَى الْمَيِّتِ مِنْ غَيْرِ نَوْحٍ وَلَا شَقِّ جَيْبٍ. وَيُعَزَّى أَهْلُهُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ، وَلَا يُدْفَنُ اثْنَانِ فِيْ قَبْرٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ.

Mayat dikuburkan di dalam liang lahad dengan dihadapkan ke kiblat. Ia dimasukkan dari arah kepalanya dengan perlahan, dan orang yang meletakkannya di liang lahad mengucapkan: Bismillah wa 'ala millati Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Dengan nama Allah dan di atas agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ia dibaringkan di dalam kubur setelah kubur itu didalamkan setinggi orang berdiri dengan tangan terangkat51. Kubur diratakan (tidak dibentuk punuk), tidak dibangun di atasnya, dan tidak dikapur52. Tidak mengapa menangisi mayat tanpa meratap dan tanpa merobek baju. Keluarganya ditakziahi sampai tiga hari sejak penguburannya53. Tidak boleh dua mayat dikuburkan dalam satu kubur kecuali karena kebutuhan.

Catatan

1 Bayang-bayang yang tersisa ketika matahari tepat di tengah langit tidak dihitung.

2 Ini menurut qaul jadid. Menurut qaul qadim, yang dipilih oleh Imam an-Nawawi, waktu Magrib terus berlangsung sampai hilangnya mega merah.

3 Fajar shadiq ialah cahaya putih yang membentang melintang di ufuk timur. Sebelumnya terdapat fajar kadzib yang memanjang ke atas lalu disusul kegelapan.

4 Tanda baligh ialah keluar mani (mimpi basah), atau genap berumur lima belas tahun hijriah, atau haid bagi perempuan.

5 Yang muakkad dari salat sunah rawatib ialah sepuluh rakaat: dua sebelum Subuh, dua sebelum dan dua sesudah Zuhur, dua sesudah Magrib, dan dua sesudah Isya.

6 Witir paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat.

7 Yakni salat tahajud, yaitu salat sunah yang dikerjakan setelah tidur pada malam hari.

8 Dengan yakin, atau dengan dugaan kuat melalui ijtihad, seperti dengan melihat jadwal salat yang terpercaya atau mendengar azan muazin yang terpercaya.

9 Musafir boleh salat sunah dengan menghadap ke arah tujuan perjalanannya.

10 Rincian dalam matan berjumlah sembilan belas bila dihitung satu per satu. Bilangan delapan belas sesuai bila bangkit dari rukuk dan i'tidal dihitung satu rukun, karena bangkit itu adalah gerakan menuju i'tidal.

11 Niat salat fardu meliputi: menyengaja salat, menentukan salatnya (seperti Zuhur atau Asar), dan menyebut kefarduannya, bersamaan dengan takbiratul ihram.

12 Thuma'ninah ialah tenangnya anggota badan setelah bergerak, sekurang-kurangnya selama bacaan Subhanallah. Sebagian ulama menghitung thuma'ninah sebagai bagian dari rukun yang disertainya, sehingga jumlah rukun salat dihitung lebih sedikit; perbedaan ini hanya dalam cara menghitung.

13 Menurut pendapat yang paling sahih, niat keluar dari salat tidak wajib, tetapi sunah.

14 Keduanya termasuk sunah ab'adh, yaitu sunah yang bila tertinggal diganti dengan sujud sahwi. Termasuk ab'adh pula duduk untuk tasyahud awal, berdiri untuk qunut, dan salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahud awal.

15 Yakni mulai malam keenam belas Ramadan.

16 Seperti doa Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh … yang dibaca setelah takbiratul ihram sebelum al-Fatihah.

17 Iftirasy ialah duduk di atas mata kaki kiri dengan menegakkan telapak kaki kanan.

18 Tawarruk ialah duduk dengan pantat kiri menempel di lantai, kaki kiri dikeluarkan dari bawah kaki kanan, dan telapak kaki kanan ditegakkan.

19 Dengan memukulkan telapak tangan kanan ke punggung telapak tangan kiri, bukan dengan cara main-main.

20 Yakni dalam batas aurat di dalam salat.

21 Yaitu tiga gerakan atau lebih secara berturut-turut menurut kebiasaan, seperti tiga langkah. Gerakan ringan, seperti menggerakkan jari, tidak membatalkan.

22 Yakni najis yang tidak dimaafkan dan tidak segera disingkirkan. Demikian pula terbukanya aurat yang tidak segera ditutup.

23 Yaitu bila tampak darinya dua huruf atau lebih; demikian pula menangis dan berdeham tanpa uzur.

24 Berbaring miring di atas lambung kanan dengan wajah menghadap kiblat. Jika tidak mampu, ia salat telentang dan berisyarat untuk rukuk dan sujud.

25 Ukurannya kembali kepada kebiasaan. Jika ia ragu atau lupa satu rukun sebelum sampai pada rukun yang sama di rakaat berikutnya, ia kembali mengerjakannya.

26 Contoh: lupa tasyahud awal dan telah berdiri sempurna, maka ia tidak kembali duduk, tetapi meneruskan salatnya dan sujud sahwi sebelum salam.

27 Yakni sebab yang mendahului atau menyertai, seperti salat qadha, tahiyatul masjid, salat jenazah, dan salat gerhana. Di Tanah Haram Mekah salat pada waktu-waktu ini tidak diharamkan, dan demikian pula saat istiwa' pada hari Jumat.

28 Menurut pendapat yang paling sahih menurut an-Nawawi, salat berjamaah untuk salat fardu hukumnya fardu kifayah bagi laki-laki yang mukim.

29 Bahkan sah bermakmum kepada anak kecil yang sudah mumayyiz, tetapi bermakmum kepada orang baligh lebih utama.

30 Disyaratkan pula jarak antara keduanya tidak lebih dari kira-kira tiga ratus hasta (sekitar 140 meter) menurut kebiasaan.

31 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, satu farsakh kira-kira 5,5 km, sehingga jarak qashar kira-kira 88 km.

32 Salat empat rakaat yang tertinggal ketika mukim tidak boleh diqashar. Adapun salat yang tertinggal dalam perjalanan boleh diqashar bila diqadha ketika masih dalam perjalanan.

33 Pada jamak taqdim disyaratkan: mendahulukan salat yang pertama, niat jamak dalam salat pertama, dan berturut-turut. Pada jamak ta'khir disyaratkan niat jamak sebelum habis waktu salat yang pertama.

34 Disyaratkan hujan turun ketika takbiratul ihram kedua salat dan ketika salam salat yang pertama, dan salat itu dikerjakan berjamaah di masjid yang jauh dari rumahnya sehingga ia terganggu oleh hujan.

35 Mustauthin ialah orang yang menetap di suatu tempat dan tidak berpindah darinya, baik musim panas maupun musim hujan, kecuali untuk suatu keperluan.

36 Yakni empat puluh laki-laki, termasuk imam, yang mukallaf, merdeka, dan bermukim tetap.

37 Rukun khutbah ada lima: memuji Allah, salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wasiat takwa (ketiganya pada kedua khutbah), membaca satu ayat pada salah satunya, dan berdoa untuk kaum mukminin pada khutbah kedua.

38 Rincian dalam matan berjumlah lima bila dihitung satu per satu. Bilangan empat sesuai bila mandi dan membersihkan badan dihitung satu, karena keduanya sama-sama bentuk membersihkan diri.

39 Yakni salat tahiyatul masjid.

40 Takbir ini disebut takbir mursal (tidak terikat waktu salat), dibaca di rumah, jalan, masjid, dan pasar. Takbir setelah salat fardu disebut takbir muqayyad.

41 Hari-hari tasyrik ialah tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.

42 Ini cara yang paling sempurna. Salat gerhana juga sah dikerjakan dua rakaat seperti salat sunah biasa.

43 Yakni menjadikan bagian kanan ke kiri dan bagian atas ke bawah, sebagai harapan agar keadaan berubah dari kemarau menjadi subur.

44 Para ulama menyebutkan beberapa cara salat khauf yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; penulis hanya menyebutkan tiga di antaranya.

45 Laki-laki boleh memakai sutra karena darurat, seperti karena penyakit gatal atau untuk keperluan perang.

46 Adapun cincin perak boleh bagi laki-laki, bahkan sunah.

47 Yakni orang yang meninggal karena sebab pertempuran melawan orang kafir. Ia dikafani dengan pakaiannya dan dikuburkan.

48 Jika belum tampak tanda kehidupan tetapi sudah berbentuk manusia, ia dimandikan, dikafani, dan dikuburkan tanpa disalatkan.

49 Ini untuk laki-laki. Bagi perempuan disunahkan lima lapis: kain sarung, baju kurung, kerudung, dan dua lapis kain.

50 Untuk mayat perempuan, kata ganti dalam doa ini disesuaikan, misalnya: Allahumma hadzihi amatuka wabnatu 'abdaik ….

51 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, kira-kira 4,5 hasta atau sekitar 2 meter.

52 Hukumnya makruh. Membangun di atas kubur di pemakaman umum yang diwakafkan hukumnya haram.

53 Setelah tiga hari hukumnya makruh, kecuali bagi orang yang sedang bepergian atau tidak hadir.

كِتَابُ الزَّكَاةِKitab Zakat

تَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْ خَمْسَةِ أَشْيَاۤءَ، وَهِيَ: الْمَوَاشِيْ، وَالْأَثْمَانُ، وَالزُّرُوْعُ، وَالثِّمَارُ، وَعُرُوْضُ التِّجَارَةِ.

Zakat wajib pada lima jenis harta, yaitu: binatang ternak, emas dan perak (atsman), tanaman biji-bijian, buah-buahan, dan barang dagangan.

فَأَمَّا الْمَوَاشِيْ فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْ ثَلَاثَةِ أَجْنَاسٍ مِنْهَا، وَهِيَ: الْإِبِلُ، وَالْبَقَرُ، وَالْغَنَمُ. وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِهَا سِتَّةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالْمِلْكُ التَّامُّ، وَالنِّصَابُ، وَالْحَوْلُ، وَالسَّوْمُ.

Adapun binatang ternak, zakat wajib pada tiga jenisnya, yaitu unta, sapi, dan kambing. Syarat wajibnya ada enam perkara: (1) Islam; (2) merdeka; (3) milik sempurna; (4) mencapai nishab; (5) mencapai haul (genap setahun); dan (6) digembalakan (di padang rumput yang mubah)1.

وَأَمَّا الْأَثْمَانُ فَشَيْئَانِ: الذَّهَبُ، وَالْفِضَّةُ. وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ فِيْهَا خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالْمِلْكُ التَّامُّ، وَالنِّصَابُ، وَالْحَوْلُ.

Adapun atsman (harta berharga) ada dua: emas dan perak. Syarat wajib zakat padanya ada lima perkara: (1) Islam; (2) merdeka; (3) milik sempurna; (4) mencapai nishab; dan (5) mencapai haul.

وَأَمَّا الزُّرُوْعُ فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْهَا بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ مِمَّا يَزْرَعُهُ الْآدَمِيُّوْنَ، وَأَنْ يَكُوْنَ قُوْتًا مُدَّخَرًا، وَأَنْ يَكُوْنَ نِصَابًا، وَهُوَ خَمْسَةُ أَوْسُقٍ لَا قِشْرَ عَلَيْهَا.

Adapun tanaman, zakat wajib padanya dengan tiga syarat: (1) termasuk yang ditanam oleh manusia2; (2) merupakan makanan pokok yang dapat disimpan; dan (3) mencapai nishab, yaitu lima wasaq yang tidak berkulit3.

وَأَمَّا الثِّمَارُ فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْ شَيْئَيْنِ مِنْهَا: ثَمَرَةِ النَّخْلِ، وَثَمَرَةِ الْكَرْمِ. وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ فِيْهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالْمِلْكُ التَّامُّ، وَالنِّصَابُ.

Adapun buah-buahan, zakat wajib pada dua jenisnya: buah kurma dan buah anggur4. Syarat wajib zakat padanya ada empat perkara: (1) Islam; (2) merdeka; (3) milik sempurna; dan (4) mencapai nishab.

وَأَمَّا عُرُوْضُ التِّجَارَةِ فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْهَا بِالشَّرَاۤئِطِ الْمَذْكُوْرَةِ فِي الْأَثْمَانِ.

Adapun barang dagangan, zakat wajib padanya dengan syarat-syarat yang telah disebutkan pada emas dan perak5.

فَصْلٌPasal

وَأَوَّلُ نِصَابِ الْإِبِلِ خَمْسٌ وَفِيْهَا شَاةٌ، وَفِيْ عَشْرٍ شَاتَانِ، وَفِيْ خَمْسَ عَشْرَةَ ثَلَاثُ شِيَاهٍ، وَفِيْ عِشْرِيْنَ أَرْبَعُ شِيَاهٍ، وَفِيْ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ بِنْتُ مَخَاضٍ، وَفِيْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ بِنْتُ لَبُوْنٍ، وَفِيْ سِتٍّ وَأَرْبَعِيْنَ حِقَّةٌ، وَفِيْ إِحْدَى وَسِتِّيْنَ جَذَعَةٌ، وَفِيْ سِتٍّ وَسَبْعِيْنَ بِنْتَا لَبُوْنٍ، وَفِيْ إِحْدَى وَتِسْعِيْنَ حِقَّتَانِ، وَفِيْ مِائَةٍ وَإِحْدَى وَعِشْرِيْنَ ثَلَاثُ بَنَاتِ لَبُوْنٍ، ثُمَّ فِيْ كُلِّ أَرْبَعِيْنَ بِنْتُ لَبُوْنٍ، وَفِيْ كُلِّ خَمْسِيْنَ حِقَّةٌ.

Nishab unta yang pertama adalah lima ekor, zakatnya seekor kambing. Pada sepuluh ekor dua ekor kambing; pada lima belas ekor tiga ekor kambing; pada dua puluh ekor empat ekor kambing; pada dua puluh lima ekor seekor bintu makhadh (unta betina berumur satu tahun); pada tiga puluh enam ekor seekor bintu labun (unta betina berumur dua tahun); pada empat puluh enam ekor seekor hiqqah (unta betina berumur tiga tahun); pada enam puluh satu ekor seekor jadza'ah (unta betina berumur empat tahun); pada tujuh puluh enam ekor dua ekor bintu labun; pada sembilan puluh satu ekor dua ekor hiqqah; dan pada seratus dua puluh satu ekor tiga ekor bintu labun. Kemudian, pada setiap empat puluh ekor seekor bintu labun, dan pada setiap lima puluh ekor seekor hiqqah.

فَصْلٌPasal

وَأَوَّلُ نِصَابِ الْبَقَرِ ثَلَاثُوْنَ وَفِيْهَا تَبِيْعٌ، وَفِيْ أَرْبَعِيْنَ مُسِنَّةٌ، وَعَلَى هٰذَا فَقِسْ.

Nishab sapi yang pertama adalah tiga puluh ekor, zakatnya seekor tabi' (sapi berumur satu tahun). Pada empat puluh ekor seekor musinnah (sapi betina berumur dua tahun). Demikianlah seterusnya, maka qiyaskanlah.

فَصْلٌPasal

وَأَوَّلُ نِصَابِ الْغَنَمِ أَرْبَعُوْنَ وَفِيْهَا شَاةٌ: جَذَعَةٌ مِنَ الضَّأْنِ أَوْ ثَنِيَّةٌ مِنَ الْمَعْزِ، وَفِيْ مِائَةٍ وَإِحْدَى وَعِشْرِيْنَ شَاتَانِ، وَفِيْ مِائَتَيْنِ وَوَاحِدَةٍ ثَلَاثُ شِيَاهٍ، وَفِيْ أَرْبَعِمِائَةٍ أَرْبَعُ شِيَاهٍ، ثُمَّ فِيْ كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ.

Nishab kambing yang pertama adalah empat puluh ekor, zakatnya seekor kambing: jadza'ah dari domba (berumur satu tahun) atau tsaniyyah dari kambing kacang (berumur dua tahun). Pada seratus dua puluh satu ekor dua ekor kambing; pada dua ratus satu ekor tiga ekor kambing; pada empat ratus ekor empat ekor kambing; kemudian pada setiap seratus ekor seekor kambing.

فَصْلٌPasal

وَالْخَلِيْطَانِ يُزَكِّيَانِ زَكَاةَ الْوَاحِدِ بِسَبْعَةِ شَرَاۤئِطَ: إِذَا كَانَ الْمُرَاحُ وَاحِدًا، وَالْمَسْرَحُ وَاحِدًا، وَالْمَرْعَى وَاحِدًا، وَالْفَحْلُ وَاحِدًا، وَالْمَشْرَبُ وَاحِدًا، وَالْحَالِبُ وَاحِدًا، وَمَوْضِعُ الْحَلَبِ وَاحِدًا.

Dua orang yang bercampur6 (dalam kepemilikan ternak) mengeluarkan zakat seperti zakat satu orang dengan tujuh syarat: apabila kandangnya satu, tempat berkumpul sebelum digembalakan satu, padang gembalaannya satu, pejantannya satu, tempat minumnya satu, pemerahnya satu, dan tempat pemerahannya satu.

فَصْلٌPasal

وَنِصَابُ الذَّهَبِ عِشْرُوْنَ مِثْقَالًا، وَفِيْهِ رُبُعُ الْعُشْرِ، وَهُوَ نِصْفُ مِثْقَالٍ، وَفِيْمَا زَادَ بِحِسَابِهِ. وَنِصَابُ الْوَرِقِ مِائَتَا دِرْهَمٍ، وَفِيْهِ رُبُعُ الْعُشْرِ، وَهُوَ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ، وَفِيْمَا زَادَ بِحِسَابِهِ. وَلَا تَجِبُ فِي الْحُلِيِّ الْمُبَاحِ زَكَاةٌ.

Nishab emas adalah dua puluh mitsqal7, dan zakatnya seperempat puluh (2,5%), yaitu setengah mitsqal; dan yang lebih dari itu sesuai hitungannya. Nishab perak adalah dua ratus dirham8, dan zakatnya seperempat puluh, yaitu lima dirham; dan yang lebih dari itu sesuai hitungannya. Tidak wajib zakat pada perhiasan yang mubah (boleh dipakai)9.

فَصْلٌPasal

وَنِصَابُ الزُّرُوْعِ وَالثِّمَارِ خَمْسَةُ أَوْسُقٍ، وَهِيَ أَلْفٌ وَسِتُّمِائَةِ رِطْلٍ بِالْعِرَاقِيِّ، وَفِيْمَا زَادَ بِحِسَابِهِ. وَفِيْهَا إِنْ سُقِيَتْ بِمَاۤءِ السَّمَاۤءِ أَوِ السَّيْحِ الْعُشْرُ، وَإِنْ سُقِيَتْ بِدُوْلَابٍ أَوْ نَضْحٍ نِصْفُ الْعُشْرِ.

Nishab tanaman dan buah-buahan adalah lima wasaq, yaitu seribu enam ratus rithl Irak10; dan yang lebih dari itu sesuai hitungannya. Zakatnya sepersepuluh (10%) jika diairi dengan air hujan atau air yang mengalir, dan seperdua puluh (5%) jika diairi dengan kincir air atau disiram dengan tenaga hewan11.

فَصْلٌPasal

وَتُقَوَّمُ عُرُوْضُ التِّجَارَةِ عِنْدَ آخِرِ الْحَوْلِ بِمَا اشْتُرِيَتْ بِهِ، وَيُخْرَجُ مِنْ ذٰلِكَ رُبُعُ الْعُشْرِ. وَمَا اسْتُخْرِجَ مِنْ مَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ يُخْرَجُ مِنْهُ رُبُعُ الْعُشْرِ فِي الْحَالِ. وَمَا يُوْجَدُ مِنَ الرِّكَازِ فَفِيْهِ الْخُمُسُ.

Barang dagangan dinilai harganya pada akhir haul dengan jenis uang yang dipakai untuk membelinya, lalu dikeluarkan seperempat puluh darinya. Emas dan perak yang dihasilkan dari tambang dikeluarkan seperempat puluh darinya seketika itu juga. Rikaz (harta terpendam zaman jahiliah)12 yang ditemukan zakatnya seperlima.

فَصْلٌPasal

وَتَجِبُ زَكَاةُ الْفِطْرِ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامِ، وَبِغُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَوُجُوْدِ الْفَضْلِ عَنْ قُوْتِهِ وَقُوْتِ عِيَالِهِ فِيْ ذٰلِكَ الْيَوْمِ. وَيُزَكِّيْ عَنْ نَفْسِهِ وَعَمَّنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ صَاعًا مِنْ قُوْتِ بَلَدِهِ، وَقَدْرُهُ خَمْسَةُ أَرْطَالٍ وَثُلُثٌ بِالْعِرَاقِيِّ.

Zakat fitrah wajib dengan tiga perkara: (1) Islam; (2) terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan13; dan (3) adanya kelebihan dari makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya pada hari itu. Ia mengeluarkan zakat untuk dirinya dan untuk orang-orang muslim yang wajib ia nafkahi, masing-masing satu sha'14 dari makanan pokok negerinya, yang ukurannya lima sepertiga rithl Irak.

فَصْلٌPasal

وَتُدْفَعُ الزَّكَاةُ إِلَى الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ الَّذِيْنَ ذَكَرَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ﴾ [التَّوْبَةِ: ٦٠]، وَإِلَى مَنْ يُوْجَدُ مِنْهُمْ، وَلَا يُقْتَصَرُ عَلَى أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ كُلِّ صِنْفٍ إِلَّا الْعَامِلَ. وَخَمْسَةٌ لَا يَجُوْزُ دَفْعُهَا إِلَيْهِمْ: الْغَنِيُّ بِمَالٍ أَوْ كَسْبٍ، وَالْعَبْدُ، وَبَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ، وَالْكَافِرُ، وَمَنْ تَلْزَمُ الْمُزَكِّيَ نَفَقَتُهُ لَا يَدْفَعُهَا إِلَيْهِمْ بِاسْمِ الْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسَاكِيْنِ.

Zakat diserahkan kepada delapan golongan yang disebutkan Allah Ta'ala dalam kitab-Nya yang mulia, dalam firman-Nya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin15, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan) ….” (QS. At-Taubah [9]: 60); (yakni diserahkan) kepada golongan yang ada di antara mereka. Tidak boleh diberikan kepada kurang dari tiga orang dari setiap golongan, kecuali amil. Ada lima golongan yang tidak boleh diberi zakat: (1) orang kaya karena harta atau usaha; (2) budak; (3) Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib16; (4) orang kafir; dan (5) orang yang wajib dinafkahi oleh pemberi zakat — ia tidak boleh memberikan zakat kepada mereka atas nama fakir dan miskin.

Catatan

1 Yakni digembalakan sepanjang tahun. Ternak yang diberi makan di kandang (dicarikan pakan) tidak wajib dizakati.

2 Seperti padi, gandum, jagung, dan kacang-kacangan yang menjadi makanan pokok.

3 Padi yang masih berkulit (gabah) nisabnya sepuluh wasaq.

4 Nisabnya dihitung setelah kering, yakni kurma kering dan kismis.

5 Nisabnya dihitung dengan harga emas atau perak (sesuai mata uang pembeliannya) pada akhir haul, dan zakatnya seperempat puluh (2,5%).

6 Khulthah ialah percampuran ternak milik dua orang atau lebih sehingga dihitung seperti milik satu orang dalam zakat, seperti 40 ekor kambing milik dua orang (masing-masing 20 ekor) yang wajib dizakati seekor kambing.

7 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, kira-kira 85 gram emas murni.

8 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, kira-kira 595 gram perak murni.

9 Seperti perhiasan emas yang dipakai perempuan dalam batas kewajaran. Perhiasan yang haram, seperti cincin emas bagi laki-laki, tetap wajib dizakati.

10 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, kira-kira 653 kg.

11 Dan segala pengairan yang memerlukan biaya, seperti mesin pompa air.

12 Disyaratkan berupa emas atau perak yang mencapai nisab, tetapi tidak disyaratkan haul.

13 Zakat fitrah boleh dikeluarkan sejak awal Ramadan; yang paling utama sebelum salat Id, dan haram menundanya sampai setelah hari raya tanpa uzur.

14 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, satu sha' kira-kira 2,75 kg. Di Indonesia lazim dikeluarkan 2,5–3 kg beras untuk kehati-hatian.

15 Fakir ialah orang yang harta dan usahanya tidak mencukupi sebagian besar kebutuhannya; miskin ialah orang yang harta atau usahanya mencukupi sebagian besar kebutuhannya, tetapi belum mencukupi seluruhnya.

16 Mereka adalah kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diharamkan menerima zakat untuk menjaga kemuliaan mereka.

كِتَابُ الصَّوْمِKitab Puasa

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الصِّيَامِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ. وَفَرَاۤئِضُ الصَّوْمِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: النِّيَّةُ، وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، وَالْجِمَاعِ، وَتَعَمُّدِ الْقَيْءِ.

Syarat wajib puasa ada empat perkara: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; dan (4) mampu berpuasa. Fardu puasa ada empat perkara: (1) niat1; (2) menahan diri dari makan dan minum; (3) dari bersetubuh; dan (4) dari muntah dengan sengaja.

وَالَّذِيْ يُفْطِرُ بِهِ الصَّاۤئِمُ عَشَرَةُ أَشْيَاۤءَ: مَا وَصَلَ عَمْدًا إِلَى الْجَوْفِ أَوِ الرَّأْسِ، وَالْحُقْنَةُ فِيْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ، وَالْقَيْءُ عَمْدًا، وَالْوَطْءُ عَمْدًا فِي الْفَرْجِ، وَالْإِنْزَالُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ، وَالْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْجُنُوْنُ، وَالْإِغْمَاۤءُ كُلَّ الْيَوْمِ، وَالرِّدَّةُ.

Perkara yang membatalkan puasa ada sepuluh: (1) sesuatu yang masuk dengan sengaja ke dalam rongga tubuh atau kepala2; (2) memasukkan obat (suntikan) melalui salah satu dari dua jalan3; (3) muntah dengan sengaja; (4) bersetubuh dengan sengaja pada kemaluan; (5) keluar mani karena bersentuhan kulit4; (6) haid; (7) nifas; (8) gila; (9) pingsan sepanjang hari; dan (10) murtad.

وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: تَعْجِيْلُ الْفِطْرِ، وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ، وَتَرْكُ الْهُجْرِ مِنَ الْكَلَامِ. وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ: الْعِيْدَانِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيْقِ الثَّلَاثَةُ. وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ.

Disunahkan dalam berpuasa tiga perkara: (1) menyegerakan berbuka; (2) mengakhirkan sahur; dan (3) meninggalkan perkataan yang keji. Haram berpuasa pada lima hari: dua hari raya dan tiga hari tasyrik. Makruh berpuasa pada hari syak (keraguan)5, kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan puasanya atau ia menyambungnya dengan hari sebelumnya.

وَمَنْ وَطِئَ فِيْ نَهَارِ رَمَضَانَ عَامِدًا فِي الْفَرْجِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاۤءُ وَالْكَفَّارَةُ، وَهِيَ: عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا لِكُلِّ مِسْكِيْنٍ مُدٌّ. وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ أُطْعِمَ عَنْهُ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ. وَالشَّيْخُ إِذَا عَجَزَ عَنِ الصَّوْمِ يُفْطِرُ وَيُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا. وَالْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إِنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاۤءُ، وَإِنْ خَافَتَا عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاۤءُ وَالْكَفَّارَةُ: عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ، وَهُوَ رِطْلٌ وَثُلُثٌ بِالْعِرَاقِيِّ. وَالْمَرِيْضُ وَالْمُسَافِرُ سَفَرًا طَوِيْلًا يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَانِ.

Barang siapa bersetubuh pada siang hari Ramadan dengan sengaja pada kemaluan, ia wajib mengqadha dan membayar kafarat6, yaitu memerdekakan budak yang mukmin; jika tidak mendapatkannya, berpuasa dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu, memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud7. Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki utang puasa Ramadan, maka diberikan makanan atas namanya8 untuk setiap hari satu mud. Orang tua renta apabila tidak mampu berpuasa, ia boleh berbuka dan memberi makan untuk setiap hari satu mud. Perempuan hamil dan perempuan menyusui, jika khawatir atas diri mereka, boleh berbuka dan wajib mengqadha; dan jika khawatir atas anak-anak mereka, boleh berbuka dan wajib mengqadha serta membayar kafarat, yaitu untuk setiap hari satu mud, yang ukurannya satu sepertiga rithl Irak. Orang sakit dan musafir yang menempuh perjalanan jauh boleh berbuka dan wajib mengqadha.

فَصْلٌPasal

وَالِاعْتِكَافُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ، وَلَهُ شَرْطَانِ: النِّيَّةُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ. وَلَا يَخْرُجُ مِنَ الِاعْتِكَافِ الْمَنْذُوْرِ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ، أَوْ عُذْرٍ مِنْ حَيْضٍ أَوْ مَرَضٍ لَا يُمْكِنُ الْمُقَامُ مَعَهُ، وَيَبْطُلُ بِالْوَطْءِ.

Iktikaf hukumnya sunah yang dianjurkan, dan ia memiliki dua syarat: (1) niat; dan (2) berdiam di masjid9. Orang yang beriktikaf nazar tidak boleh keluar dari iktikafnya kecuali untuk keperluan manusiawi (buang hajat), atau karena uzur berupa haid atau sakit yang tidak memungkinkan tetap berdiam bersamanya. Iktikaf batal karena bersetubuh.

Catatan

1 Niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari (sejak terbenam matahari sampai sebelum fajar) untuk setiap hari, misalnya: "Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardu Ramadan tahun ini karena Allah Ta'ala."

2 Yakni masuknya sesuatu melalui lubang yang terbuka, seperti mulut, hidung, telinga, qubul, dan dubur. Masuk karena lupa tidak membatalkan.

3 Huqnah ialah memasukkan cairan obat melalui dubur atau qubul.

4 Demikian pula keluar mani karena onani. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan.

5 Hari syak ialah tanggal 30 Sya'ban apabila orang ramai membicarakan terlihatnya hilal, tetapi tidak ada yang bersaksi atau yang bersaksi tidak diterima. Pendapat yang mu'tamad, sebagaimana ditarjih an-Nawawi, puasa hari syak hukumnya haram tanpa sebab yang disebutkan.

6 Kafarat ini wajib atas suami saja, bukan atas istri.

7 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, satu mud kira-kira 0,7 kg makanan pokok, seperti beras.

8 Menurut qaul qadim yang dipilih an-Nawawi, walinya (kerabatnya) boleh pula berpuasa atas nama mayat.

9 Lamanya sekurang-kurangnya lebih dari kadar thuma'ninah, dan disunahkan tidak kurang dari sehari.

كِتَابُ الْحَجِّKitab Haji

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الْحَجِّ سَبْعَةُ أَشْيَاۤءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَوُجُوْدُ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ، وَتَخْلِيَةُ الطَّرِيْقِ، وَإِمْكَانُ الْمَسِيْرِ.

Syarat wajib haji ada tujuh perkara: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; (5) adanya bekal dan kendaraan; (6) amannya perjalanan1; dan (7) memungkinkan untuk menempuh perjalanan.

وَأَرْكَانُ الْحَجِّ أَرْبَعَةٌ: الْإِحْرَامُ مَعَ النِّيَّةِ، وَالْوُقُوْفُ بِعَرَفَةَ، وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ. وَأَرْكَانُ الْعُمْرَةِ أَرْبَعَةٌ: الْإِحْرَامُ، وَالطَّوَافُ، وَالسَّعْيُ، وَالْحَلْقُ أَوِ التَّقْصِيْرُ فِيْ أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ.

Rukun haji ada empat: (1) ihram disertai niat2; (2) wukuf di Arafah; (3) tawaf di Baitullah; dan (4) sa'i antara Shafa dan Marwah. Rukun umrah ada empat: (1) ihram; (2) tawaf; (3) sa'i; dan (4) mencukur atau memendekkan rambut, menurut salah satu dari dua pendapat3.

وَوَاجِبَاتُ الْحَجِّ غَيْرُ الْأَرْكَانِ ثَلَاثَةٌ: الْإِحْرَامُ مِنَ الْمِيْقَاتِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ الثَّلَاثِ، وَالْحَلْقُ. وَسُنَنُ الْحَجِّ سَبْعٌ: الْإِفْرَادُ، وَهُوَ تَقْدِيْمُ الْحَجِّ عَلَى الْعُمْرَةِ، وَالتَّلْبِيَةُ، وَطَوَافُ الْقُدُوْمِ، وَالْمَبِيْتُ بِمُزْدَلِفَةَ، وَرَكْعَتَا الطَّوَافِ، وَالْمَبِيْتُ بِمِنًى، وَطَوَافُ الْوَدَاعِ. وَيَتَجَرَّدُ الرَّجُلُ عِنْدَ الْإِحْرَامِ مِنَ الْمَخِيْطِ، وَيَلْبَسُ إِزَارًا وَرِدَاۤءً أَبْيَضَيْنِ.

Wajib haji selain rukun ada tiga4: (1) ihram dari miqat5; (2) melempar tiga jumrah; dan (3) mencukur rambut. Sunah haji ada tujuh: (1) ifrad6, yaitu mendahulukan haji atas umrah; (2) membaca talbiyah; (3) tawaf qudum (kedatangan); (4) mabit di Muzdalifah; (5) salat dua rakaat tawaf; (6) mabit di Mina; dan (7) tawaf wada' (perpisahan). Ketika ihram, laki-laki melepaskan pakaian yang berjahit, dan memakai kain sarung dan selendang yang keduanya berwarna putih.

فَصْلٌPasal

وَيَحْرُمُ عَلَى الْمُحْرِمِ عَشَرَةُ أَشْيَاۤءَ: لُبْسُ الْمَخِيْطِ، وَتَغْطِيَةُ الرَّأْسِ مِنَ الرَّجُلِ وَالْوَجْهِ مِنَ الْمَرْأَةِ، وَتَرْجِيْلُ الشَّعْرِ، وَحَلْقُهُ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَالطِّيْبُ، وَقَتْلُ الصَّيْدِ، وَعَقْدُ النِّكَاحِ، وَالْوَطْءُ، وَالْمُبَاشَرَةُ بِشَهْوَةٍ. وَفِيْ جَمِيْعِ ذٰلِكَ الْفِدْيَةُ إِلَّا عَقْدَ النِّكَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَنْعَقِدُ، وَلَا يُفْسِدُهُ إِلَّا الْوَطْءُ فِي الْفَرْجِ، وَلَا يَخْرُجُ مِنْهُ بِالْفَسَادِ. وَمَنْ فَاتَهُ الْوُقُوْفُ بِعَرَفَةَ تَحَلَّلَ بِعَمَلِ عُمْرَةٍ، وَعَلَيْهِ الْقَضَاۤءُ وَالْهَدْيُ. وَمَنْ تَرَكَ رُكْنًا لَمْ يَحِلَّ مِنْ إِحْرَامِهِ حَتَّى يَأْتِيَ بِهِ، وَمَنْ تَرَكَ وَاجِبًا لَزِمَهُ الدَّمُ، وَمَنْ تَرَكَ سُنَّةً لَمْ يَلْزَمْهُ بِتَرْكِهَا شَيْءٌ.

Haram bagi orang yang berihram sepuluh perkara: (1) memakai pakaian berjahit; (2) menutup kepala bagi laki-laki dan menutup wajah bagi perempuan; (3) menyisir rambut; (4) mencukurnya; (5) memotong kuku; (6) memakai wangi-wangian; (7) membunuh binatang buruan7; (8) melangsungkan akad nikah8; (9) bersetubuh; dan (10) bersentuhan kulit disertai syahwat. Pada semua itu wajib membayar fidyah, kecuali akad nikah, karena akad itu tidak sah. Ihram tidak rusak kecuali karena bersetubuh pada kemaluan, dan ia tidak keluar dari ihram karena rusaknya itu (tetap wajib menyelesaikannya). Barang siapa terlewat wukuf di Arafah, ia bertahallul dengan mengerjakan amalan umrah, dan wajib mengqadha serta menyembelih hadyu9. Barang siapa meninggalkan suatu rukun, ia tidak dapat bertahallul dari ihramnya sampai ia mengerjakannya. Barang siapa meninggalkan suatu wajib, ia wajib membayar dam. Dan barang siapa meninggalkan suatu sunah, tidak ada kewajiban apa pun atasnya karena meninggalkannya.

فَصْلٌPasal

وَالدِّمَاۤءُ الْوَاجِبَةُ فِي الْإِحْرَامِ خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: أَحَدُهَا: الدَّمُ الْوَاجِبُ بِتَرْكِ نُسُكٍ، وَهُوَ عَلَى التَّرْتِيْبِ: شَاةٌ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ عَشَرَةِ أَيَّامٍ: ثَلَاثَةٍ فِي الْحَجِّ، وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ. وَالثَّانِيْ: الدَّمُ الْوَاجِبُ بِالْحَلْقِ وَالتَّرَفُّهِ، وَهُوَ عَلَى التَّخْيِيْرِ: شَاةٌ، أَوْ صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، أَوِ التَّصَدُّقُ بِثَلَاثَةِ آصُعٍ عَلَى سِتَّةِ مَسَاكِيْنَ. وَالثَّالِثُ: الدَّمُ الْوَاجِبُ بِإِحْصَارٍ، فَيَتَحَلَّلُ وَيُهْدِيْ شَاةً. وَالرَّابِعُ: الدَّمُ الْوَاجِبُ بِقَتْلِ الصَّيْدِ، وَهُوَ عَلَى التَّخْيِيْرِ: إِنْ كَانَ الصَّيْدُ مِمَّا لَهُ مِثْلٌ أَخْرَجَ الْمِثْلَ مِنَ النَّعَمِ، أَوْ قَوَّمَهُ وَاشْتَرَى بِقِيْمَتِهِ طَعَامًا وَتَصَدَّقَ بِهِ، أَوْ صَامَ عَنْ كُلِّ مُدٍّ يَوْمًا؛ وَإِنْ كَانَ الصَّيْدُ مِمَّا لَا مِثْلَ لَهُ أَخْرَجَ بِقِيْمَتِهِ طَعَامًا، أَوْ صَامَ عَنْ كُلِّ مُدٍّ يَوْمًا. وَالْخَامِسُ: الدَّمُ الْوَاجِبُ بِالْوَطْءِ، وَهُوَ عَلَى التَّرْتِيْبِ: بَدَنَةٌ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْهَا فَبَقَرَةٌ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْهَا فَسَبْعٌ مِنَ الْغَنَمِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْهَا قَوَّمَ الْبَدَنَةَ وَاشْتَرَى بِقِيْمَتِهَا طَعَامًا وَتَصَدَّقَ بِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ صَامَ عَنْ كُلِّ مُدٍّ يَوْمًا. وَلَا يُجْزِئُهُ الْهَدْيُ وَلَا الْإِطْعَامُ إِلَّا بِالْحَرَمِ، وَيُجْزِئُهُ أَنْ يَصُوْمَ حَيْثُ شَاۤءَ. وَلَا يَجُوْزُ قَتْلُ صَيْدِ الْحَرَمِ وَلَا قَطْعُ شَجَرِهِ، وَالْمُحِلُّ وَالْمُحْرِمُ فِيْ ذٰلِكَ سَوَاۤءٌ.

Dam (denda) yang wajib dalam ihram ada lima macam. Pertama: dam karena meninggalkan suatu manasik, yang dilaksanakan secara tertib (berurutan): seekor kambing; jika tidak mendapatkannya, berpuasa sepuluh hari: tiga hari ketika haji dan tujuh hari apabila telah kembali kepada keluarganya. Kedua: dam karena mencukur rambut dan bersenang-senang (seperti memakai wangi-wangian), yang dilaksanakan secara takhyir (boleh memilih): seekor kambing, atau berpuasa tiga hari, atau bersedekah tiga sha' kepada enam orang miskin. Ketiga: dam karena ihshar (terhalang menyempurnakan ibadah), maka ia bertahallul dan menyembelih seekor kambing sebagai hadyu. Keempat: dam karena membunuh binatang buruan, yang dilaksanakan secara takhyir: jika buruan itu termasuk yang ada padanannya, ia mengeluarkan padanannya dari binatang ternak10; atau menaksir harganya lalu membeli makanan dengan harga itu dan menyedekahkannya; atau berpuasa satu hari untuk setiap satu mud. Jika buruan itu termasuk yang tidak ada padanannya, ia mengeluarkan makanan seharga buruan itu, atau berpuasa satu hari untuk setiap satu mud. Kelima: dam karena bersetubuh, yang dilaksanakan secara tertib: seekor unta; jika tidak mendapatkannya, seekor sapi; jika tidak mendapatkannya, tujuh ekor kambing; jika tidak mendapatkannya, ia menaksir harga unta lalu membeli makanan dengan harga itu dan menyedekahkannya; dan jika tidak mendapatkannya, ia berpuasa satu hari untuk setiap satu mud. Hadyu dan pemberian makanan tidak mencukupi kecuali di Tanah Haram11, sedangkan puasa boleh ia kerjakan di mana saja ia kehendaki. Tidak boleh membunuh binatang buruan Tanah Haram dan tidak boleh menebang pohonnya; orang yang tidak berihram dan orang yang berihram sama saja dalam hal ini.

Catatan

1 Yakni aman atas jiwa, harta, dan kehormatan selama perjalanan.

2 Ihram ialah niat masuk ke dalam ibadah haji atau umrah.

3 Menurut pendapat yang mu'tamad, mencukur atau memendekkan rambut termasuk rukun, baik dalam umrah maupun haji, sekurang-kurangnya tiga helai rambut.

4 Wajib haji ialah amalan yang bila ditinggalkan, hajinya tetap sah tetapi wajib membayar dam. Menurut pendapat yang mu'tamad, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, dan tawaf wada' juga termasuk wajib haji.

5 Miqat ialah batas tempat memulai ihram, seperti Dzulhulaifah bagi orang dari Madinah dan Yalamlam bagi orang dari arah Yaman.

6 Cara lain mengerjakan haji dan umrah ialah tamattu' (umrah dahulu lalu haji) dan qiran (berniat keduanya sekaligus).

7 Yakni binatang darat yang liar dan halal dimakan, seperti rusa dan burung merpati.

8 Baik sebagai suami, istri, wali, maupun wakil.

9 Hadyu ialah hewan ternak yang disembelih di Tanah Haram sebagai denda atau ibadah.

10 Contoh: membunuh burung merpati dibalas dengan seekor kambing, dan membunuh kijang dibalas dengan seekor kambing.

11 Tanah Haram ialah wilayah suci di sekitar Mekah yang batas-batasnya telah ditentukan.

كِتَابُ الْبُيُوْعِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْمُعَامَلَاتِKitab Jual Beli dan Muamalah Lainnya

اَلْبُيُوْعُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاۤءَ: بَيْعُ عَيْنٍ مُشَاهَدَةٍ فَجَاۤئِزٌ، وَبَيْعُ شَيْءٍ مَوْصُوْفٍ فِي الذِّمَّةِ فَجَاۤئِزٌ إِذَا وُجِدَتِ الصِّفَةُ عَلَى مَا وُصِفَ بِهِ، وَبَيْعُ عَيْنٍ غَاۤئِبَةٍ لَمْ تُشَاهَدْ وَلَمْ تُوْصَفْ فَلَا يَجُوْزُ. وَيَصِحُّ بَيْعُ كُلِّ طَاهِرٍ مُنْتَفَعٍ بِهِ مَمْلُوْكٍ، وَلَا يَصِحُّ بَيْعُ عَيْنٍ نَجِسَةٍ، وَلَا مَا لَا مَنْفَعَةَ فِيْهِ.

Jual beli ada tiga macam: (1) jual beli barang yang dapat dilihat, hukumnya boleh; (2) jual beli sesuatu yang disebutkan sifat-sifatnya dalam tanggungan1, hukumnya boleh apabila sifatnya sesuai dengan yang disebutkan; dan (3) jual beli barang gaib yang tidak dilihat dan tidak disebutkan sifatnya, hukumnya tidak boleh. Sah menjual setiap barang yang suci, bermanfaat, dan dimiliki. Tidak sah menjual barang najis2, dan tidak sah pula menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

فَصْلٌPasal

وَالرِّبَا فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْمَطْعُوْمَاتِ. وَلَا يَجُوْزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ، وَلَا الْفِضَّةِ كَذٰلِكَ، إِلَّا مُتَمَاثِلًا نَقْدًا، وَلَا بَيْعُ مَا ابْتَاعَهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ، وَلَا بَيْعُ اللَّحْمِ بِالْحَيَوَانِ. وَيَجُوْزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالْفِضَّةِ مُتَفَاضِلًا نَقْدًا، وَكَذٰلِكَ الْمَطْعُوْمَاتُ: لَا يَجُوْزُ بَيْعُ الْجِنْسِ مِنْهَا بِمِثْلِهِ إِلَّا مُتَمَاثِلًا نَقْدًا، وَيَجُوْزُ بَيْعُ الْجِنْسِ مِنْهَا بِغَيْرِهِ مُتَفَاضِلًا نَقْدًا. وَلَا يَجُوْزُ بَيْعُ الْغَرَرِ.

Riba berlaku pada emas, perak, dan bahan makanan3. Tidak boleh menjual emas dengan emas, demikian pula perak dengan perak, kecuali sama ukurannya dan tunai. Tidak boleh menjual barang yang telah dibeli sebelum diterimanya, dan tidak boleh menjual daging dengan hewan (hidup). Boleh menjual emas dengan perak dengan selisih ukuran asalkan tunai. Demikian pula bahan makanan: tidak boleh menjual satu jenis dengan jenis yang sama kecuali sama ukurannya dan tunai, dan boleh menjual satu jenis dengan jenis lain dengan selisih ukuran asalkan tunai. Tidak boleh jual beli gharar4 (yang mengandung ketidakjelasan dan spekulasi).

فَصْلٌPasal

وَالْمُتَبَايِعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، وَلَهُمَا أَنْ يَشْتَرِطَا الْخِيَارَ إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ. وَإِذَا وُجِدَ بِالْمَبِيْعِ عَيْبٌ فَلِلْمُشْتَرِيْ رَدُّهُ. وَلَا يَجُوْزُ بَيْعُ الثَّمَرَةِ مُطْلَقًا إِلَّا بَعْدَ بُدُوِّ صَلَاحِهَا، وَلَا بَيْعُ مَا فِيْهِ الرِّبَا بِجِنْسِهِ رَطْبًا إِلَّا اللَّبَنَ.

Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar (memilih melanjutkan atau membatalkan) selama keduanya belum berpisah, dan keduanya boleh mensyaratkan khiyar sampai tiga hari. Apabila ditemukan cacat pada barang yang dijual, pembeli berhak mengembalikannya. Tidak boleh menjual buah-buahan secara mutlak (tanpa syarat dipetik) kecuali setelah tampak kelayakannya (matang)5, dan tidak boleh menjual barang ribawi dengan jenisnya dalam keadaan basah, kecuali susu.

فَصْلٌPasal

وَيَصِحُّ السَّلَمُ حَالًّا وَمُؤَجَّلًا فِيْمَا تَكَامَلَ فِيْهِ خَمْسُ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ مَضْبُوْطًا بِالصِّفَةِ، وَأَنْ يَكُوْنَ جِنْسًا لَمْ يَخْتَلِطْ بِهِ غَيْرُهُ، وَلَمْ تَدْخُلْهُ النَّارُ لِإِحَالَتِهِ، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ مُعَيَّنًا، وَلَا مِنْ مُعَيَّنٍ. ثُمَّ لِصِحَّةِ السَّلَمِ فِيْهِ ثَمَانِيَةُ شَرَاۤئِطَ، وَهُوَ: أَنْ يَصِفَهُ بَعْدَ ذِكْرِ جِنْسِهِ وَنَوْعِهِ بِالصِّفَاتِ الَّتِيْ يَخْتَلِفُ بِهَا الثَّمَنُ، وَأَنْ يَذْكُرَ قَدْرَهُ بِمَا يَنْفِي الْجَهَالَةَ عَنْهُ، وَإِنْ كَانَ مُؤَجَّلًا ذَكَرَ وَقْتَ مَحِلِّهِ، وَأَنْ يَكُوْنَ مَوْجُوْدًا عِنْدَ الِاسْتِحْقَاقِ فِي الْغَالِبِ، وَأَنْ يَذْكُرَ مَوْضِعَ قَبْضِهِ، وَأَنْ يَكُوْنَ الثَّمَنُ مَعْلُوْمًا، وَأَنْ يَتَقَابَضَا قَبْلَ التَّفَرُّقِ، وَأَنْ يَكُوْنَ عَقْدُ السَّلَمِ نَاجِزًا لَا يَدْخُلُهُ خِيَارُ الشَّرْطِ.

Akad salam6 (pesanan dengan pembayaran di muka) sah, baik tunai maupun bertempo, pada barang yang memenuhi lima syarat: (1) dapat dipastikan dengan sifat-sifatnya; (2) berupa satu jenis yang tidak bercampur dengan jenis lain; (3) tidak dimasak dengan api untuk mengubahnya; (4) bukan barang tertentu (yang ditunjuk); dan (5) tidak berasal dari barang tertentu. Kemudian, untuk sahnya salam padanya ada delapan syarat: (1) ia menyebutkan sifatnya setelah menyebut jenis dan macamnya dengan sifat-sifat yang memengaruhi perbedaan harga; (2) menyebutkan kadarnya dengan ukuran yang menghilangkan ketidakjelasan; (3) jika bertempo, menyebutkan waktu jatuh temponya; (4) barang itu pada umumnya ada ketika tiba waktu penyerahannya; (5) menyebutkan tempat penyerahannya; (6) harganya diketahui; (7) keduanya saling menerima (harga) sebelum berpisah; dan (8) akad salam itu berlaku seketika, tidak dimasuki khiyar syarat.

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ مَا جَازَ بَيْعُهُ جَازَ رَهْنُهُ فِي الدُّيُوْنِ إِذَا اسْتَقَرَّ ثُبُوْتُهَا فِي الذِّمَّةِ. وَلِلرَّاهِنِ الرُّجُوْعُ فِيْهِ مَا لَمْ يَقْبِضْهُ، وَلَا يَضْمَنُهُ الْمُرْتَهِنُ إِلَّا بِالتَّعَدِّيْ. وَإِذَا قَبَضَ بَعْضَ الْحَقِّ لَمْ يَخْرُجْ شَيْءٌ مِنَ الرَّهْنِ حَتَّى يُقْضَى جَمِيْعُهُ.

Setiap barang yang boleh dijual, boleh pula digadaikan untuk utang-utang apabila utang itu telah tetap dalam tanggungan. Orang yang menggadaikan boleh menarik kembali barang gadai selama penerima gadai belum menerimanya. Penerima gadai tidak menanggung (kerusakan barang gadai) kecuali karena kelalaian yang melampaui batas. Apabila ia telah menerima sebagian haknya, tidak ada sedikit pun dari barang gadai yang terlepas sampai seluruh utangnya dilunasi.

فَصْلٌPasal

وَالْحَجْرُ عَلَى سِتَّةٍ: الصَّبِيِّ، وَالْمَجْنُوْنِ، وَالسَّفِيْهِ الْمُبَذِّرِ لِمَالِهِ، وَالْمُفْلِسِ الَّذِي ارْتَكَبَتْهُ الدُّيُوْنُ، وَالْمَرِيْضِ فِيْمَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ، وَالْعَبْدِ الَّذِيْ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فِي التِّجَارَةِ. وَتَصَرُّفُ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُوْنِ وَالسَّفِيْهِ غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَتَصَرُّفُ الْمُفْلِسِ يَصِحُّ فِيْ ذِمَّتِهِ دُوْنَ أَعْيَانِ مَالِهِ، وَتَصَرُّفُ الْمَرِيْضِ فِيْمَا زَادَ عَلَى الثُّلُثِ مَوْقُوْفٌ عَلَى إِجَازَةِ الْوَرَثَةِ مِنْ بَعْدِهِ، وَتَصَرُّفُ الْعَبْدِ يَكُوْنُ فِيْ ذِمَّتِهِ يُتْبَعُ بِهِ بَعْدَ عِتْقِهِ.

Hajr7 (larangan membelanjakan harta) berlaku atas enam golongan: (1) anak kecil; (2) orang gila; (3) orang safih (bodoh) yang menghambur-hamburkan hartanya; (4) orang muflis (bangkrut) yang terlilit utang; (5) orang sakit (menjelang wafat) pada harta yang melebihi sepertiga; dan (6) budak yang tidak diizinkan berdagang. Tasaruf (transaksi) anak kecil, orang gila, dan orang safih tidak sah. Tasaruf orang muflis sah dalam tanggungannya, tidak pada barang-barang hartanya. Tasaruf orang sakit pada harta yang melebihi sepertiga bergantung pada izin ahli waris sepeninggalnya. Tasaruf budak berlaku dalam tanggungannya, dan ia dituntut karenanya setelah ia merdeka.

فَصْلٌPasal

وَيَصِحُّ الصُّلْحُ مَعَ الْإِقْرَارِ فِي الْأَمْوَالِ وَمَا أَفْضَى إِلَيْهَا، وَهُوَ نَوْعَانِ: إِبْرَاۤءٌ، وَمُعَاوَضَةٌ. فَالْإِبْرَاۤءُ اقْتِصَارُهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى بَعْضِهِ، وَلَا يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ عَلَى شَرْطٍ. وَالْمُعَاوَضَةُ عُدُوْلُهُ عَنْ حَقِّهِ إِلَى غَيْرِهِ، وَيَجْرِيْ عَلَيْهِ حُكْمُ الْبَيْعِ. وَيَجُوْزُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُشْرِعَ رَوْشَنًا فِيْ طَرِيْقٍ نَافِذٍ بِحَيْثُ لَا يَتَضَرَّرُ الْمَارُّ بِهِ، وَلَا يَجُوْزُ فِي الدَّرْبِ الْمُشْتَرَكِ إِلَّا بِإِذْنِ الشُّرَكَاۤءِ. وَيَجُوْزُ تَقْدِيْمُ الْبَابِ فِي الدَّرْبِ الْمُشْتَرَكِ، وَلَا يَجُوْزُ تَأْخِيْرُهُ إِلَّا بِإِذْنِ الشُّرَكَاۤءِ.

Shulh (perdamaian) sah bila disertai pengakuan8, dalam perkara harta dan perkara yang berujung kepada harta. Shulh ada dua macam: ibra' (pembebasan) dan mu'awadhah (penggantian). Ibra' ialah ia mencukupkan diri dengan sebagian haknya, dan tidak boleh digantungkan pada suatu syarat. Mu'awadhah ialah ia beralih dari haknya kepada sesuatu yang lain, dan berlaku padanya hukum jual beli. Seseorang boleh membuat rausyan (bangunan yang menjorok, seperti balkon) di atas jalan umum yang tembus, selama tidak membahayakan orang yang lewat; tetapi tidak boleh di gang bersama (yang buntu) kecuali dengan izin para pemiliknya. Boleh memajukan pintu (ke arah mulut gang) di gang bersama, dan tidak boleh memundurkannya kecuali dengan izin para pemiliknya.

فَصْلٌPasal

وَشَرَاۤئِطُ الْحَوَالَةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: رِضَا الْمُحِيْلِ، وَقَبُوْلُ الْمُحْتَالِ، وَكَوْنُ الْحَقِّ مُسْتَقِرًّا فِي الذِّمَّةِ، وَاتِّفَاقُ مَا فِيْ ذِمَّةِ الْمُحِيْلِ وَالْمُحَالِ عَلَيْهِ فِي الْجِنْسِ وَالنَّوْعِ وَالْحُلُوْلِ وَالتَّأْجِيْلِ. وَتَبْرَأُ بِهَا ذِمَّةُ الْمُحِيْلِ.

Syarat hawalah9 (pemindahan utang) ada empat perkara: (1) rida orang yang memindahkan (muhil); (2) penerimaan orang yang dipindahi hak (muhtal); (3) haknya telah tetap dalam tanggungan; dan (4) kesamaan utang yang ada dalam tanggungan muhil dan muhal 'alaih dalam jenis, macam, jatuh tempo, dan masa tangguhnya. Dengan hawalah, tanggungan muhil menjadi bebas.

فَصْلٌPasal

وَيَصِحُّ ضَمَانُ الدُّيُوْنِ الْمُسْتَقِرَّةِ فِي الذِّمَّةِ إِذَا عُلِمَ قَدْرُهَا. وَلِصَاحِبِ الْحَقِّ مُطَالَبَةُ مَنْ شَاۤءَ مِنَ الضَّامِنِ وَالْمَضْمُوْنِ عَنْهُ إِذَا كَانَ الضَّمَانُ عَلَى مَا بَيَّنَّا. وَإِذَا غَرِمَ الضَّامِنُ رَجَعَ عَلَى الْمَضْمُوْنِ عَنْهُ إِذَا كَانَ الضَّمَانُ وَالْقَضَاۤءُ بِإِذْنِهِ. وَلَا يَصِحُّ ضَمَانُ الْمَجْهُوْلِ، وَلَا مَا لَمْ يَجِبْ إِلَّا دَرَكَ الْمَبِيْعِ.

Dhaman (penjaminan) atas utang-utang yang telah tetap dalam tanggungan hukumnya sah apabila diketahui kadarnya. Pemilik hak boleh menagih siapa saja yang ia kehendaki, baik penjamin maupun orang yang dijamin, apabila penjaminan itu sesuai dengan yang telah kami jelaskan. Apabila penjamin telah membayar, ia boleh menagih kembali kepada orang yang dijamin jika penjaminan dan pembayarannya dengan izinnya. Tidak sah menjamin sesuatu yang tidak diketahui, dan tidak sah pula menjamin sesuatu yang belum wajib, kecuali jaminan darak al-mabi'10 (jaminan atas barang yang dijual bila ternyata milik orang lain).

فَصْلٌPasal

وَالْكَفَالَةُ بِالْبَدَنِ جَاۤئِزَةٌ إِذَا كَانَ عَلَى الْمَكْفُوْلِ بِهِ حَقٌّ لِآدَمِيٍّ.

Kafalah bil-badan (jaminan menghadirkan orang) hukumnya boleh apabila orang yang dijamin memiliki kewajiban berupa hak manusia.

فَصْلٌPasal

وَلِلشَّرِكَةِ خَمْسُ شَرَاۤئِطَ: أَنْ تَكُوْنَ عَلَى نَاضٍّ مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ، وَأَنْ يَتَّفِقَا فِي الْجِنْسِ وَالنَّوْعِ، وَأَنْ يَخْلِطَا الْمَالَيْنِ، وَأَنْ يَأْذَنَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ فِي التَّصَرُّفِ، وَأَنْ يَكُوْنَ الرِّبْحُ وَالْخُسْرَانُ عَلَى قَدْرِ الْمَالَيْنِ. وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَسْخُهَا مَتَى شَاۤءَ، وَمَتَى مَاتَ أَحَدُهُمَا بَطَلَتْ.

Syirkah (perserikatan) memiliki lima syarat: (1) modalnya berupa uang tunai dari dirham dan dinar11; (2) kedua modal sama jenis dan macamnya; (3) keduanya mencampur kedua modal itu; (4) masing-masing mengizinkan rekannya untuk bertasaruf; dan (5) keuntungan dan kerugian sesuai dengan kadar modal masing-masing. Masing-masing dari keduanya boleh membatalkannya kapan saja ia kehendaki, dan apabila salah satunya meninggal dunia, syirkah itu batal.

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ مَا جَازَ لِلْإِنْسَانِ التَّصَرُّفُ فِيْهِ بِنَفْسِهِ جَازَ لَهُ أَنْ يُوَكِّلَ فِيْهِ أَوْ يَتَوَكَّلَ. وَالْوَكَالَةُ عَقْدٌ جَاۤئِزٌ، وَلِكُلٍّ مِنْهُمَا فَسْخُهَا مَتَى شَاۤءَ، وَتَنْفَسِخُ بِمَوْتِ أَحَدِهِمَا. وَالْوَكِيْلُ أَمِيْنٌ فِيْمَا يَقْبِضُهُ وَفِيْمَا يَصْرِفُهُ، وَلَا يَضْمَنُ إِلَّا بِالتَّفْرِيْطِ. وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَبِيْعَ وَيَشْتَرِيَ إِلَّا بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَبِيْعَ بِثَمَنِ الْمِثْلِ، وَأَنْ يَكُوْنَ نَقْدًا، وَأَنْ يَكُوْنَ بِنَقْدِ الْبَلَدِ. وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَبِيْعَ مِنْ نَفْسِهِ، وَلَا يُقِرُّ عَلَى مُوَكِّلِهِ.

Setiap perkara yang boleh dilakukan sendiri oleh seseorang, boleh pula ia mewakilkannya atau menjadi wakil di dalamnya. Wakalah adalah akad yang tidak mengikat12; masing-masing dari keduanya boleh membatalkannya kapan saja ia kehendaki, dan ia batal karena meninggalnya salah satu dari keduanya. Wakil adalah orang yang dipercaya terhadap apa yang ia terima dan apa yang ia belanjakan, dan ia tidak menanggung kecuali karena kelalaian. Wakil tidak boleh menjual dan membeli kecuali dengan tiga syarat: (1) menjual dengan harga yang wajar; (2) secara tunai; dan (3) dengan mata uang negeri setempat. Ia tidak boleh menjual kepada dirinya sendiri, dan tidak boleh membuat pengakuan atas nama orang yang mewakilkannya.

فَصْلٌPasal

وَالْمُقَرُّ بِهِ ضَرْبَانِ: حَقُّ اللّٰهِ تَعَالَى، وَحَقٌّ لِآدَمِيٍّ. فَحَقُّ اللّٰهِ تَعَالَى يَصِحُّ الرُّجُوْعُ فِيْهِ عَنِ الْإِقْرَارِ بِهِ، وَحَقُّ الْآدَمِيِّ لَا يَصِحُّ الرُّجُوْعُ فِيْهِ عَنِ الْإِقْرَارِ بِهِ. وَتَفْتَقِرُ صِحَّةُ الْإِقْرَارِ إِلَى ثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: الْبُلُوْغِ، وَالْعَقْلِ، وَالِاخْتِيَارِ، وَإِنْ كَانَ بِمَالٍ اعْتُبِرَ فِيْهِ شَرْطٌ رَابِعٌ، وَهُوَ الرُّشْدُ. وَإِذَا أَقَرَّ بِمَجْهُوْلٍ رُجِعَ إِلَيْهِ فِيْ بَيَانِهِ. وَيَصِحُّ الِاسْتِثْنَاۤءُ فِي الْإِقْرَارِ إِذَا وَصَلَهُ بِهِ، وَهُوَ فِيْ حَالِ الصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ سَوَاۤءٌ.

Perkara yang diakui (dalam iqrar) ada dua macam: hak Allah Ta'ala dan hak manusia. Hak Allah Ta'ala sah ditarik kembali pengakuannya13, sedangkan hak manusia tidak sah ditarik kembali pengakuannya. Sahnya iqrar (pengakuan) memerlukan tiga syarat: (1) baligh; (2) berakal; dan (3) atas kemauan sendiri. Jika pengakuan itu berkenaan dengan harta, disyaratkan syarat keempat, yaitu rusyd (cakap mengelola harta). Apabila ia mengakui sesuatu yang tidak jelas, penjelasannya dikembalikan kepadanya. Pengecualian dalam iqrar hukumnya sah apabila ia menyambungnya langsung. Iqrar dalam keadaan sehat dan sakit sama saja.

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ مَا يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاۤءِ عَيْنِهِ جَازَتْ إِعَارَتُهُ إِذَا كَانَتْ مَنَافِعُهُ آثَارًا. وَتَجُوْزُ الْعَارِيَّةُ مُطْلَقَةً، وَمُقَيَّدَةً بِمُدَّةٍ، وَهِيَ مَضْمُوْنَةٌ عَلَى الْمُسْتَعِيْرِ بِقِيْمَتِهَا يَوْمَ تَلَفِهَا.

Setiap barang yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuh bendanya boleh dipinjamkan, apabila manfaatnya berupa bekas (bukan benda yang habis). 'Ariyah (pinjam-meminjam)14 boleh secara mutlak dan boleh pula dibatasi dengan waktu tertentu. Peminjam wajib menanggungnya dengan harganya pada hari barang itu rusak.

فَصْلٌPasal

وَمَنْ غَصَبَ مَالًا لِأَحَدٍ لَزِمَهُ رَدُّهُ، وَأَرْشُ نَقْصِهِ، وَأُجْرَةُ مِثْلِهِ. فَإِنْ تَلِفَ ضَمِنَهُ بِمِثْلِهِ إِنْ كَانَ لَهُ مِثْلٌ، أَوْ بِقِيْمَتِهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مِثْلٌ، أَكْثَرَ مَا كَانَتْ مِنْ يَوْمِ الْغَصْبِ إِلَى يَوْمِ التَّلَفِ.

Barang siapa merampas harta milik orang lain, ia wajib mengembalikannya, membayar arsy (ganti rugi) atas kekurangannya, dan membayar upah sewa yang wajar. Jika harta itu rusak, ia wajib menggantinya dengan barang yang sepadan jika ada padanannya, atau dengan harganya jika tidak ada padanannya, yaitu harga tertinggi sejak hari perampasan sampai hari kerusakannya.

فَصْلٌPasal

وَالشُّفْعَةُ وَاجِبَةٌ بِالْخُلْطَةِ دُوْنَ الْجِوَارِ، فِيْمَا يَنْقَسِمُ دُوْنَ مَا لَا يَنْقَسِمُ، وَفِيْ كُلِّ مَا لَا يُنْقَلُ مِنَ الْأَرْضِ كَالْعَقَارِ وَغَيْرِهِ، بِالثَّمَنِ الَّذِيْ وَقَعَ عَلَيْهِ الْبَيْعُ. وَهِيَ عَلَى الْفَوْرِ، فَإِنْ أَخَّرَهَا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا بَطَلَتْ. وَإِذَا تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى شِقْصٍ أَخَذَهُ الشَّفِيْعُ بِمَهْرِ الْمِثْلِ. وَإِذَا كَانَ الشُّفَعَاۤءُ جَمَاعَةً اسْتَحَقُّوْهَا عَلَى قَدْرِ الْأَمْلَاكِ.

Syuf'ah15 (hak membeli bagian sekutu) wajib karena perserikatan (dalam kepemilikan), bukan karena bertetangga; pada barang yang dapat dibagi, bukan pada barang yang tidak dapat dibagi; dan pada setiap tanah yang tidak dapat dipindahkan, seperti tanah dan selainnya; dengan harga yang disepakati dalam jual beli. Syuf'ah harus diambil segera; jika ia menundanya padahal mampu, maka haknya gugur. Apabila seseorang menikahi perempuan dengan mahar berupa bagian (dari tanah perserikatan), syafi' (pemilik hak syuf'ah) mengambilnya dengan mahar mitsil. Apabila para syafi' terdiri atas beberapa orang, mereka berhak atasnya sesuai dengan kadar kepemilikan masing-masing.

فَصْلٌPasal

وَلِلْقِرَاضِ أَرْبَعَةُ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ عَلَى نَاضٍّ مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ، وَأَنْ يَأْذَنَ رَبُّ الْمَالِ لِلْعَامِلِ فِي التَّصَرُّفِ مُطْلَقًا أَوْ فِيْمَا لَا يَنْقَطِعُ وُجُوْدُهُ غَالِبًا، وَأَنْ يَشْرِطَ لَهُ جُزْءًا مَعْلُوْمًا مِنَ الرِّبْحِ، وَأَنْ لَا يُقَدَّرَ بِمُدَّةٍ. وَلَا ضَمَانَ عَلَى الْعَامِلِ إِلَّا بِعُدْوَانٍ. وَإِذَا حَصَلَ رِبْحٌ وَخُسْرَانٌ جُبِرَ الْخُسْرَانُ بِالرِّبْحِ.

Qiradh (mudharabah/bagi hasil)16 memiliki empat syarat: (1) modalnya berupa uang tunai dari dirham dan dinar; (2) pemilik modal mengizinkan pengelola untuk bertasaruf secara mutlak, atau pada barang yang pada umumnya tidak terputus keberadaannya; (3) ia mensyaratkan bagian keuntungan yang jelas bagi pengelola; dan (4) tidak dibatasi dengan jangka waktu. Pengelola tidak menanggung (kerugian) kecuali karena melampaui batas. Apabila terjadi keuntungan dan kerugian, kerugian ditutup dengan keuntungan.

فَصْلٌPasal

وَالْمُسَاقَاةُ جَاۤئِزَةٌ عَلَى النَّخْلِ وَالْكَرْمِ، وَلَهَا شَرْطَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يُقَدِّرَهَا بِمُدَّةٍ مَعْلُوْمَةٍ، وَالثَّانِيْ: أَنْ يُعَيِّنَ لِلْعَامِلِ جُزْءًا مَعْلُوْمًا مِنَ الثَّمَرَةِ. ثُمَّ الْعَمَلُ فِيْهَا عَلَى ضَرْبَيْنِ: عَمَلٌ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَى الثَّمَرَةِ فَهُوَ عَلَى الْعَامِلِ، وَعَمَلٌ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَى الْأَرْضِ فَهُوَ عَلَى رَبِّ الْمَالِ.

Musaqah17 (kerja sama pemeliharaan kebun) boleh dilakukan pada pohon kurma dan anggur. Ia memiliki dua syarat: pertama, membatasinya dengan jangka waktu yang jelas; kedua, menentukan bagian yang jelas dari buahnya untuk pengelola. Kemudian pekerjaan dalam musaqah ada dua macam: pekerjaan yang manfaatnya kembali kepada buah, maka itu tanggungan pengelola; dan pekerjaan yang manfaatnya kembali kepada tanah, maka itu tanggungan pemilik kebun.

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ مَا أَمْكَنَ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاۤءِ عَيْنِهِ صَحَّتْ إِجَارَتُهُ إِذَا قُدِّرَتْ مَنْفَعَتُهُ بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ: بِمُدَّةٍ أَوْ عَمَلٍ. وَإِطْلَاقُهَا يَقْتَضِيْ تَعْجِيْلَ الْأُجْرَةِ إِلَّا أَنْ يُشْتَرَطَ التَّأْجِيْلُ. وَلَا تَبْطُلُ الْإِجَارَةُ بِمَوْتِ أَحَدِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ، وَتَبْطُلُ بِتَلَفِ الْعَيْنِ الْمُسْتَأْجَرَةِ. وَلَا ضَمَانَ عَلَى الْأَجِيْرِ إِلَّا بِعُدْوَانٍ.

Setiap barang yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuh bendanya sah disewakan, apabila manfaatnya ditentukan dengan salah satu dari dua hal: dengan jangka waktu atau dengan pekerjaan. Akad sewa yang mutlak (tanpa syarat) menuntut disegerakannya upah, kecuali jika disyaratkan penangguhan. Ijarah (sewa-menyewa)18 tidak batal karena meninggalnya salah satu dari dua pihak yang berakad, tetapi batal karena rusaknya barang yang disewa. Pekerja yang disewa tidak menanggung (kerusakan) kecuali karena melampaui batas.

فَصْلٌPasal

وَالْجِعَالَةُ جَاۤئِزَةٌ، وَهِيَ أَنْ يَشْتَرِطَ فِيْ رَدِّ ضَالَّتِهِ عِوَضًا مَعْلُوْمًا، فَإِذَا رَدَّهَا رَادٌّ اسْتَحَقَّ ذٰلِكَ الْعِوَضَ الْمَشْرُوْطَ.

Ji'alah (sayembara/upah atas suatu pekerjaan) hukumnya boleh, yaitu seseorang menetapkan imbalan yang jelas bagi siapa yang mengembalikan barangnya yang hilang. Apabila ada orang yang mengembalikannya, ia berhak mendapatkan imbalan yang telah ditetapkan itu.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا دَفَعَ إِلَى رَجُلٍ أَرْضًا لِيَزْرَعَهَا وَشَرَطَ لَهُ جُزْءًا مَعْلُوْمًا مِنْ زَرْعِهَا لَمْ يَجُزْ، وَإِنْ أَكْرَاهُ إِيَّاهَا بِذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، أَوْ شَرَطَ لَهُ طَعَامًا مَعْلُوْمًا فِيْ ذِمَّتِهِ جَازَ.

Apabila seseorang menyerahkan tanah kepada orang lain untuk ditanami dan ia mensyaratkan bagi orang itu bagian yang jelas dari hasil tanamannya, maka hukumnya tidak boleh19. Tetapi jika ia menyewakan tanah itu kepadanya dengan emas atau perak, atau mensyaratkan untuknya sejumlah makanan tertentu dalam tanggungannya, maka hukumnya boleh.

فَصْلٌPasal

وَإِحْيَاۤءُ الْمَوَاتِ جَاۤئِزٌ بِشَرْطَيْنِ: أَنْ يَكُوْنَ الْمُحْيِيْ مُسْلِمًا، وَأَنْ تَكُوْنَ الْأَرْضُ حُرَّةً لَمْ يَجْرِ عَلَيْهَا مِلْكٌ لِمُسْلِمٍ. وَصِفَةُ الْإِحْيَاۤءِ مَا كَانَ فِي الْعَادَةِ عِمَارَةً لِلْمُحْيَا. وَيَجِبُ بَذْلُ الْمَاۤءِ بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَفْضُلَ عَنْ حَاجَتِهِ، وَأَنْ يَحْتَاجَ إِلَيْهِ غَيْرُهُ لِنَفْسِهِ أَوْ لِبَهِيْمَتِهِ، وَأَنْ يَكُوْنَ مِمَّا يُسْتَخْلَفُ فِيْ بِئْرٍ أَوْ عَيْنٍ.

Ihya' al-mawat (menghidupkan tanah mati/tak bertuan) hukumnya boleh dengan dua syarat: (1) orang yang menghidupkannya adalah muslim; dan (2) tanahnya bebas, tidak pernah dimiliki oleh seorang muslim. Cara menghidupkannya ialah apa yang menurut kebiasaan dianggap sebagai pemakmuran bagi tanah yang dihidupkan20 itu. Wajib memberikan air (kepada orang lain) dengan tiga syarat: (1) air itu lebih dari kebutuhannya; (2) orang lain membutuhkannya untuk dirinya atau untuk binatangnya; dan (3) air itu termasuk yang dapat bertambah kembali di dalam sumur atau mata air.

فَصْلٌPasal

وَالْوَقْفُ جَاۤئِزٌ بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ مِمَّا يُنْتَفَعُ بِهِ مَعَ بَقَاۤءِ عَيْنِهِ، وَأَنْ يَكُوْنَ عَلَى أَصْلٍ مَوْجُوْدٍ وَفَرْعٍ لَا يَنْقَطِعُ، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ فِيْ مَحْظُوْرٍ. وَهُوَ عَلَى مَا شَرَطَ الْوَاقِفُ مِنْ تَقْدِيْمٍ، أَوْ تَأْخِيْرٍ، أَوْ تَسْوِيَةٍ، أَوْ تَفْضِيْلٍ.

Wakaf hukumnya boleh dengan tiga syarat: (1) barangnya termasuk yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuh bendanya; (2) diberikan kepada pihak pertama yang ada dan pihak berikutnya yang tidak terputus21; dan (3) tidak untuk sesuatu yang diharamkan. Wakaf berlaku sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh pewakaf, berupa mendahulukan, mengakhirkan, menyamakan, atau melebihkan (sebagian penerima atas yang lain).

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ مَا جَازَ بَيْعُهُ جَازَتْ هِبَتُهُ، وَلَا تَلْزَمُ الْهِبَةُ إِلَّا بِالْقَبْضِ. وَإِذَا قَبَضَهَا الْمَوْهُوْبُ لَهُ لَمْ يَكُنْ لِلْوَاهِبِ أَنْ يَرْجِعَ فِيْهَا إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ وَالِدًا. وَإِذَا أَعْمَرَ شَيْئًا أَوْ أَرْقَبَهُ كَانَ لِلْمُعْمَرِ أَوْ لِلْمُرْقَبِ وَلِوَرَثَتِهِ مِنْ بَعْدِهِ.

Setiap barang yang boleh dijual, boleh pula dihibahkan. Hibah tidak mengikat kecuali setelah diterima (diserahterimakan). Apabila penerima hibah telah menerimanya, pemberi hibah tidak boleh menariknya kembali, kecuali jika ia adalah ayah (orang tua)22. Apabila seseorang memberikan sesuatu secara 'umra atau ruqba23, maka barang itu menjadi milik penerima 'umra atau ruqba dan milik ahli warisnya sepeninggalnya.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا وَجَدَ لُقَطَةً فِيْ مَوَاتٍ أَوْ طَرِيْقٍ فَلَهُ أَخْذُهَا أَوْ تَرْكُهَا، وَأَخْذُهَا أَوْلَى مِنْ تَرْكِهَا إِنْ كَانَ عَلَى ثِقَةٍ مِنَ الْقِيَامِ بِهَا. وَإِذَا أَخَذَهَا وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ سِتَّةَ أَشْيَاۤءَ: وِعَاۤءَهَا، وَعِفَاصَهَا، وَوِكَاۤءَهَا، وَجِنْسَهَا، وَعَدَدَهَا، وَوَزْنَهَا، وَيَحْفَظَهَا فِيْ حِرْزِ مِثْلِهَا. ثُمَّ إِذَا أَرَادَ تَمَلُّكَهَا عَرَّفَهَا سَنَةً عَلَى أَبْوَابِ الْمَسَاجِدِ، وَفِي الْمَوْضِعِ الَّذِيْ وَجَدَهَا فِيْهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا كَانَ لَهُ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا بِشَرْطِ الضَّمَانِ.

Apabila seseorang menemukan luqathah (barang temuan)24 di tanah tak bertuan atau di jalan, ia boleh mengambilnya atau membiarkannya. Mengambilnya lebih utama daripada membiarkannya jika ia yakin mampu memeliharanya. Apabila ia mengambilnya, ia wajib mengenali enam hal: wadahnya, pembungkusnya, tali pengikatnya, jenisnya, jumlahnya, dan beratnya; serta menyimpannya di tempat penyimpanan yang layak bagi barang semacam itu. Kemudian, apabila ia hendak memilikinya, ia mengumumkannya selama satu tahun25 di pintu-pintu masjid dan di tempat ia menemukannya. Jika ia tidak menemukan pemiliknya, ia boleh memilikinya dengan syarat menanggung (menggantinya bila pemiliknya datang).

وَاللُّقَطَةُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ: أَحَدُهَا: مَا يَبْقَى عَلَى الدَّوَامِ، فَهٰذَا حُكْمُهُ. وَالثَّانِيْ: مَا لَا يَبْقَى كَالطَّعَامِ الرَّطْبِ، فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَكْلِهِ وَغُرْمِهِ، أَوْ بَيْعِهِ وَحِفْظِ ثَمَنِهِ. وَالثَّالِثُ: مَا يَبْقَى بِعِلَاجٍ كَالرُّطَبِ، فَيَفْعَلُ مَا فِيْهِ الْمَصْلَحَةُ مِنْ بَيْعِهِ وَحِفْظِ ثَمَنِهِ، أَوْ تَجْفِيْفِهِ وَحِفْظِهِ. وَالرَّابِعُ: مَا يَحْتَاجُ إِلَى نَفَقَةٍ كَالْحَيَوَانِ، وَهُوَ ضَرْبَانِ: حَيَوَانٌ لَا يَمْتَنِعُ بِنَفْسِهِ، فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَكْلِهِ وَغُرْمِ ثَمَنِهِ، أَوْ تَرْكِهِ وَالتَّطَوُّعِ بِالْإِنْفَاقِ عَلَيْهِ، أَوْ بَيْعِهِ وَحِفْظِ ثَمَنِهِ؛ وَحَيَوَانٌ يَمْتَنِعُ بِنَفْسِهِ، فَإِنْ وَجَدَهُ فِي الصَّحْرَاۤءِ تَرَكَهُ، وَإِنْ وَجَدَهُ فِي الْحَضَرِ فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الْأَشْيَاۤءِ الثَّلَاثَةِ فِيْهِ.

Barang temuan ada empat macam. Pertama: barang yang tahan lama, maka inilah hukumnya (sebagaimana disebutkan). Kedua: barang yang tidak tahan lama, seperti makanan basah; ia boleh memilih antara memakannya dan menanggung gantinya, atau menjualnya dan menyimpan harganya. Ketiga: barang yang dapat bertahan dengan diolah, seperti kurma basah; ia melakukan apa yang paling maslahat, berupa menjualnya dan menyimpan harganya, atau mengeringkannya dan menyimpannya. Keempat: barang yang memerlukan nafkah, seperti hewan. Ini ada dua macam: (a) hewan yang tidak dapat mempertahankan dirinya (dari binatang buas kecil), maka ia boleh memilih antara memakannya dan menanggung harganya, atau membiarkannya dan dengan sukarela memberinya nafkah, atau menjualnya dan menyimpan harganya; (b) hewan yang dapat mempertahankan dirinya: jika ia menemukannya di padang pasir, ia membiarkannya; dan jika menemukannya di daerah permukiman, ia boleh memilih di antara tiga hal tersebut padanya.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا وُجِدَ لَقِيْطٌ بِقَارِعَةِ الطَّرِيْقِ فَأَخْذُهُ وَتَرْبِيَتُهُ وَكَفَالَتُهُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْكِفَايَةِ، وَلَا يُقَرُّ إِلَّا فِيْ يَدِ أَمِيْنٍ. فَإِنْ وُجِدَ مَعَهُ مَالٌ أَنْفَقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مَعَهُ مَالٌ فَنَفَقَتُهُ فِيْ بَيْتِ الْمَالِ.

Apabila ditemukan laqith (anak pungut/anak terlantar) di pinggir jalan, maka mengambilnya, mendidiknya, dan mengasuhnya hukumnya fardu kifayah26. Ia tidak dibiarkan kecuali di tangan orang yang amanah. Jika bersamanya ditemukan harta, hakim menafkahinya dari harta itu; dan jika tidak ditemukan harta bersamanya, maka nafkahnya diambil dari baitul mal (kas negara).

فَصْلٌPasal

وَالْوَدِيْعَةُ أَمَانَةٌ، وَيُسْتَحَبُّ قَبُوْلُهَا لِمَنْ قَامَ بِالْأَمَانَةِ فِيْهَا، وَلَا يَضْمَنُ إِلَّا بِالتَّعَدِّيْ. وَقَوْلُ الْمُوْدَعِ مَقْبُوْلٌ فِيْ رَدِّهَا عَلَى الْمُوْدِعِ، وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْفَظَهَا فِيْ حِرْزِ مِثْلِهَا. وَإِذَا طُوْلِبَ بِهَا فَلَمْ يُخْرِجْهَا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا حَتَّى تَلِفَتْ ضَمِنَ.

Wadi'ah (barang titipan) adalah amanah. Disunahkan menerimanya bagi orang yang mampu menunaikan amanah padanya. Orang yang dititipi tidak menanggung (kerusakan) kecuali karena melampaui batas. Perkataan orang yang dititipi dapat diterima tentang pengembaliannya kepada orang yang menitipkan. Ia wajib menyimpannya di tempat penyimpanan yang layak bagi barang semacam itu. Apabila barang titipan itu diminta lalu ia tidak menyerahkannya padahal mampu hingga barang itu rusak, maka ia wajib menanggungnya.

Catatan

1 Inilah yang disebut akad salam, yang dijelaskan dalam pasal tersendiri.

2 Seperti anjing, babi, khamar, dan kotoran hewan.

3 Yakni yang lazim dimakan manusia, seperti beras, gandum, kurma, garam, dan buah-buahan.

4 Seperti menjual burung yang terbang di udara, ikan di dalam air yang luas, atau barang yang tidak jelas keberadaannya.

5 Seperti mulai berwarna atau mulai manis pada buah yang berwarna atau berasa manis.

6 Contoh: membayar sekarang untuk seratus kilogram beras jenis tertentu yang diserahkan tiga bulan lagi.

7 Hajr ialah larangan membelanjakan harta yang ditetapkan oleh syariat atau hakim demi kemaslahatan orang itu sendiri atau orang lain.

8 Adapun perdamaian atas sesuatu yang diingkari oleh tergugat tidak sah.

9 Contoh: A berutang kepada B, dan C berutang kepada A dengan jumlah yang sama; A memindahkan tagihan B kepada C.

10 Contoh: penjamin menjamin pembeli bahwa uangnya akan dikembalikan bila barang yang dibelinya ternyata milik orang lain.

11 Menurut pendapat yang paling sahih, syirkah juga sah dengan barang-barang mitsli (yang ada padanannya), seperti beras dan gandum.

12 Maksudnya akad yang boleh dibatalkan sewaktu-waktu oleh salah satu pihak.

13 Seperti mengaku berzina atau minum khamar lalu menarik kembali pengakuannya; had pun gugur darinya.

14 Peminjam menanggung barang pinjaman bila rusak bukan karena pemakaian yang diizinkan.

15 Contoh: A dan B bersekutu memiliki sebidang tanah, lalu B menjual bagiannya kepada C. A berhak mengambil bagian itu dari C dengan harga yang sama.

16 Yakni pemilik modal menyerahkan uang kepada pengelola untuk diperdagangkan, dan keuntungannya dibagi bersama sesuai kesepakatan.

17 Yakni pemilik kebun menyerahkan pohonnya kepada orang lain untuk dirawat dan disiram dengan imbalan sebagian buahnya.

18 Contoh: menyewa rumah selama satu tahun (dengan jangka waktu), atau mengupah penjahit untuk menjahit satu baju (dengan pekerjaan).

19 Akad ini disebut mukhabarah (bila benihnya dari pekerja) atau muzara'ah (bila benihnya dari pemilik tanah). Sebagian ulama Syafi'iyah, seperti an-Nawawi, memilih pendapat bolehnya muzara'ah.

20 Seperti mendirikan bangunan untuk rumah, atau membuat pematang dan saluran air untuk sawah.

21 Contoh: "Aku wakafkan tanah ini kepada Zaid, kemudian kepada fakir miskin."

22 Termasuk ibu, kakek, dan seterusnya ke atas, yang memberi hibah kepada anak atau cucunya.

23 'Umra: "Aku berikan rumah ini kepadamu seumur hidupmu." Ruqba: "Jika engkau mati lebih dahulu, rumah ini kembali kepadaku; jika aku mati lebih dahulu, ia menjadi milikmu."

24 Barang temuan di Tanah Haram Mekah tidak boleh diambil untuk dimiliki; hanya boleh diambil untuk diumumkan selamanya.

25 Pengumuman dilakukan menurut kebiasaan: sering pada awalnya, lalu semakin jarang. Barang yang sedikit nilainya cukup diumumkan dalam waktu yang menurut dugaan pemiliknya sudah tidak mencarinya lagi.

26 Fardu kifayah ialah kewajiban yang gugur dari semua orang bila sebagian telah menunaikannya.

كِتَابُ الْفَرَاۤئِضِ وَالْوَصَايَاKitab Faraid (Waris) dan Wasiat

اَلْوَارِثُوْنَ مِنَ الرِّجَالِ عَشَرَةٌ: الِابْنُ، وَابْنُ الِابْنِ وَإِنْ سَفَلَ، وَالْأَبُ، وَالْجَدُّ وَإِنْ عَلَا، وَالْأَخُ، وَابْنُ الْأَخِ وَإِنْ تَرَاخَى، وَالْعَمُّ، وَابْنُ الْعَمِّ وَإِنْ تَبَاعَدَا، وَالزَّوْجُ، وَالْمَوْلَى الْمُعْتِقُ.

Ahli waris dari kaum laki-laki ada sepuluh: (1) anak laki-laki; (2) cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah; (3) ayah; (4) kakek dan seterusnya ke atas; (5) saudara laki-laki; (6) anak laki-laki saudara laki-laki dan seterusnya ke bawah; (7) paman (saudara ayah); (8) anak laki-laki paman, sejauh apa pun keduanya; (9) suami; dan (10) tuan yang memerdekakan.

وَالْوَارِثَاتُ مِنَ النِّسَاۤءِ سَبْعٌ: الْبِنْتُ، وَبِنْتُ الِابْنِ، وَالْأُمُّ، وَالْجَدَّةُ، وَالْأُخْتُ، وَالزَّوْجَةُ، وَالْمَوْلَاةُ الْمُعْتِقَةُ.

Ahli waris dari kaum perempuan ada tujuh: (1) anak perempuan; (2) cucu perempuan dari anak laki-laki; (3) ibu; (4) nenek; (5) saudara perempuan; (6) istri; dan (7) tuan perempuan yang memerdekakan.

وَمَنْ لَا يَسْقُطُ بِحَالٍ خَمْسَةٌ: الزَّوْجَانِ، وَالْأَبَوَانِ، وَوَلَدُ الصُّلْبِ. وَمَنْ لَا يَرِثُ بِحَالٍ سَبْعَةٌ: الْعَبْدُ، وَالْمُدَبَّرُ، وَأُمُّ الْوَلَدِ، وَالْمُكَاتَبُ، وَالْقَاتِلُ، وَالْمُرْتَدُّ، وَأَهْلُ مِلَّتَيْنِ.

Ahli waris yang tidak dapat gugur (terhalang) dalam keadaan apa pun ada lima: suami dan istri, ayah dan ibu, serta anak kandung. Orang yang tidak dapat mewarisi dalam keadaan apa pun ada tujuh: (1) budak; (2) budak mudabbar (yang dijanjikan merdeka setelah tuannya wafat); (3) ummul walad (budak perempuan yang melahirkan anak tuannya); (4) budak mukatab (yang mencicil kemerdekaannya); (5) pembunuh; (6) orang murtad; dan (7) pemeluk dua agama yang berbeda1.

وَأَقْرَبُ الْعَصَبَاتِ: الِابْنُ، ثُمَّ ابْنُهُ، ثُمَّ الْأَبُ، ثُمَّ أَبُوْهُ، ثُمَّ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ، ثُمَّ الْأَخُ لِلْأَبِ، ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ، ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ، ثُمَّ الْعَمُّ عَلَى هٰذَا التَّرْتِيْبِ، ثُمَّ ابْنُهُ. فَإِنْ عُدِمَتِ الْعَصَبَاتُ فَالْمَوْلَى الْمُعْتِقُ.

'Ashabah yang paling dekat2 ialah: anak laki-laki, kemudian anaknya (cucu laki-laki), kemudian ayah, kemudian ayahnya (kakek), kemudian saudara laki-laki seayah seibu (sekandung), kemudian saudara laki-laki seayah, kemudian anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, kemudian anak laki-laki saudara laki-laki seayah, kemudian paman menurut urutan ini, kemudian anak laki-lakinya. Jika tidak ada 'ashabah, maka tuan yang memerdekakan.

فَصْلٌPasal

وَالْفُرُوْضُ الْمَذْكُوْرَةُ فِيْ كِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَى سِتَّةٌ: النِّصْفُ، وَالرُّبُعُ، وَالثُّمُنُ، وَالثُّلُثَانِ، وَالثُّلُثُ، وَالسُّدُسُ.

Bagian-bagian tertentu (furudh) yang disebutkan dalam Kitab Allah Ta'ala ada enam: setengah, seperempat, seperdelapan, dua pertiga, sepertiga, dan seperenam.

فَالنِّصْفُ فَرْضُ خَمْسَةٍ: الْبِنْتِ، وَبِنْتِ الِابْنِ، وَالْأُخْتِ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ، وَالْأُخْتِ مِنَ الْأَبِ، وَالزَّوْجِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ وَلَدٌ.

Setengah adalah bagian lima orang: (1) anak perempuan; (2) cucu perempuan dari anak laki-laki; (3) saudara perempuan sekandung; (4) saudara perempuan seayah; dan (5) suami apabila tidak ada anak bersamanya.

وَالرُّبُعُ فَرْضُ اثْنَيْنِ: الزَّوْجِ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ وَلَدِ الِابْنِ، وَهُوَ فَرْضُ الزَّوْجَةِ وَالزَّوْجَاتِ مَعَ عَدَمِ الْوَلَدِ أَوْ وَلَدِ الِابْنِ.

Seperempat adalah bagian dua orang: suami bila ada anak atau cucu dari anak laki-laki; dan ia adalah bagian istri, seorang atau lebih, bila tidak ada anak atau cucu dari anak laki-laki.

وَالثُّمُنُ فَرْضُ الزَّوْجَةِ وَالزَّوْجَاتِ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ وَلَدِ الِابْنِ.

Seperdelapan adalah bagian istri, seorang atau lebih, bila ada anak atau cucu dari anak laki-laki.

وَالثُّلُثَانِ فَرْضُ أَرْبَعَةٍ: الْبِنْتَيْنِ، وَبِنْتَيِ الِابْنِ، وَالْأُخْتَيْنِ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ، وَالْأُخْتَيْنِ مِنَ الْأَبِ.

Dua pertiga adalah bagian empat golongan: (1) dua anak perempuan; (2) dua cucu perempuan dari anak laki-laki; (3) dua saudara perempuan sekandung; dan (4) dua saudara perempuan seayah.

وَالثُّلُثُ فَرْضُ اثْنَيْنِ: الْأُمِّ إِذَا لَمْ تُحْجَبْ، وَهُوَ لِلِاثْنَيْنِ فَصَاعِدًا مِنَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ مِنْ وَلَدِ الْأُمِّ.

Sepertiga adalah bagian dua golongan: ibu apabila tidak terhalang; dan ia adalah bagian dua orang atau lebih dari saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu.

وَالسُّدُسُ فَرْضُ سَبْعَةٍ: الْأُمِّ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ وَلَدِ الِابْنِ أَوِ اثْنَيْنِ فَصَاعِدًا مِنَ الْإِخْوَةِ وَالْأَخَوَاتِ، وَهُوَ لِلْجَدَّةِ عِنْدَ عَدَمِ الْأُمِّ، وَلِبِنْتِ الِابْنِ مَعَ بِنْتِ الصُّلْبِ، وَهُوَ لِلْأُخْتِ مِنَ الْأَبِ مَعَ الْأُخْتِ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ، وَهُوَ فَرْضُ الْأَبِ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ وَلَدِ الِابْنِ، وَفَرْضُ الْجَدِّ عِنْدَ عَدَمِ الْأَبِ، وَهُوَ فَرْضُ الْوَاحِدِ مِنْ وَلَدِ الْأُمِّ.

Seperenam adalah bagian tujuh golongan: (1) ibu bila ada anak, atau cucu dari anak laki-laki, atau dua orang atau lebih dari saudara laki-laki dan perempuan; (2) nenek bila tidak ada ibu; (3) cucu perempuan dari anak laki-laki bersama anak perempuan kandung; (4) saudara perempuan seayah bersama saudara perempuan sekandung; (5) ayah bila ada anak atau cucu dari anak laki-laki; (6) kakek bila tidak ada ayah; dan (7) seorang saudara seibu.

وَتَسْقُطُ الْجَدَّاتُ بِالْأُمِّ، وَالْأَجْدَادُ بِالْأَبِ. وَيَسْقُطُ وَلَدُ الْأُمِّ مَعَ أَرْبَعَةٍ: الْوَلَدِ، وَوَلَدِ الِابْنِ، وَالْأَبِ، وَالْجَدِّ. وَيَسْقُطُ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ مَعَ ثَلَاثَةٍ: الِابْنِ، وَابْنِ الِابْنِ، وَالْأَبِ. وَيَسْقُطُ وَلَدُ الْأَبِ بِهٰؤُلَاۤءِ الثَّلَاثَةِ، وَبِالْأَخِ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ.

Para nenek terhalang (gugur) oleh ibu3, dan para kakek oleh ayah. Saudara seibu terhalang oleh empat orang: anak, cucu dari anak laki-laki, ayah, dan kakek. Saudara laki-laki sekandung terhalang oleh tiga orang: anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, dan ayah. Saudara seayah terhalang oleh tiga orang tersebut dan oleh saudara laki-laki sekandung.

وَأَرْبَعَةٌ يُعَصِّبُوْنَ أَخَوَاتِهِمْ: الِابْنُ، وَابْنُ الِابْنِ، وَالْأَخُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ، وَالْأَخُ مِنَ الْأَبِ. وَأَرْبَعَةٌ يَرِثُوْنَ دُوْنَ أَخَوَاتِهِمْ، وَهُمُ الْأَعْمَامُ، وَبَنُو الْأَعْمَامِ، وَبَنُو الْأَخِ، وَعَصَبَاتُ الْمَوْلَى الْمُعْتِقِ.

Ada empat orang yang menjadikan saudara perempuan mereka sebagai 'ashabah: anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, dan saudara laki-laki seayah. Dan ada empat orang yang mewarisi tanpa saudara perempuan mereka, yaitu: para paman, anak-anak laki-laki paman, anak-anak laki-laki saudara laki-laki, dan 'ashabah tuan yang memerdekakan.

فَصْلٌPasal

وَتَجُوْزُ الْوَصِيَّةُ بِالْمَعْلُوْمِ وَالْمَجْهُوْلِ، وَالْمَوْجُوْدِ وَالْمَعْدُوْمِ، وَهِيَ مِنَ الثُّلُثِ، فَإِنْ زَادَ وُقِفَ عَلَى إِجَازَةِ الْوَرَثَةِ. وَلَا تَجُوْزُ الْوَصِيَّةُ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يُجِيْزَهَا بَاقِي الْوَرَثَةِ. وَتَصِحُّ الْوَصِيَّةُ مِنْ كُلِّ بَالِغٍ عَاقِلٍ لِكُلِّ مُتَمَلِّكٍ، وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ تَعَالَى. وَتَصِحُّ الْوَصِيَّةُ إِلَى مَنِ اجْتَمَعَتْ فِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالْأَمَانَةُ.

Wasiat boleh dengan sesuatu yang diketahui maupun yang tidak diketahui, yang ada maupun yang belum ada. Wasiat diambil dari sepertiga harta4; jika lebih dari itu, maka bergantung pada izin ahli waris. Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris kecuali jika diizinkan oleh ahli waris yang lain. Wasiat sah dari setiap orang yang baligh dan berakal, kepada setiap orang yang dapat memiliki, dan untuk jalan Allah Ta'ala. Sah menyerahkan wasiat (mengangkat penerima wasiat/washi) kepada orang yang padanya terkumpul lima sifat: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; dan (5) amanah.

Catatan

1 Orang Islam tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang Islam.

2 'Ashabah ialah ahli waris yang mengambil seluruh harta bila sendirian, atau sisa harta setelah bagian ahli waris yang memiliki bagian tertentu (ashhabul furudh).

3 Yakni nenek dari pihak mana pun gugur oleh ibu; nenek dari pihak ayah juga gugur oleh ayah.

4 Dihitung setelah dikurangi biaya pengurusan jenazah dan pelunasan utang.

كِتَابُ النِّكَاحِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ وَالْقَضَايَاKitab Nikah dan Hukum-hukum Terkait

اَلنِّكَاحُ مُسْتَحَبٌّ لِمَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ. وَيَجُوْزُ لِلْحُرِّ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ أَرْبَعِ حَرَاۤئِرَ، وَلِلْعَبْدِ بَيْنَ اثْنَتَيْنِ. وَلَا يَنْكِحُ الْحُرُّ أَمَةً إِلَّا بِشَرْطَيْنِ: عَدَمِ صَدَاقِ الْحُرَّةِ، وَخَوْفِ الْعَنَتِ.

Nikah disunahkan bagi orang yang membutuhkannya1. Laki-laki merdeka boleh menghimpun empat orang istri yang merdeka, dan budak laki-laki boleh menghimpun dua orang istri. Laki-laki merdeka tidak boleh menikahi budak perempuan kecuali dengan dua syarat: tidak mampu membayar mahar perempuan merdeka, dan khawatir terjerumus ke dalam zina.

وَنَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى الْمَرْأَةِ عَلَى سَبْعَةِ أَضْرُبٍ: أَحَدُهَا: نَظَرُهُ إِلَى أَجْنَبِيَّةٍ لِغَيْرِ حَاجَةٍ، فَغَيْرُ جَاۤئِزٍ. وَالثَّانِيْ: نَظَرُهُ إِلَى زَوْجَتِهِ أَوْ أَمَتِهِ، فَيَجُوْزُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا عَدَا الْفَرْجَ مِنْهُمَا. وَالثَّالِثُ: نَظَرُهُ إِلَى ذَوَاتِ مَحَارِمِهِ أَوْ أَمَتِهِ الْمُزَوَّجَةِ، فَيَجُوْزُ فِيْمَا عَدَا مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. وَالرَّابِعُ: النَّظَرُ لِأَجْلِ النِّكَاحِ، فَيَجُوْزُ إِلَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ. وَالْخَامِسُ: النَّظَرُ لِلْمُدَاوَاةِ، فَيَجُوْزُ إِلَى الْمَوَاضِعِ الَّتِيْ يَحْتَاجُ إِلَيْهَا. وَالسَّادِسُ: النَّظَرُ لِلشَّهَادَةِ أَوْ لِلْمُعَامَلَةِ، فَيَجُوْزُ إِلَى الْوَجْهِ خَاصَّةً. وَالسَّابِعُ: النَّظَرُ إِلَى الْأَمَةِ عِنْدَ ابْتِيَاعِهَا، فَيَجُوْزُ إِلَى الْمَوَاضِعِ الَّتِيْ يَحْتَاجُ إِلَى تَقْلِيْبِهَا.

Pandangan laki-laki kepada perempuan ada tujuh macam. Pertama: memandang perempuan ajnabiyah (bukan mahram) tanpa kebutuhan, hukumnya tidak boleh. Kedua: memandang istrinya atau budak perempuannya, maka ia boleh memandang seluruh anggota tubuh keduanya selain kemaluan. Ketiga: memandang perempuan-perempuan mahramnya atau budak perempuannya yang telah dinikahkan, maka boleh pada selain anggota antara pusar dan lutut. Keempat: memandang untuk keperluan meminang2, maka boleh memandang wajah dan kedua telapak tangan. Kelima: memandang untuk pengobatan, maka boleh memandang bagian-bagian yang diperlukan. Keenam: memandang untuk persaksian atau untuk muamalah, maka boleh memandang wajah saja. Ketujuh: memandang budak perempuan ketika hendak membelinya, maka boleh memandang bagian-bagian yang perlu diperiksa.

فَصْلٌPasal

وَلَا يَصِحُّ عَقْدُ النِّكَاحِ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ. وَيَفْتَقِرُ الْوَلِيُّ وَالشَّاهِدَانِ إِلَى سِتَّةِ شَرَاۤئِطَ: الْإِسْلَامِ، وَالْبُلُوْغِ، وَالْعَقْلِ، وَالْحُرِّيَّةِ، وَالذُّكُوْرَةِ، وَالْعَدَالَةِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَفْتَقِرُ نِكَاحُ الذِّمِّيَّةِ إِلَى إِسْلَامِ الْوَلِيِّ، وَلَا نِكَاحُ الْأَمَةِ إِلَى عَدَالَةِ السَّيِّدِ.

Akad nikah tidak sah kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil. Wali dan dua saksi memerlukan enam syarat: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; (5) laki-laki; dan (6) adil3. Hanya saja, nikah perempuan dzimmiyah (kafir yang dilindungi) tidak mensyaratkan walinya beragama Islam, dan nikah budak perempuan tidak mensyaratkan tuannya bersifat adil.

وَأَوْلَى الْوُلَاةِ: الْأَبُ، ثُمَّ الْجَدُّ أَبُو الْأَبِ، ثُمَّ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ، ثُمَّ الْأَخُ لِلْأَبِ، ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ، ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ، ثُمَّ الْعَمُّ، ثُمَّ ابْنُهُ عَلَى هٰذَا التَّرْتِيْبِ. فَإِذَا عُدِمَتِ الْعَصَبَاتُ فَالْمَوْلَى الْمُعْتِقُ، ثُمَّ عَصَبَاتُهُ، ثُمَّ الْحَاكِمُ.

Wali yang paling berhak ialah: ayah, kemudian kakek (ayahnya ayah), kemudian saudara laki-laki sekandung, kemudian saudara laki-laki seayah, kemudian anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, kemudian anak laki-laki saudara laki-laki seayah, kemudian paman, kemudian anak laki-lakinya, menurut urutan ini. Apabila tidak ada 'ashabah, maka tuan yang memerdekakan, kemudian 'ashabahnya, kemudian hakim.

وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يُصَرِّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوْزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاۤءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاۤءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ. فَالْبِكْرُ يَجُوْزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوْزُ تَزْوِيْجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوْغِهَا وَإِذْنِهَا.

Tidak boleh meminang secara terang-terangan perempuan yang sedang menjalani iddah, tetapi boleh meminangnya dengan sindiran (bila iddahnya karena wafat atau talak ba'in), dan menikahinya setelah habis iddahnya. Perempuan ada dua macam: janda dan gadis. Gadis boleh dipaksa menikah oleh ayah dan kakeknya4, sedangkan janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan dengan izinnya.

فَصْلٌPasal

وَالْمُحَرَّمَاتُ بِالنَّصِّ أَرْبَعَ عَشْرَةَ: سَبْعٌ بِالنَّسَبِ، وَهُنَّ: الْأُمُّ وَإِنْ عَلَتْ، وَالْبِنْتُ وَإِنْ سَفَلَتْ، وَالْأُخْتُ، وَالْخَالَةُ، وَالْعَمَّةُ، وَبِنْتُ الْأَخِ، وَبِنْتُ الْأُخْتِ. وَاثْنَتَانِ بِالرَّضَاعِ: الْأُمُّ الْمُرْضِعَةُ، وَالْأُخْتُ مِنَ الرَّضَاعِ. وَأَرْبَعٌ بِالْمُصَاهَرَةِ: أُمُّ الزَّوْجَةِ، وَالرَّبِيْبَةُ إِذَا دَخَلَ بِالْأُمِّ، وَزَوْجَةُ الْأَبِ، وَزَوْجَةُ الِابْنِ. وَوَاحِدَةٌ مِنْ جِهَةِ الْجَمْعِ، وَهِيَ أُخْتُ الزَّوْجَةِ. وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا. وَيَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ.

Perempuan yang haram dinikahi berdasarkan nash ada empat belas. Tujuh karena nasab, yaitu: (1) ibu dan seterusnya ke atas; (2) anak perempuan dan seterusnya ke bawah; (3) saudara perempuan; (4) bibi dari pihak ibu; (5) bibi dari pihak ayah; (6) anak perempuan saudara laki-laki; dan (7) anak perempuan saudara perempuan. Dua karena persusuan: (1) ibu yang menyusui; dan (2) saudara perempuan sepersusuan. Empat karena perkawinan: (1) ibu istri (mertua); (2) anak tiri perempuan apabila ia telah menggauli ibunya; (3) istri ayah (ibu tiri); dan (4) istri anak (menantu). Satu karena penghimpunan, yaitu saudara perempuan istri. Tidak boleh pula menghimpun (dalam pernikahan) antara seorang perempuan dan bibinya dari pihak ayah, dan tidak pula antara seorang perempuan dan bibinya dari pihak ibu. Haram karena persusuan apa yang haram karena nasab5.

وَتُرَدُّ الْمَرْأَةُ بِخَمْسَةِ عُيُوْبٍ: بِالْجُنُوْنِ، وَالْجُذَامِ، وَالْبَرَصِ، وَالرَّتَقِ، وَالْقَرَنِ. وَيُرَدُّ الرَّجُلُ بِخَمْسَةِ عُيُوْبٍ: بِالْجُنُوْنِ، وَالْجُذَامِ، وَالْبَرَصِ، وَالْجَبِّ، وَالْعُنَّةِ.

Perempuan dapat dikembalikan (nikahnya difasakh) karena lima cacat: (1) gila; (2) kusta; (3) belang (lepra); (4) ratq (kemaluan tersumbat daging); dan (5) qarn (kemaluan tersumbat tulang). Laki-laki dapat dikembalikan karena lima cacat: (1) gila; (2) kusta; (3) belang; (4) jabb (zakarnya terpotong); dan (5) 'unnah (impoten).

فَصْلٌPasal

وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَةُ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ، فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ صَحَّ الْعَقْدُ، وَوَجَبَ الْمَهْرُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاۤءَ: أَنْ يَفْرِضَهُ الزَّوْجُ عَلَى نَفْسِهِ، أَوْ يَفْرِضَهُ الْحَاكِمُ، أَوْ يَدْخُلَ بِهَا فَيَجِبُ مَهْرُ الْمِثْلِ. وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ وَلَا لِأَكْثَرِهِ حَدٌّ. وَيَجُوْزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُوْمَةٍ. وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ بِهَا نِصْفُ الْمَهْرِ.

Disunahkan menyebutkan mahar dalam akad nikah. Jika tidak disebutkan, akadnya tetap sah, dan mahar menjadi wajib karena tiga hal: (1) suami menetapkannya atas dirinya; (2) hakim menetapkannya; atau (3) suami telah menggaulinya, maka wajib mahar mitsil (mahar yang sepadan)6. Mahar tidak memiliki batas minimal dan tidak pula batas maksimal. Boleh menikahinya dengan mahar berupa suatu manfaat yang jelas. Dengan talak sebelum menggaulinya, gugurlah setengah mahar.

فَصْلٌPasal

وَالْوَلِيْمَةُ عَلَى الْعُرْسِ مُسْتَحَبَّةٌ، وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا وَاجِبَةٌ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ.

Walimah pernikahan hukumnya sunah, dan memenuhi undangannya hukumnya wajib7 kecuali karena ada uzur.

فَصْلٌPasal

وَالتَّسْوِيَةُ فِي الْقَسْمِ بَيْنَ الزَّوْجَاتِ وَاجِبَةٌ، وَلَا يَدْخُلُ عَلَى غَيْرِ الْمَقْسُوْمِ لَهَا بِغَيْرِ حَاجَةٍ. وَإِذَا أَرَادَ السَّفَرَ أَقْرَعَ بَيْنَهُنَّ، وَخَرَجَ بِالَّتِيْ تَخْرُجُ لَهَا الْقُرْعَةُ. وَإِذَا تَزَوَّجَ جَدِيْدَةً خَصَّهَا بِسَبْعِ لَيَالٍ إِنْ كَانَتْ بِكْرًا، وَبِثَلَاثٍ إِنْ كَانَتْ ثَيِّبًا. وَإِذَا خَافَ نُشُوْزَ الْمَرْأَةِ وَعَظَهَا، فَإِنْ أَبَتْ إِلَّا النُّشُوْزَ هَجَرَهَا، فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا. وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوْزِ قَسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا.

Berlaku adil dalam pembagian giliran di antara para istri hukumnya wajib. Suami tidak boleh mendatangi istri yang bukan gilirannya tanpa ada keperluan. Apabila ia hendak bepergian, ia mengundi di antara mereka, lalu pergi bersama istri yang keluar undiannya. Apabila ia menikahi istri baru, ia mengkhususkannya dengan tujuh malam jika ia gadis, dan tiga malam jika ia janda. Apabila ia khawatir istrinya nusyuz (durhaka)8, ia menasihatinya; jika istri itu tetap enggan kecuali nusyuz, ia memisahkan diri dari tempat tidurnya; dan jika ia terus-menerus nusyuz, ia memisahkan diri darinya dan memukulnya (dengan pukulan yang tidak melukai)9. Dengan nusyuz, gugurlah hak giliran dan nafkahnya.

فَصْلٌPasal

وَالْخُلْعُ جَاۤئِزٌ عَلَى عِوَضٍ مَعْلُوْمٍ، وَتَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلَا رَجْعَةَ لَهُ عَلَيْهَا إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيْدٍ. وَيَجُوْزُ الْخُلْعُ فِي الطُّهْرِ وَفِي الْحَيْضِ، وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ.

Khulu' (talak dengan tebusan dari istri) hukumnya boleh dengan tebusan yang jelas. Dengannya, istri memiliki dirinya sendiri, dan suami tidak boleh rujuk kepadanya kecuali dengan nikah baru. Khulu' boleh dilakukan pada masa suci maupun masa haid. Istri yang telah dikhulu' tidak dapat dijatuhi talak lagi10.

فَصْلٌPasal

وَالطَّلَاقُ ضَرْبَانِ: صَرِيْحٌ، وَكِنَايَةٌ. فَالصَّرِيْحُ ثَلَاثَةُ أَلْفَاظٍ: الطَّلَاقُ، وَالْفِرَاقُ، وَالسَّرَاحُ، وَلَا يَفْتَقِرُ صَرِيْحُ الطَّلَاقِ إِلَى النِّيَّةِ. وَالْكِنَايَةُ كُلُّ لَفْظٍ احْتَمَلَ الطَّلَاقَ وَغَيْرَهُ، وَيَفْتَقِرُ إِلَى النِّيَّةِ.

Talak ada dua macam: sharih (tegas) dan kinayah (sindiran). Talak sharih ada tiga lafaz: thalaq (cerai), firaq (pisah), dan sarah (lepas). Talak sharih tidak memerlukan niat11. Kinayah ialah setiap lafaz yang mengandung kemungkinan makna talak dan selainnya, dan ia memerlukan niat.

وَالنِّسَاۤءُ فِيْهِ ضَرْبَانِ: ضَرْبٌ فِيْ طَلَاقِهِنَّ سُنَّةٌ وَبِدْعَةٌ، وَهُنَّ ذَوَاتُ الْحَيْضِ؛ فَالسُّنَّةُ أَنْ يُوْقِعَ الطَّلَاقَ فِيْ طُهْرٍ غَيْرِ مُجَامَعٍ فِيْهِ، وَالْبِدْعَةُ أَنْ يُوْقِعَ الطَّلَاقَ فِي الْحَيْضِ، أَوْ فِيْ طُهْرٍ جَامَعَهَا فِيْهِ. وَضَرْبٌ لَيْسَ فِيْ طَلَاقِهِنَّ سُنَّةٌ وَلَا بِدْعَةٌ، وَهُنَّ أَرْبَعٌ: الصَّغِيْرَةُ، وَالْآيِسَةُ، وَالْحَامِلُ، وَالْمُخْتَلِعَةُ الَّتِيْ لَمْ يُدْخَلْ بِهَا.

Perempuan dalam hal talak ada dua golongan. Golongan yang dalam talaknya ada talak sunni dan talak bid'i, yaitu perempuan yang masih haid. Talak sunni ialah menjatuhkan talak pada masa suci yang belum digauli padanya; dan talak bid'i ialah menjatuhkan talak pada masa haid, atau pada masa suci yang ia telah menggaulinya padanya. Dan golongan yang dalam talaknya tidak ada talak sunni dan tidak pula bid'i, yaitu empat: (1) perempuan yang masih kecil; (2) perempuan yang telah menopause; (3) perempuan yang hamil; dan (4) perempuan yang meminta khulu' yang belum digauli.

فَصْلٌPasal

وَيَمْلِكُ الْحُرُّ ثَلَاثَ تَطْلِيْقَاتٍ، وَالْعَبْدُ تَطْلِيْقَتَيْنِ. وَيَصِحُّ الِاسْتِثْنَاۤءُ فِي الطَّلَاقِ إِذَا وَصَلَهُ بِهِ، وَيَصِحُّ تَعْلِيْقُهُ بِالصِّفَةِ وَالشَّرْطِ. وَلَا يَقَعُ الطَّلَاقُ قَبْلَ النِّكَاحِ. وَأَرْبَعَةٌ لَا يَقَعُ طَلَاقُهُمْ: الصَّبِيُّ، وَالْمَجْنُوْنُ، وَالنَّاۤئِمُ، وَالْمُكْرَهُ.

Laki-laki merdeka memiliki tiga kali talak, dan budak memiliki dua kali talak. Pengecualian dalam talak sah apabila disambung langsung dengannya. Talak juga sah digantungkan pada suatu sifat dan syarat. Talak tidak jatuh sebelum nikah. Ada empat orang yang talaknya tidak jatuh: (1) anak kecil; (2) orang gila; (3) orang yang tidur; dan (4) orang yang dipaksa.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَاحِدَةً أَوِ اثْنَتَيْنِ فَلَهُ مُرَاجَعَتُهَا مَا لَمْ تَنْقَضِ عِدَّتُهَا، فَإِنِ انْقَضَتْ عِدَّتُهَا حَلَّ لَهُ نِكَاحُهَا بِعَقْدٍ جَدِيْدٍ، وَتَكُوْنُ مَعَهُ عَلَى مَا بَقِيَ مِنَ الطَّلَاقِ. فَإِنْ طَلَّقَهَا ثَلَاثًا لَمْ تَحِلَّ لَهُ إِلَّا بَعْدَ وُجُوْدِ خَمْسِ شَرَاۤئِطَ: انْقِضَاۤءِ عِدَّتِهَا مِنْهُ، وَتَزْوِيْجِهَا بِغَيْرِهِ، وَدُخُوْلِهِ بِهَا وَإِصَابَتِهَا، وَبَيْنُوْنَتِهَا مِنْهُ، وَانْقِضَاۤءِ عِدَّتِهَا مِنْهُ.

Apabila seseorang menalak istrinya satu atau dua kali, ia boleh merujuknya selama iddahnya belum habis. Jika iddahnya telah habis, ia halal menikahinya dengan akad baru, dan istri itu tetap bersamanya dengan sisa bilangan talak yang ada. Jika ia menalaknya tiga kali, istri itu tidak halal baginya kecuali setelah terpenuhi lima syarat: (1) habis iddahnya dari suami pertama; (2) ia menikah dengan laki-laki lain; (3) laki-laki itu menggaulinya dengan senggama yang sebenarnya12; (4) ia tertalak ba'in dari suami kedua; dan (5) habis iddahnya dari suami kedua itu.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيْدُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُوْلٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيْرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ.

Apabila seseorang bersumpah tidak akan menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia adalah mul (pelaku ila')13. Jika istri memintanya, ia diberi tenggang waktu empat bulan, kemudian ia diberi pilihan antara kembali (menggauli istrinya) dengan membayar kafarat, atau menalaknya. Jika ia menolak, hakim menjatuhkan talak atasnya.

فَصْلٌPasal

وَالظِّهَارُ أَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّيْ. فَإِذَا قَالَ ذٰلِكَ وَلَمْ يُتْبِعْهُ بِالطَّلَاقِ صَارَ عَاۤئِدًا، وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ. وَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيْمَةٍ مِنَ الْعُيُوْبِ الْمُضِرَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا لِكُلِّ مِسْكِيْنٍ مُدٌّ. وَلَا يَحِلُّ لِلْمُظَاهِرِ وَطْؤُهَا حَتَّى يُكَفِّرَ.

Zhihar14 ialah seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Bagiku engkau seperti punggung ibuku.” Apabila ia mengucapkan itu dan tidak segera menyusulinya dengan talak, ia menjadi 'a'id (kembali), dan wajib atasnya kafarat. Kafaratnya ialah memerdekakan budak yang mukmin yang selamat dari cacat yang mengganggu pekerjaan dan usaha; jika tidak mendapatkannya, berpuasa dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu, memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud. Suami yang melakukan zhihar tidak halal menggauli istrinya sampai ia membayar kafarat.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا رَمَى الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ بِالزِّنَا فَعَلَيْهِ حَدُّ الْقَذْفِ، إِلَّا أَنْ يُقِيْمَ الْبَيِّنَةَ أَوْ يُلَاعِنَ، فَيَقُوْلُ عِنْدَ الْحَاكِمِ فِي الْجَامِعِ عَلَى الْمِنْبَرِ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنَ النَّاسِ: أَشْهَدُ بِاللّٰهِ إِنَّنِيْ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ فِيْمَا رَمَيْتُ بِهِ زَوْجَتِيْ فُلَانَةَ مِنَ الزِّنَا، وَإِنَّ هٰذَا الْوَلَدَ مِنَ الزِّنَا وَلَيْسَ مِنِّيْ، أَرْبَعَ مَرَّاتٍ. وَيَقُوْلُ فِي الْمَرَّةِ الْخَامِسَةِ بَعْدَ أَنْ يَعِظَهُ الْحَاكِمُ: وَعَلَيَّ لَعْنَةُ اللّٰهِ إِنْ كُنْتُ مِنَ الْكَاذِبِيْنَ.

Apabila seorang laki-laki menuduh istrinya berzina, ia dikenai had qadzf (hukuman menuduh zina), kecuali jika ia mendatangkan bukti atau melakukan li'an15. Dalam li'an, ia mengucapkan di hadapan hakim, di masjid jami', di atas mimbar, di tengah sekumpulan orang: “Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku termasuk orang yang benar dalam tuduhan zina yang aku tujukan kepada istriku si Fulanah, dan bahwa anak ini adalah hasil zina dan bukan dariku,” sebanyak empat kali. Pada kali kelima, setelah hakim menasihatinya, ia mengucapkan: “Dan laknat Allah atasku jika aku termasuk orang-orang yang berdusta.”

وَيَتَعَلَّقُ بِلِعَانِهِ خَمْسَةُ أَحْكَامٍ: سُقُوْطُ الْحَدِّ عَنْهُ، وَوُجُوْبُ الْحَدِّ عَلَيْهَا، وَزَوَالُ الْفِرَاشِ، وَنَفْيُ الْوَلَدِ، وَالتَّحْرِيْمُ عَلَى الْأَبَدِ. وَيَسْقُطُ الْحَدُّ عَنْهَا بِأَنْ تَلْتَعِنَ فَتَقُوْلَ: أَشْهَدُ بِاللّٰهِ إِنَّ فُلَانًا هٰذَا لَمِنَ الْكَاذِبِيْنَ فِيْمَا رَمَانِيْ بِهِ مِنَ الزِّنَا، أَرْبَعَ مَرَّاتٍ. وَتَقُوْلُ فِي الْخَامِسَةِ بَعْدَ أَنْ يَعِظَهَا الْحَاكِمُ: وَعَلَيَّ غَضَبُ اللّٰهِ إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ.

Dengan li'an suami, berlaku lima hukum: (1) gugurnya had dari suami; (2) wajibnya had atas istri; (3) hilangnya status suami-istri; (4) ternafikannya nasab anak (dari suami); dan (5) haramnya mereka menikah selama-lamanya. Had gugur dari istri dengan ia melakukan li'an balik, yaitu mengucapkan: “Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya si Fulan ini termasuk orang yang berdusta dalam tuduhan zina yang ia tujukan kepadaku,” sebanyak empat kali. Pada kali kelima, setelah hakim menasihatinya, ia mengucapkan: “Dan murka Allah atasku jika ia termasuk orang-orang yang benar.”

فَصْلٌPasal

وَالْمُعْتَدَّةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: مُتَوَفًّى عَنْهَا، وَغَيْرُ مُتَوَفًّى عَنْهَا. فَالْمُتَوَفَّى عَنْهَا إِنْ كَانَتْ حَامِلًا فَعِدَّتُهَا بِوَضْعِ الْحَمْلِ، وَإِنْ كَانَتْ حَاۤئِلًا فَعِدَّتُهَا أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ. وَغَيْرُ الْمُتَوَفَّى عَنْهَا إِنْ كَانَتْ حَامِلًا فَعِدَّتُهَا بِوَضْعِ الْحَمْلِ، وَإِنْ كَانَتْ حَاۤئِلًا وَهِيَ مِنْ ذَوَاتِ الْحَيْضِ فَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ قُرُوْۤءٍ، وَهِيَ الْأَطْهَارُ، وَإِنْ كَانَتْ صَغِيْرَةً أَوْ آيِسَةً فَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ. وَالْمُطَلَّقَةُ قَبْلَ الدُّخُوْلِ بِهَا لَا عِدَّةَ عَلَيْهَا.

Perempuan yang menjalani iddah ada dua macam: yang ditinggal mati suaminya dan yang tidak ditinggal mati suaminya. Perempuan yang ditinggal mati suaminya, jika ia hamil, iddahnya sampai melahirkan kandungannya; dan jika tidak hamil, iddahnya empat bulan sepuluh hari. Perempuan yang tidak ditinggal mati suaminya, jika ia hamil, iddahnya sampai melahirkan kandungannya; jika tidak hamil dan ia termasuk perempuan yang masih haid, iddahnya tiga quru', yaitu tiga kali suci16; dan jika ia masih kecil atau telah menopause, iddahnya tiga bulan. Perempuan yang ditalak sebelum digauli tidak wajib menjalani iddah.

وَعِدَّةُ الْأَمَةِ بِالْحَمْلِ كَعِدَّةِ الْحُرَّةِ، وَبِالْأَقْرَاۤءِ أَنْ تَعْتَدَّ بِقُرْأَيْنِ، وَبِالشُّهُوْرِ عَنِ الْوَفَاةِ أَنْ تَعْتَدَّ بِشَهْرَيْنِ وَخَمْسِ لَيَالٍ، وَعَنِ الطَّلَاقِ أَنْ تَعْتَدَّ بِشَهْرٍ وَنِصْفٍ، فَإِنِ اعْتَدَّتْ بِشَهْرَيْنِ كَانَ أَوْلَى.

Iddah budak perempuan karena hamil sama seperti iddah perempuan merdeka. Dengan quru', ia beriddah dua quru'. Dengan hitungan bulan karena ditinggal mati, ia beriddah dua bulan lima malam; dan karena talak, ia beriddah satu setengah bulan, tetapi jika ia beriddah dua bulan, itu lebih utama.

فَصْلٌPasal

وَيَجِبُ لِلْمُعْتَدَّةِ الرَّجْعِيَّةِ السُّكْنَى وَالنَّفَقَةُ، وَيَجِبُ لِلْبَاۤئِنِ السُّكْنَى دُوْنَ النَّفَقَةِ إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ حَامِلًا. وَيَجِبُ عَلَى الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا الْإِحْدَادُ، وَهُوَ الِامْتِنَاعُ مِنَ الزِّيْنَةِ وَالطِّيْبِ. وَعَلَى الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا وَالْمَبْتُوْتَةِ مُلَازَمَةُ الْبَيْتِ إِلَّا لِحَاجَةٍ.

Perempuan yang menjalani iddah talak raj'i berhak mendapatkan tempat tinggal dan nafkah. Perempuan yang ditalak ba'in berhak mendapatkan tempat tinggal tanpa nafkah, kecuali jika ia hamil. Wajib atas perempuan yang ditinggal mati suaminya melakukan ihdad (berkabung)17, yaitu menahan diri dari berhias dan memakai wangi-wangian. Perempuan yang ditinggal mati suaminya dan perempuan yang ditalak ba'in wajib menetap di rumah kecuali karena ada keperluan.

فَصْلٌPasal

وَمَنِ اسْتَحْدَثَ مِلْكَ أَمَةٍ حَرُمَ عَلَيْهِ الِاسْتِمْتَاعُ بِهَا حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا: إِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَيْضِ بِحَيْضَةٍ، وَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الشُّهُوْرِ بِشَهْرٍ فَقَطْ، وَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَمْلِ بِالْوَضْعِ. وَإِذَا مَاتَ سَيِّدُ أُمِّ الْوَلَدِ اسْتَبْرَأَتْ نَفْسَهَا كَالْأَمَةِ.

Barang siapa baru memiliki seorang budak perempuan, haram baginya bersenang-senang dengannya sampai ia melakukan istibra' (memastikan kosongnya rahim): jika budak itu termasuk yang masih haid, dengan satu kali haid; jika termasuk yang beriddah dengan bulan, dengan satu bulan saja; dan jika ia sedang hamil, dengan melahirkan. Apabila tuan ummul walad meninggal dunia, ummul walad itu melakukan istibra' atas dirinya seperti budak perempuan.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا أَرْضَعَتِ الْمَرْأَةُ بِلَبَنِهَا وَلَدًا صَارَ الرَّضِيْعُ وَلَدَهَا بِشَرْطَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُوْنَ لَهُ دُوْنَ الْحَوْلَيْنِ، وَالثَّانِيْ: أَنْ تُرْضِعَهُ خَمْسَ رَضَعَاتٍ مُتَفَرِّقَاتٍ. وَيَصِيْرُ زَوْجُهَا أَبًا لَهُ، وَيَحْرُمُ عَلَى الْمُرْضَعِ التَّزْوِيْجُ إِلَيْهَا وَإِلَى كُلِّ مَنْ نَاسَبَهَا، وَيَحْرُمُ عَلَيْهَا التَّزْوِيْجُ إِلَى الْمُرْضَعِ وَوَلَدِهِ، دُوْنَ مَنْ كَانَ فِيْ دَرَجَتِهِ أَوْ أَعْلَى طَبَقَةً مِنْهُ.

Apabila seorang perempuan menyusui seorang anak dengan air susunya, anak yang menyusu itu menjadi anaknya dengan dua syarat: pertama, usianya kurang dari dua tahun; kedua, ia menyusuinya lima kali susuan yang terpisah-pisah18. Suami perempuan itu menjadi ayah bagi anak tersebut. Haram bagi anak yang disusui menikahi perempuan yang menyusuinya dan setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya. Haram pula bagi perempuan yang menyusui menikahi anak yang disusuinya dan anak keturunannya, tetapi tidak haram dengan orang yang sederajat dengannya (seperti saudaranya) atau yang lebih tinggi tingkatannya darinya (seperti ayahnya).

فَصْلٌPasal

وَنَفَقَةُ الْعَمُوْدَيْنِ مِنَ الْأَهْلِ وَاجِبَةٌ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْمَوْلُوْدِيْنَ. فَأَمَّا الْوَالِدُوْنَ فَتَجِبُ نَفَقَتُهُمْ بِشَرْطَيْنِ: الْفَقْرِ وَالزَّمَانَةِ، أَوِ الْفَقْرِ وَالْجُنُوْنِ. وَأَمَّا الْمَوْلُوْدُوْنَ فَتَجِبُ نَفَقَتُهُمْ بِثَلَاثِ شَرَاۤئِطَ: الْفَقْرِ وَالصِّغَرِ، أَوِ الْفَقْرِ وَالزَّمَانَةِ، أَوِ الْفَقْرِ وَالْجُنُوْنِ. وَنَفَقَةُ الرَّقِيْقِ وَالْبَهَاۤئِمِ وَاجِبَةٌ، وَلَا يُكَلَّفُوْنَ مِنَ الْعَمَلِ مَا لَا يُطِيْقُوْنَ.

Nafkah bagi kerabat dari dua garis lurus19 wajib diberikan kepada orang tua dan anak keturunan. Adapun orang tua, nafkahnya wajib dengan dua syarat: fakir dan lumpuh (sakit menahun), atau fakir dan gila. Adapun anak keturunan, nafkahnya wajib dengan tiga syarat: fakir dan masih kecil, atau fakir dan lumpuh, atau fakir dan gila. Nafkah budak dan binatang ternak hukumnya wajib, dan mereka tidak boleh dibebani pekerjaan yang tidak mampu mereka pikul.

وَنَفَقَةُ الزَّوْجَةِ الْمُمَكِّنَةِ مِنْ نَفْسِهَا وَاجِبَةٌ، وَهِيَ مُقَدَّرَةٌ: فَإِنْ كَانَ الزَّوْجُ مُوْسِرًا فَمُدَّانِ مِنْ غَالِبِ قُوْتِهَا، وَمِنَ الْأُدْمِ وَالْكِسْوَةِ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ. وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَمُدٌّ مِنْ غَالِبِ قُوْتِ الْبَلَدِ، وَمَا يَأْتَدِمُ بِهِ الْمُعْسِرُوْنَ وَيَكْسُوْنَهُ. وَإِنْ كَانَ مُتَوَسِّطًا فَمُدٌّ وَنِصْفٌ، وَمِنَ الْأُدْمِ وَالْكِسْوَةِ الْوَسَطُ. وَإِنْ كَانَتْ مِمَّنْ يُخْدَمُ مِثْلُهَا فَعَلَيْهِ إِخْدَامُهَا. وَإِنْ أَعْسَرَ بِنَفَقَتِهَا فَلَهَا فَسْخُ النِّكَاحِ، وَكَذٰلِكَ إِنْ أَعْسَرَ بِالصَّدَاقِ قَبْلَ الدُّخُوْلِ.

Nafkah istri yang menyerahkan dirinya (kepada suami) hukumnya wajib, dan kadarnya telah ditentukan. Jika suami orang yang berkelapangan, nafkahnya dua mud dari makanan pokok yang umum, serta lauk-pauk dan pakaian sesuai kebiasaan. Jika suami orang yang kesulitan, nafkahnya satu mud dari makanan pokok umum di negeri itu, serta lauk-pauk dan pakaian yang biasa dipakai orang-orang yang kesulitan. Jika suami orang yang sedang (menengah), nafkahnya satu setengah mud, serta lauk-pauk dan pakaian yang sedang. Jika istri termasuk perempuan yang biasa dilayani, suami wajib menyediakan pelayan baginya. Jika suami tidak mampu memberi nafkahnya, istri berhak memfasakh nikah; demikian pula jika suami tidak mampu membayar mahar sebelum menggaulinya.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا فَارَقَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ وَلَهُ مِنْهَا وَلَدٌ فَهِيَ أَحَقُّ بِحَضَانَتِهِ إِلَى سَبْعِ سِنِيْنَ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ أَبَوَيْهِ، فَأَيُّهُمَا اخْتَارَ سُلِّمَ إِلَيْهِ. وَشَرَاۤئِطُ الْحَضَانَةِ سَبْعٌ: الْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالدِّيْنُ، وَالْعِفَّةُ، وَالْأَمَانَةُ، وَالْإِقَامَةُ، وَالْخُلُوُّ مِنْ زَوْجٍ، فَإِنِ اخْتَلَّ مِنْهَا شَرْطٌ سَقَطَتْ.

Apabila seorang laki-laki bercerai dengan istrinya dan ia memiliki anak darinya, maka istri lebih berhak mengasuhnya sampai usia tujuh tahun20. Kemudian anak itu diberi pilihan di antara kedua orang tuanya; siapa pun yang dipilihnya, anak itu diserahkan kepadanya. Syarat hadhanah (hak asuh) ada tujuh: (1) berakal; (2) merdeka; (3) beragama (Islam); (4) menjaga kehormatan diri; (5) amanah; (6) bermukim; dan (7) tidak bersuami (lagi). Jika salah satu syarat itu tidak terpenuhi, gugurlah hak asuhnya.

Catatan

1 Yakni berkeinginan untuk menikah dan mampu membiayai mahar serta nafkah.

2 Disunahkan memandangnya sebelum meminang, walaupun tanpa izin perempuan itu, dan boleh diulang bila diperlukan.

3 Yakni menjauhi dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa kecil, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Persaksian.

4 Dengan syarat, antara lain: dinikahkan dengan laki-laki yang sekufu, dengan mahar mitsil, dan tidak ada permusuhan yang nyata antara ia dan ayahnya atau calon suaminya. Meminta izinnya tetap disunahkan.

5 Ini lafaz hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

6 Mahar mitsil ialah kadar mahar yang biasa diterima oleh perempuan semisalnya dari keluarga 'ashabahnya, seperti saudara perempuan dan anak perempuan paman.

7 Dengan syarat, antara lain: undangan itu tertuju kepadanya, tidak hanya mengundang orang kaya, dan di tempat itu tidak ada kemungkaran.

8 Nusyuz ialah keluarnya istri dari ketaatan kepada suami, seperti menolak ajakan suami tanpa uzur atau keluar rumah tanpa izinnya.

9 Pukulan itu tidak boleh di wajah dan tidak boleh melukai, dan hanya dilakukan bila diduga bermanfaat. Meninggalkannya dan memaafkan lebih utama.

10 Karena dengan khulu' ia telah menjadi ba'in (terpisah) dari suaminya.

11 Contoh kinayah: "Pulanglah ke keluargamu" atau "Engkau bebas"; talak jatuh bila diniatkan talak.

12 Pernikahan dengan maksud semata-mata untuk menghalalkan perempuan itu bagi suami pertama (nikah tahlil) dicela dalam hadis; bila hal itu disyaratkan dalam akad, nikahnya tidak sah.

13 Ila' ialah sumpah suami untuk tidak menggauli istrinya lebih dari empat bulan.

14 Zhihar adalah kebiasaan orang jahiliah untuk mengharamkan istri. Islam menetapkannya sebagai perbuatan haram yang mewajibkan kafarat.

15 Li'an ialah sumpah tertentu yang diucapkan suami yang menuduh istrinya berzina tanpa saksi, dan dilaksanakan di hadapan hakim.

16 Jika ditalak pada masa suci, sisa masa suci itu terhitung satu quru'.

17 Masa ihdad sama dengan masa iddahnya: empat bulan sepuluh hari, atau sampai melahirkan bila ia hamil.

18 Ukuran setiap kali susuan dikembalikan kepada kebiasaan: bila anak berhenti menyusu karena berpaling sepenuhnya, terhitung satu kali.

19 Yakni orang tua dan seterusnya ke atas, serta anak dan seterusnya ke bawah.

20 Yakni sampai anak mumayyiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), yang pada umumnya terjadi pada usia tujuh tahun.

كِتَابُ الْجِنَايَاتِKitab Jinayah (Tindak Pidana)

اَلْقَتْلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: عَمْدٌ مَحْضٌ، وَخَطَأٌ مَحْضٌ، وَعَمْدُ خَطَإٍ. فَالْعَمْدُ الْمَحْضُ أَنْ يَعْمِدَ إِلَى ضَرْبِهِ بِمَا يَقْتُلُ غَالِبًا، وَيَقْصِدَ قَتْلَهُ بِذٰلِكَ، فَيَجِبُ الْقَوَدُ عَلَيْهِ، فَإِنْ عُفِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ دِيَةٌ مُغَلَّظَةٌ حَاۤلَّةٌ فِيْ مَالِ الْقَاتِلِ. وَالْخَطَأُ الْمَحْضُ أَنْ يَرْمِيَ إِلَى شَيْءٍ فَيُصِيْبَ رَجُلًا فَيَقْتُلَهُ، فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ، بَلْ تَجِبُ عَلَيْهِ دِيَةٌ مُخَفَّفَةٌ عَلَى الْعَاقِلَةِ مُؤَجَّلَةٌ فِيْ ثَلَاثِ سِنِيْنَ. وَعَمْدُ الْخَطَإِ أَنْ يَقْصِدَ ضَرْبَهُ بِمَا لَا يَقْتُلُ غَالِبًا فَيَمُوْتَ، فَلَا قَوَدَ عَلَيْهِ، بَلْ تَجِبُ دِيَةٌ مُغَلَّظَةٌ عَلَى الْعَاقِلَةِ مُؤَجَّلَةٌ فِيْ ثَلَاثِ سِنِيْنَ.

Pembunuhan ada tiga macam: sengaja murni, keliru murni, dan sengaja yang menyerupai keliru (semi sengaja). Sengaja murni ialah ia sengaja memukulnya dengan sesuatu yang pada umumnya mematikan dan ia bermaksud membunuhnya dengan itu; maka wajib atasnya qishash. Jika ia dimaafkan, wajib atasnya diyat mughallazhah (berat) yang dibayar tunai dari harta si pembunuh. Keliru murni ialah ia melempar sesuatu lalu mengenai seseorang hingga membunuhnya; maka tidak ada qishash atasnya, tetapi wajib diyat mukhaffafah (ringan) yang ditanggung oleh 'aqilah (kerabat 'ashabahnya)1, dibayar bertempo dalam tiga tahun. Sengaja yang menyerupai keliru ialah ia bermaksud memukulnya dengan sesuatu yang pada umumnya tidak mematikan, lalu orang itu mati; maka tidak ada qishash atasnya, tetapi wajib diyat mughallazhah yang ditanggung oleh 'aqilah, dibayar bertempo dalam tiga tahun.

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ أَرْبَعَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ الْقَاتِلُ بَالِغًا، عَاقِلًا، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ وَالِدًا لِلْمَقْتُوْلِ، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ الْمَقْتُوْلُ أَنْقَصَ مِنَ الْقَاتِلِ بِكُفْرٍ أَوْ رِقٍّ. وَتُقْتَلُ الْجَمَاعَةُ بِالْوَاحِدِ. وَكُلُّ شَخْصَيْنِ جَرَى الْقِصَاصُ بَيْنَهُمَا فِي النَّفْسِ يَجْرِيْ بَيْنَهُمَا فِي الْأَطْرَافِ. وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الْقِصَاصِ فِي الْأَطْرَافِ بَعْدَ الشَّرَاۤئِطِ الْمَذْكُوْرَةِ اثْنَانِ: الِاشْتِرَاكُ فِي الِاسْمِ الْخَاۤصِّ: الْيُمْنَى بِالْيُمْنَى، وَالْيُسْرَى بِالْيُسْرَى، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ بِأَحَدِ الطَّرَفَيْنِ شَلَلٌ. وَكُلُّ عُضْوٍ أُخِذَ مِنْ مَفْصِلٍ فَفِيْهِ الْقِصَاصُ، وَلَا قِصَاصَ فِي الْجُرُوْحِ إِلَّا فِي الْمُوْضِحَةِ.

Syarat wajib qishash ada empat: (1) pembunuh telah baligh; (2) berakal; (3) bukan orang tua dari yang dibunuh; dan (4) yang dibunuh tidak lebih rendah derajatnya2 daripada pembunuh karena kekafiran atau perbudakan. Sekelompok orang dibunuh (diqishash) karena membunuh satu orang. Setiap dua orang yang berlaku qishash di antara keduanya dalam jiwa, berlaku pula di antara keduanya dalam anggota tubuh. Syarat wajib qishash pada anggota tubuh, setelah syarat-syarat yang telah disebutkan, ada dua: (1) kesamaan dalam nama yang khusus: kanan dengan kanan dan kiri dengan kiri; dan (2) tidak ada kelumpuhan pada salah satu dari kedua anggota itu. Setiap anggota yang diputus dari persendian, padanya berlaku qishash. Tidak ada qishash pada luka-luka kecuali pada mudhihah (luka yang menampakkan tulang).

فَصْلٌPasal

وَالدِّيَةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: مُغَلَّظَةٌ، وَمُخَفَّفَةٌ. فَالْمُغَلَّظَةُ مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ: ثَلَاثُوْنَ حِقَّةً، وَثَلَاثُوْنَ جَذَعَةً، وَأَرْبَعُوْنَ خَلِفَةً فِيْ بُطُوْنِهَا أَوْلَادُهَا. وَالْمُخَفَّفَةُ مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ: عِشْرُوْنَ حِقَّةً، وَعِشْرُوْنَ جَذَعَةً، وَعِشْرُوْنَ بِنْتَ لَبُوْنٍ، وَعِشْرُوْنَ ابْنَ لَبُوْنٍ، وَعِشْرُوْنَ بِنْتَ مَخَاضٍ. فَإِنْ عُدِمَتِ الْإِبِلُ انْتَقَلَ إِلَى قِيْمَتِهَا، وَقِيْلَ: يَنْتَقِلُ إِلَى أَلْفِ دِيْنَارٍ أَوِ اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفَ دِرْهَمٍ، وَإِنْ غُلِّظَتْ زِيْدَ عَلَيْهَا الثُّلُثُ.

Diyat ada dua macam: mughallazhah (berat) dan mukhaffafah (ringan). Diyat mughallazhah adalah seratus ekor unta: tiga puluh ekor hiqqah, tiga puluh ekor jadza'ah, dan empat puluh ekor khalifah (unta yang sedang bunting)3. Diyat mukhaffafah adalah seratus ekor unta: dua puluh ekor hiqqah, dua puluh ekor jadza'ah, dua puluh ekor bintu labun, dua puluh ekor ibnu labun, dan dua puluh ekor bintu makhadh. Jika unta tidak ada, beralih kepada harganya. Ada pendapat yang mengatakan: beralih kepada seribu dinar atau dua belas ribu dirham, dan jika diyatnya diperberat, ditambah sepertiganya.

وَتُغَلَّظُ دِيَةُ الْخَطَإِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ: إِذَا قَتَلَ فِي الْحَرَمِ، أَوْ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، أَوْ قَتَلَ ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ. وَدِيَةُ الْمَرْأَةِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ دِيَةِ الرَّجُلِ. وَدِيَةُ الْيَهُوْدِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ ثُلُثُ دِيَةِ الْمُسْلِمِ، وَأَمَّا الْمَجُوْسِيُّ فَفِيْهِ ثُلُثَا عُشْرِ دِيَةِ الْمُسْلِمِ.

Diyat pembunuhan keliru diperberat dalam tiga keadaan: apabila ia membunuh di Tanah Haram, atau pada bulan-bulan haram4, atau membunuh kerabat yang mahram. Diyat perempuan setengah dari diyat laki-laki. Diyat orang Yahudi dan Nasrani sepertiga diyat orang muslim, sedangkan diyat orang Majusi dua pertiga dari sepersepuluh diyat orang muslim.

وَتُكْمَلُ دِيَةُ النَّفْسِ فِيْ قَطْعِ الْيَدَيْنِ، وَالرِّجْلَيْنِ، وَالْأَنْفِ، وَالْأُذُنَيْنِ، وَالْعَيْنَيْنِ، وَالْجُفُوْنِ الْأَرْبَعَةِ، وَاللِّسَانِ، وَالشَّفَتَيْنِ، وَذَهَابِ الْكَلَامِ، وَذَهَابِ الْبَصَرِ، وَذَهَابِ السَّمْعِ، وَذَهَابِ الشَّمِّ، وَذَهَابِ الْعَقْلِ، وَالذَّكَرِ، وَالْأُنْثَيَيْنِ. وَفِي الْمُوْضِحَةِ وَالسِّنِّ خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِيْ كُلِّ عُضْوٍ لَا مَنْفَعَةَ فِيْهِ حُكُوْمَةٌ. وَدِيَةُ الْعَبْدِ قِيْمَتُهُ، وَدِيَةُ الْجَنِيْنِ الْحُرِّ غُرَّةٌ: عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ، وَدِيَةُ الْجَنِيْنِ الرَّقِيْقِ عُشْرُ قِيْمَةِ أُمِّهِ.

Diyat jiwa dibayar penuh karena memotong kedua tangan, kedua kaki, hidung, kedua telinga, kedua mata, keempat kelopak mata, lidah, dan kedua bibir; karena hilangnya kemampuan berbicara, hilangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, hilangnya penciuman, dan hilangnya akal; serta karena memotong zakar dan kedua buah pelir. Pada luka mudhihah dan pada (tanggalnya) sebuah gigi wajib lima ekor unta. Pada setiap anggota yang tidak ada manfaatnya wajib hukumah (ganti rugi yang ditaksir oleh hakim)5. Diyat budak adalah harganya. Diyat janin yang merdeka adalah ghurrah, yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan. Diyat janin budak adalah sepersepuluh harga ibunya.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا اقْتَرَنَ بِدَعْوَى الدَّمِ لَوْثٌ يَقَعُ بِهِ فِي النَّفْسِ صِدْقُ الْمُدَّعِيْ، حَلَفَ الْمُدَّعِيْ خَمْسِيْنَ يَمِيْنًا وَاسْتَحَقَّ الدِّيَةَ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ لَوْثٌ فَالْيَمِيْنُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ. وَعَلَى قَاتِلِ النَّفْسِ الْمُحَرَّمَةِ كَفَّارَةٌ: عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيْمَةٍ مِنَ الْعُيُوْبِ الْمُضِرَّةِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ.

Apabila tuduhan pembunuhan disertai lauts (indikasi kuat)6 yang menimbulkan dugaan dalam hati akan kebenaran penuntut, maka penuntut bersumpah lima puluh kali sumpah dan berhak mendapatkan diyat. Jika tidak ada lauts, maka sumpah dibebankan kepada orang yang dituntut. Wajib atas pembunuh jiwa yang diharamkan (dibunuh) membayar kafarat, yaitu memerdekakan budak yang mukmin yang selamat dari cacat yang merugikan; jika tidak mendapatkannya, berpuasa dua bulan berturut-turut.

Catatan

1 'Aqilah ialah kerabat laki-laki dari pihak ayah pembunuh, selain ayah dan anaknya.

2 Maka orang Islam tidak diqishash karena membunuh orang kafir, dan orang merdeka tidak diqishash karena membunuh budak.

3 Diyat dalam paragraf ini dihitung dengan unta karena itulah asalnya; nilainya berubah mengikuti harga unta pada masa dan tempat pembayaran.

4 Bulan-bulan haram ialah Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.

5 Contoh: tangan yang lumpuh dipotong. Hakim menaksir berkurangnya nilai korban seandainya ia budak, lalu ganti rugi diambil dari diyat dengan perbandingan itu.

6 Seperti ditemukannya korban terbunuh di kampung musuhnya, atau kesaksian satu orang yang adil.

كِتَابُ الْحُدُوْدِKitab Hudud (Hukuman Had)

وَالزَّانِيْ عَلَى ضَرْبَيْنِ: مُحْصَنٌ، وَغَيْرُ مُحْصَنٍ. فَالْمُحْصَنُ حَدُّهُ الرَّجْمُ، وَغَيْرُ الْمُحْصَنِ حَدُّهُ مِائَةُ جَلْدَةٍ وَتَغْرِيْبُ عَامٍ إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ. وَشَرَاۤئِطُ الْإِحْصَانِ أَرْبَعٌ: الْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَوُجُوْدُ الْوَطْءِ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ. وَالْعَبْدُ وَالْأَمَةُ حَدُّهُمَا نِصْفُ حَدِّ الْحُرِّ. وَحُكْمُ اللِّوَاطِ وَإِتْيَانِ الْبَهَاۤئِمِ كَحُكْمِ الزِّنَا. وَمَنْ وَطِئَ فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ عُزِّرَ، وَلَا يُبْلَغُ بِالتَّعْزِيْرِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ.

Pezina ada dua macam1: muhshan dan ghairu muhshan2. Had muhshan adalah rajam, dan had ghairu muhshan adalah seratus kali dera dan diasingkan selama satu tahun ke tempat sejauh jarak qashar. Syarat ihshan ada empat: (1) baligh; (2) berakal; (3) merdeka; dan (4) pernah bersetubuh dalam pernikahan yang sah. Had budak laki-laki dan budak perempuan setengah dari had orang merdeka. Hukum liwath (homoseksual) dan menyetubuhi binatang sama seperti hukum zina. Barang siapa melakukan persetubuhan selain pada kemaluan, ia dikenai ta'zir3, dan ta'zir itu tidak boleh mencapai had yang paling rendah.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا قَذَفَ غَيْرَهُ بِالزِّنَا فَعَلَيْهِ حَدُّ الْقَذْفِ بِثَمَانِيَةِ شَرَاۤئِطَ: ثَلَاثَةٌ مِنْهَا فِي الْقَاذِفِ، وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ بَالِغًا، عَاقِلًا، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ وَالِدًا لِلْمَقْذُوْفِ؛ وَخَمْسَةٌ فِي الْمَقْذُوْفِ، وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ مُسْلِمًا، بَالِغًا، عَاقِلًا، حُرًّا، عَفِيْفًا. وَيُحَدُّ الْحُرُّ ثَمَانِيْنَ، وَالْعَبْدُ أَرْبَعِيْنَ. وَيَسْقُطُ حَدُّ الْقَذْفِ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاۤءَ: إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ، أَوْ عَفْوِ الْمَقْذُوْفِ، أَوِ اللِّعَانِ فِيْ حَقِّ الزَّوْجَةِ.

Apabila seseorang menuduh orang lain berzina, ia dikenai had qadzf dengan delapan syarat. Tiga di antaranya pada penuduh, yaitu: (1) baligh; (2) berakal; dan (3) bukan orang tua dari yang dituduh. Lima pada yang dituduh, yaitu: (1) muslim; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; dan (5) menjaga kehormatan diri. Orang merdeka didera delapan puluh kali, dan budak empat puluh kali. Had qadzf gugur karena tiga hal: (1) didatangkannya bukti; (2) pemaafan dari yang dituduh; atau (3) li'an dalam hal tuduhan terhadap istri.

فَصْلٌPasal

وَمَنْ شَرِبَ خَمْرًا أَوْ شَرَابًا مُسْكِرًا يُحَدُّ أَرْبَعِيْنَ، وَيَجُوْزُ أَنْ يُبْلَغَ بِهِ ثَمَانِيْنَ عَلَى وَجْهِ التَّعْزِيْرِ. وَيَجِبُ عَلَيْهِ بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ: بِالْبَيِّنَةِ، أَوِ الْإِقْرَارِ. وَلَا يُحَدُّ بِالْقَيْءِ وَالِاسْتِنْكَاهِ.

Barang siapa meminum khamar atau minuman yang memabukkan, ia didera empat puluh kali, dan boleh mencapai delapan puluh kali sebagai ta'zir. Had itu wajib atasnya dengan salah satu dari dua hal: dengan bukti (saksi) atau dengan pengakuan. Ia tidak dikenai had karena muntah (berbau khamar)4 atau karena bau mulutnya dicium.

فَصْلٌPasal

وَتُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ بَالِغًا، عَاقِلًا، وَأَنْ يَسْرِقَ نِصَابًا قِيْمَتُهُ رُبُعُ دِيْنَارٍ مِنْ حِرْزِ مِثْلِهِ، لَا مِلْكَ لَهُ فِيْهِ، وَلَا شُبْهَةَ فِيْ مَالِ الْمَسْرُوْقِ مِنْهُ. وَتُقْطَعُ يَدُهُ الْيُمْنَى مِنْ مَفْصِلِ الْكُوْعِ، فَإِنْ سَرَقَ ثَانِيًا قُطِعَتْ رِجْلُهُ الْيُسْرَى، فَإِنْ سَرَقَ ثَالِثًا قُطِعَتْ يَدُهُ الْيُسْرَى، فَإِنْ سَرَقَ رَابِعًا قُطِعَتْ رِجْلُهُ الْيُمْنَى، فَإِنْ سَرَقَ بَعْدَ ذٰلِكَ عُزِّرَ، وَقِيْلَ: يُقْتَلُ صَبْرًا.

Tangan pencuri dipotong dengan tiga syarat: (1) ia telah baligh; (2) berakal; dan (3) mencuri senishab yang nilainya seperempat dinar5 dari tempat penyimpanan yang layak, yang ia tidak memiliki hak milik padanya dan tidak ada syubhat (kesamaran hak) pada harta orang yang dicuri. Tangan kanannya dipotong dari pergelangan. Jika ia mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya; jika mencuri ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya; jika mencuri keempat kalinya, dipotong kaki kanannya; dan jika ia mencuri setelah itu, ia dikenai ta'zir. Ada pendapat yang mengatakan: ia dibunuh dengan ditahan (shabran).

فَصْلٌPasal

وَقُطَّاعُ الطَّرِيْقِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: إِنْ قَتَلُوْا وَلَمْ يَأْخُذُوا الْمَالَ قُتِلُوْا، فَإِنْ قَتَلُوْا وَأَخَذُوا الْمَالَ قُتِلُوْا وَصُلِبُوْا، وَإِنْ أَخَذُوا الْمَالَ وَلَمْ يَقْتُلُوْا قُطِعَتْ أَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ، فَإِنْ أَخَافُوا السَّبِيْلَ وَلَمْ يَأْخُذُوْا مَالًا وَلَمْ يَقْتُلُوْا حُبِسُوْا وَعُزِّرُوْا. وَمَنْ تَابَ مِنْهُمْ قَبْلَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ سَقَطَتْ عَنْهُ الْحُدُوْدُ، وَأُخِذَ بِالْحُقُوْقِ.

Perampok (begal) ada empat golongan. Jika mereka membunuh dan tidak mengambil harta, mereka dibunuh. Jika mereka membunuh dan mengambil harta, mereka dibunuh dan disalib. Jika mereka mengambil harta dan tidak membunuh, dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang6. Jika mereka menakut-nakuti orang di jalan, tidak mengambil harta, dan tidak membunuh, mereka dipenjara dan dikenai ta'zir. Barang siapa di antara mereka bertobat sebelum tertangkap, gugurlah darinya hukuman had, tetapi ia tetap dituntut atas hak-hak (manusia).

فَصْلٌPasal

وَمَنْ قُصِدَ بِأَذًى فِيْ نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ حَرِيْمِهِ فَقَاتَلَ عَنْ ذٰلِكَ وَقَتَلَ فَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ. وَعَلَى رَاكِبِ الدَّاۤبَّةِ ضَمَانُ مَا أَتْلَفَتْهُ دَاۤبَّتُهُ.

Barang siapa diserang dengan maksud mencelakakan dirinya, hartanya, atau keluarganya, lalu ia melawan untuk membela hal itu7 hingga membunuh (penyerangnya), maka tidak ada tanggungan atasnya. Penunggang binatang wajib menanggung apa yang dirusak oleh binatang tunggangannya.

فَصْلٌPasal

وَيُقَاتَلُ أَهْلُ الْبَغْيِ بِثَلَاثَةِ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنُوْا فِيْ مَنَعَةٍ، وَأَنْ يَخْرُجُوْا عَنْ قَبْضَةِ الْإِمَامِ، وَأَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ تَأْوِيْلٌ سَاۤئِغٌ. وَلَا يُقْتَلُ أَسِيْرُهُمْ، وَلَا يُغْنَمُ مَالُهُمْ، وَلَا يُذَفَّفُ عَلَى جَرِيْحِهِمْ.

Pemberontak8 diperangi dengan tiga syarat: (1) mereka memiliki kekuatan; (2) mereka keluar dari kekuasaan imam; dan (3) mereka memiliki takwil (alasan) yang dapat diterima. Tawanan mereka tidak dibunuh, harta mereka tidak diambil sebagai ghanimah, dan orang yang terluka di antara mereka tidak dipercepat kematiannya.

فَصْلٌPasal

وَمَنِ ارْتَدَّ عَنِ الْإِسْلَامِ اسْتُتِيْبَ ثَلَاثًا، فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا قُتِلَ، وَلَمْ يُغَسَّلْ، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ، وَلَمْ يُدْفَنْ فِيْ مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Barang siapa murtad dari Islam, ia diminta bertobat9 sebanyak tiga kali. Jika ia bertobat (maka diterima); jika tidak, ia dibunuh, tidak dimandikan, tidak disalatkan, dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.

فَصْلٌPasal

وَتَارِكُ الصَّلَاةِ عَلَى ضَرْبَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتْرُكَهَا غَيْرَ مُعْتَقِدٍ لِوُجُوْبِهَا، فَحُكْمُهُ حُكْمُ الْمُرْتَدِّ. وَالثَّانِيْ: أَنْ يَتْرُكَهَا كَسَلًا مُعْتَقِدًا لِوُجُوْبِهَا، فَيُسْتَتَابُ، فَإِنْ تَابَ وَصَلَّى وَإِلَّا قُتِلَ حَدًّا، وَكَانَ حُكْمُهُ حُكْمَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Orang yang meninggalkan salat ada dua macam. Pertama: ia meninggalkannya dengan tidak meyakini kewajibannya, maka hukumnya seperti hukum orang murtad. Kedua: ia meninggalkannya karena malas, sedangkan ia meyakini kewajibannya, maka ia diminta bertobat. Jika ia bertobat dan mengerjakan salat (maka diterima); jika tidak, ia dibunuh sebagai had, dan hukumnya (setelah wafat) seperti hukum kaum muslimin.

Catatan

1 Pelaksanaan semua hukuman had dalam kitab ini menjadi wewenang imam (pemerintah) atau wakilnya melalui proses peradilan, bukan wewenang perorangan.

2 Muhshan ialah orang yang telah memenuhi syarat-syarat ihshan yang disebutkan sesudahnya, terutama pernah bersetubuh dalam pernikahan yang sah.

3 Ta'zir ialah hukuman pendidikan yang tidak ditentukan kadarnya oleh syariat, dan diserahkan kepada ijtihad hakim.

4 Karena masih ada kemungkinan ia meminumnya karena dipaksa atau tidak tahu bahwa itu khamar.

5 Menurut perkiraan sebagian ulama kontemporer, kira-kira 1,06 gram emas murni.

6 Yakni tangan kanan dan kaki kiri.

7 Dengan cara yang paling ringan terlebih dahulu: mengusir, lalu memukul, dan baru membunuh bila tidak ada jalan lain.

8 Bughat ialah kelompok muslim yang menentang imam yang sah dengan kekuatan dan dengan alasan yang mereka anggap benar.

9 Dengan kembali mengucapkan dua kalimat syahadat. Pelaksanaan hukuman dalam bab ini juga menjadi wewenang imam (pemerintah).

كِتَابُ الْجِهَادِKitab Jihad

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الْجِهَادِ سَبْعُ خِصَالٍ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالذُّكُوْرَةُ، وَالصِّحَّةُ، وَالطَّاقَةُ عَلَى الْقِتَالِ.

Syarat wajib jihad ada tujuh perkara: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; (5) laki-laki; (6) sehat; dan (7) mampu berperang.

وَمَنْ أُسِرَ مِنَ الْكُفَّارِ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ: ضَرْبٌ يَصِيْرُ رَقِيْقًا بِنَفْسِ السَّبْيِ، وَهُمُ الصِّبْيَانُ وَالنِّسَاۤءُ؛ وَضَرْبٌ لَا يَرِقُّ بِنَفْسِ السَّبْيِ، وَهُمُ الرِّجَالُ الْبَالِغُوْنَ، وَالْإِمَامُ مُخَيَّرٌ فِيْهِمْ بَيْنَ أَرْبَعَةِ أَشْيَاۤءَ: الْقَتْلِ، وَالِاسْتِرْقَاقِ، وَالْمَنِّ، وَالْفِدْيَةِ بِالْمَالِ أَوْ بِالرِّجَالِ، يَفْعَلُ مِنْ ذٰلِكَ مَا فِيْهِ الْمَصْلَحَةُ. وَمَنْ أَسْلَمَ قَبْلَ الْأَسْرِ أَحْرَزَ مَالَهُ وَدَمَهُ وَصِغَارَ أَوْلَادِهِ. وَيُحْكَمُ لِلصَّبِيِّ بِالْإِسْلَامِ عِنْدَ وُجُوْدِ ثَلَاثَةِ أَسْبَابٍ: أَنْ يُسْلِمَ أَحَدُ أَبَوَيْهِ، أَوْ يَسْبِيَهُ مُسْلِمٌ مُنْفَرِدًا عَنْ أَبَوَيْهِ، أَوْ يُوْجَدَ لَقِيْطًا فِيْ دَارِ الْإِسْلَامِ.

Orang kafir yang ditawan1 ada dua golongan. Golongan yang langsung menjadi budak dengan ditawan, yaitu anak-anak dan perempuan. Dan golongan yang tidak langsung menjadi budak dengan ditawan, yaitu laki-laki yang telah baligh; mengenai mereka, imam diberi pilihan antara empat hal: (1) membunuh; (2) menjadikan budak; (3) membebaskan tanpa tebusan; dan (4) membebaskan dengan tebusan berupa harta atau tawanan; ia melakukan di antara itu mana yang paling maslahat. Barang siapa masuk Islam sebelum ditawan, terpeliharalah harta, darah, dan anak-anaknya yang masih kecil. Anak kecil dihukumi Islam karena adanya salah satu dari tiga sebab: (1) salah satu dari kedua orang tuanya masuk Islam; (2) ia ditawan oleh seorang muslim dalam keadaan terpisah dari kedua orang tuanya; atau (3) ia ditemukan sebagai anak terlantar di negeri Islam.

فَصْلٌPasal

وَمَنْ قَتَلَ قَتِيْلًا أُعْطِيَ سَلَبَهُ. وَتُقْسَمُ الْغَنِيْمَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ عَلَى خَمْسَةِ أَخْمَاسٍ: فَيُعْطَى أَرْبَعَةُ أَخْمَاسِهَا لِمَنْ شَهِدَ الْوَقْعَةَ، لِلْفَارِسِ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ، وَلِلرَّاجِلِ سَهْمٌ. وَلَا يُسْهَمُ إِلَّا لِمَنِ اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسُ شَرَاۤئِطَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالذُّكُوْرَةُ، فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِنْ ذٰلِكَ رُضِخَ لَهُ وَلَمْ يُسْهَمْ لَهُ. وَيُقْسَمُ الْخُمُسُ عَلَى خَمْسَةِ أَسْهُمٍ: سَهْمٌ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْرَفُ بَعْدَهُ لِلْمَصَالِحِ، وَسَهْمٌ لِذَوِي الْقُرْبَى، وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ، وَسَهْمٌ لِلْيَتَامَى، وَسَهْمٌ لِلْمَسَاكِيْنِ، وَسَهْمٌ لِأَبْنَاۤءِ السَّبِيْلِ.

Barang siapa membunuh seorang musuh, ia diberi salab2 (barang yang dibawa musuh yang terbunuh itu). Sesudah itu, ghanimah (harta rampasan perang) dibagi menjadi lima bagian. Empat perlimanya diberikan kepada orang yang ikut serta dalam pertempuran: bagi pasukan berkuda tiga bagian, dan bagi pasukan pejalan kaki satu bagian. Tidak diberi bagian kecuali orang yang padanya terpenuhi lima syarat: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; dan (5) laki-laki. Jika salah satu syarat itu tidak terpenuhi, ia diberi radhkh (pemberian sekadarnya) dan tidak diberi bagian penuh. Seperlima (sisanya) dibagi menjadi lima bagian: (1) satu bagian untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sepeninggal beliau dibelanjakan untuk kemaslahatan (umum); (2) satu bagian untuk kerabat beliau, yaitu Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib; (3) satu bagian untuk anak-anak yatim; (4) satu bagian untuk orang-orang miskin; dan (5) satu bagian untuk ibnu sabil.

فَصْلٌPasal

وَيُقْسَمُ مَالُ الْفَيْءِ عَلَى خَمْسِ فِرَقٍ: يُصْرَفُ خُمُسُهُ عَلَى مَنْ يُصْرَفُ عَلَيْهِمْ خُمُسُ الْغَنِيْمَةِ، وَيُعْطَى أَرْبَعَةُ أَخْمَاسِهِ لِلْمُقَاتِلَةِ وَفِيْ مَصَالِحِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Harta fai' (harta dari orang kafir yang diperoleh tanpa peperangan) dibagi menjadi lima bagian. Seperlimanya dibelanjakan untuk golongan yang menerima seperlima ghanimah, dan empat perlimanya diberikan kepada para tentara dan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

فَصْلٌPasal

وَشَرَاۤئِطُ وُجُوْبِ الْجِزْيَةِ خَمْسُ خِصَالٍ: الْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالذُّكُوْرَةُ، وَأَنْ يَكُوْنَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أَوْ مِمَّنْ لَهُ شُبْهَةُ كِتَابٍ. وَأَقَلُّ الْجِزْيَةِ دِيْنَارٌ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ، وَيُؤْخَذُ مِنَ الْمُتَوَسِّطِ دِيْنَارَانِ، وَمِنَ الْمُوْسِرِ أَرْبَعَةُ دَنَانِيْرَ. وَيَجُوْزُ أَنْ يُشْتَرَطَ عَلَيْهِمُ الضِّيَافَةُ فَضْلًا عَنْ مِقْدَارِ الْجِزْيَةِ. وَيَتَضَمَّنُ عَقْدُ الْجِزْيَةِ أَرْبَعَةَ أَشْيَاۤءَ: أَنْ يُؤَدُّوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ، وَأَنْ تَجْرِيَ عَلَيْهِمْ أَحْكَامُ الْإِسْلَامِ، وَأَنْ لَا يَذْكُرُوْا دِيْنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا بِخَيْرٍ، وَأَنْ لَا يَفْعَلُوْا مَا فِيْهِ ضَرَرٌ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ. وَيُعْرَفُوْنَ بِلُبْسِ الْغِيَارِ وَشَدِّ الزُّنَّارِ، وَيُمْنَعُوْنَ مِنْ رُكُوْبِ الْخَيْلِ.

Syarat wajib jizyah3 ada lima perkara: (1) baligh; (2) berakal; (3) merdeka; (4) laki-laki; dan (5) termasuk ahli kitab atau orang yang memiliki syubhat kitab (seperti Majusi). Jizyah paling sedikit satu dinar setiap tahun; dari orang yang sedang (menengah) diambil dua dinar, dan dari orang yang kaya empat dinar. Boleh disyaratkan atas mereka menjamu tamu, sebagai tambahan atas kadar jizyah. Akad jizyah mengandung empat perkara: (1) mereka membayar jizyah dengan tunduk; (2) berlaku atas mereka hukum-hukum Islam; (3) mereka tidak menyebut agama Islam kecuali dengan baik; dan (4) mereka tidak melakukan sesuatu yang membahayakan kaum muslimin. Mereka dikenali dengan memakai ghiyar (pakaian pembeda) dan mengikat zunnar (sabuk khusus), dan mereka dilarang menunggang kuda.

Catatan

1 Hukum-hukum dalam bab ini berlaku dalam peperangan yang sah antara negara Islam dan musuhnya, di bawah komando imam.

2 Salab ialah pakaian, senjata, kendaraan, dan perlengkapan yang dibawa oleh musuh yang terbunuh.

3 Jizyah ialah pajak tahunan yang dibayar oleh ahli kitab yang tinggal di bawah perlindungan negara Islam, sebagai imbalan keamanan dan pembebasan dari kewajiban berperang.

كِتَابُ الصَّيْدِ وَالذَّبَاۤئِحِKitab Perburuan dan Penyembelihan

وَمَا قُدِرَ عَلَى ذَكَاتِهِ فَذَكَاتُهُ فِيْ حَلْقِهِ وَلَبَّتِهِ، وَمَا لَمْ يُقْدَرْ عَلَى ذَكَاتِهِ فَذَكَاتُهُ عَقْرُهُ حَيْثُ قُدِرَ عَلَيْهِ. وَكَمَالُ الذَّكَاةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاۤءَ: قَطْعُ الْحُلْقُوْمِ، وَالْمَرِيْۤءِ، وَالْوَدَجَيْنِ. وَالْمُجْزِئُ مِنْهَا شَيْئَانِ: قَطْعُ الْحُلْقُوْمِ، وَالْمَرِيْۤءِ.

Hewan yang dapat disembelih, penyembelihannya pada leher bagian atas dan bagian bawahnya (pangkal leher)1. Hewan yang tidak dapat disembelih, penyembelihannya dengan melukainya di bagian mana saja yang dapat dikenai. Kesempurnaan penyembelihan ada empat perkara: memotong saluran napas (hulqum), saluran makanan (mari'), dan dua urat leher2. Yang mencukupi darinya ada dua perkara: memotong saluran napas dan saluran makanan.

وَيَجُوْزُ الِاصْطِيَادُ بِكُلِّ جَارِحَةٍ مُعَلَّمَةٍ مِنَ السِّبَاعِ وَمِنْ جَوَارِحِ الطَّيْرِ. وَشَرَاۤئِطُ تَعْلِيْمِهَا أَرْبَعَةٌ: أَنْ تَكُوْنَ إِذَا أُرْسِلَتِ اسْتَرْسَلَتْ، وَإِذَا زُجِرَتِ انْزَجَرَتْ، وَإِذَا قَتَلَتْ صَيْدًا لَمْ تَأْكُلْ مِنْهُ شَيْئًا، وَأَنْ يَتَكَرَّرَ ذٰلِكَ مِنْهَا. فَإِنْ عُدِمَ أَحَدُ الشَّرَاۤئِطِ لَمْ يَحِلَّ مَا أَخَذَتْهُ إِلَّا أَنْ يُدْرَكَ حَيًّا فَيُذَكَّى.

Boleh berburu dengan setiap binatang pemburu yang terlatih, baik dari binatang buas maupun burung pemburu. Syarat terlatihnya ada empat: (1) apabila dilepas, ia pergi; (2) apabila dihardik, ia berhenti; (3) apabila ia membunuh buruan, ia tidak memakan sedikit pun darinya; dan (4) hal itu terjadi berulang-ulang darinya. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, buruan yang ditangkapnya tidak halal, kecuali jika didapati masih hidup lalu disembelih.

وَتَجُوْزُ الذَّكَاةُ بِكُلِّ مَا يَجْرَحُ إِلَّا بِالسِّنِّ وَالظُّفُرِ. وَتَحِلُّ ذَكَاةُ كُلِّ مُسْلِمٍ وَكِتَابِيٍّ، وَلَا تَحِلُّ ذَبِيْحَةُ مَجُوْسِيٍّ وَلَا وَثَنِيٍّ. وَذَكَاةُ الْجَنِيْنِ بِذَكَاةِ أُمِّهِ إِلَّا أَنْ يُوْجَدَ حَيًّا فَيُذَكَّى. وَمَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ إِلَّا الشُّعُوْرَ الْمُنْتَفَعَ بِهَا فِي الْمَفَارِشِ وَالْمَلَابِسِ.

Penyembelihan boleh dilakukan dengan segala sesuatu yang dapat melukai (tajam), kecuali dengan gigi dan kuku. Halal sembelihan setiap orang muslim dan ahli kitab3, dan tidak halal sembelihan orang Majusi dan penyembah berhala. Penyembelihan janin cukup dengan penyembelihan induknya, kecuali jika ia didapati (keluar) dalam keadaan hidup, maka ia disembelih. Bagian yang dipotong dari hewan yang masih hidup hukumnya bangkai, kecuali bulu-bulu yang dimanfaatkan untuk alas dan pakaian.

فَصْلٌPasal

وَكُلُّ حَيَوَانٍ اسْتَطَابَتْهُ الْعَرَبُ فَهُوَ حَلَالٌ إِلَّا مَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِتَحْرِيْمِهِ، وَكُلُّ حَيَوَانٍ اسْتَخْبَثَتْهُ الْعَرَبُ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَّا مَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِإِبَاحَتِهِ. وَيَحْرُمُ مِنَ السِّبَاعِ مَا لَهُ نَابٌ قَوِيٌّ يَعْدُوْ بِهِ، وَيَحْرُمُ مِنَ الطُّيُوْرِ مَا لَهُ مِخْلَبٌ قَوِيٌّ يَجْرَحُ بِهِ. وَيَحِلُّ لِلْمُضْطَرِّ فِي الْمَخْمَصَةِ أَنْ يَأْكُلَ مِنَ الْمَيْتَةِ الْمُحَرَّمَةِ مَا يَسُدُّ بِهِ رَمَقَهُ. وَمَيْتَتَانِ حَلَالَانِ: السَّمَكُ وَالْجَرَادُ، وَدَمَانِ حَلَالَانِ: الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ.

Setiap hewan yang dianggap baik oleh orang Arab4 hukumnya halal, kecuali yang diharamkan oleh syariat. Setiap hewan yang dianggap menjijikkan oleh orang Arab hukumnya haram, kecuali yang dibolehkan oleh syariat. Haram dari binatang buas setiap yang memiliki taring kuat yang digunakannya untuk menyerang, dan haram dari burung setiap yang memiliki cakar kuat yang digunakannya untuk melukai. Bagi orang yang terpaksa karena kelaparan, halal memakan bangkai yang diharamkan sekadar untuk mempertahankan hidupnya. Ada dua bangkai yang halal: ikan dan belalang; dan ada dua darah yang halal: hati dan limpa.

فَصْلٌPasal

وَالْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَيُجْزِئُ فِيْهَا الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ، وَالثَّنِيُّ مِنَ الْمَعْزِ، وَالثَّنِيُّ مِنَ الْإِبِلِ، وَالثَّنِيُّ مِنَ الْبَقَرِ. وَتُجْزِئُ الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالشَّاةُ عَنْ وَاحِدٍ. وَأَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ فِي الضَّحَايَا: الْعَوْرَاۤءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْعَرْجَاۤءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا، وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَجْفَاۤءُ الَّتِيْ ذَهَبَ مُخُّهَا مِنَ الْهُزَالِ. وَيُجْزِئُ الْخَصِيُّ، وَالْمَكْسُوْرُ الْقَرْنِ، وَلَا تُجْزِئُ الْمَقْطُوْعَةُ الْأُذُنِ وَالذَّنَبِ.

Kurban hukumnya sunah muakkad. Yang mencukupi untuk kurban adalah jadza' dari domba5, tsaniy dari kambing kacang, tsaniy dari unta, dan tsaniy dari sapi. Seekor unta mencukupi untuk tujuh orang, seekor sapi untuk tujuh orang, dan seekor kambing untuk satu orang. Ada empat macam hewan yang tidak mencukupi untuk kurban: (1) yang buta sebelah matanya dan jelas butanya; (2) yang pincang dan jelas pincangnya; (3) yang sakit dan jelas sakitnya; dan (4) yang sangat kurus hingga hilang sumsumnya karena kurusnya. Hewan yang dikebiri dan yang patah tanduknya mencukupi, tetapi yang terpotong telinga dan ekornya tidak mencukupi.

وَوَقْتُ الذَّبْحِ مِنْ وَقْتِ صَلَاةِ الْعِيْدِ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ. وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ الذَّبْحِ خَمْسَةُ أَشْيَاۤءَ: التَّسْمِيَةُ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ، وَالتَّكْبِيْرُ، وَالدُّعَاۤءُ بِالْقَبُوْلِ. وَلَا يَأْكُلُ الْمُضَحِّيْ شَيْئًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُوْرَةِ، وَيَأْكُلُ مِنَ الْمُتَطَوَّعِ بِهَا، وَلَا يَبِيْعُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ، وَيُطْعِمُ الْفُقَرَاۤءَ وَالْمَسَاكِيْنَ.

Waktu penyembelihan dimulai sejak waktu salat Id sampai terbenam matahari pada hari terakhir dari hari-hari tasyrik. Disunahkan ketika menyembelih lima perkara: (1) membaca basmalah; (2) membaca salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; (3) menghadap kiblat; (4) bertakbir; dan (5) berdoa agar diterima. Orang yang berkurban tidak boleh memakan sedikit pun dari kurban nazar6, tetapi boleh memakan dari kurban sunah. Ia tidak boleh menjual sesuatu pun dari hewan kurban, dan hendaknya ia memberi makan orang-orang fakir dan miskin.

فَصْلٌPasal

وَالْعَقِيْقَةُ مُسْتَحَبَّةٌ، وَهِيَ الذَّبِيْحَةُ عَنِ الْمَوْلُوْدِ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُذْبَحُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ، وَيُطْعِمُ الْفُقَرَاۤءَ وَالْمَسَاكِيْنَ.

Akikah7 hukumnya sunah, yaitu sembelihan untuk bayi yang lahir pada hari ketujuhnya. Untuk anak laki-laki disembelih dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing, dan hendaknya ia memberi makan orang-orang fakir dan miskin.

Catatan

1 Penyembelihan unta disunahkan pada pangkal leher (nahr), sedangkan sapi dan kambing pada bagian atas leher.

2 Dua urat leher (wadajain) ialah dua pembuluh darah besar di kedua sisi leher.

3 Ahli kitab ialah Yahudi dan Nasrani.

4 Yakni orang Arab yang hidup lapang pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam keadaan normal, bukan dalam keadaan terpaksa.

5 Jadza' domba ialah yang berumur satu tahun atau sudah tanggal gigi depannya; tsaniy kambing kacang dan sapi berumur dua tahun; tsaniy unta berumur lima tahun.

6 Kurban nazar wajib disedekahkan seluruhnya kepada fakir miskin.

7 Akikah tetap disunahkan setelah hari ketujuh, bahkan sampai anak itu baligh.

كِتَابُ السَّبْقِ وَالرَّمْيِKitab Perlombaan dan Memanah

وَتَصِحُّ الْمُسَابَقَةُ عَلَى الدَّوَاۤبِّ، وَالْمُنَاضَلَةُ بِالسِّهَامِ، إِذَا كَانَتِ الْمَسَافَةُ مَعْلُوْمَةً، وَصِفَةُ الْمُنَاضَلَةِ مَعْلُوْمَةً. وَيُخْرِجُ الْعِوَضَ أَحَدُ الْمُتَسَابِقَيْنِ، حَتَّى إِنَّهُ إِذَا سَبَقَ اسْتَرَدَّهُ، وَإِنْ سُبِقَ أَخَذَهُ صَاحِبُهُ لَهُ. وَإِنْ أَخْرَجَاهُ مَعًا لَمْ يَجُزْ إِلَّا أَنْ يُدْخِلَا بَيْنَهُمَا مُحَلِّلًا: إِنْ سَبَقَ أَخَذَ الْعِوَضَ، وَإِنْ سُبِقَ لَمْ يَغْرَمْ.

Perlombaan pacuan binatang tunggangan dan lomba memanah hukumnya sah apabila jaraknya diketahui dan cara lomba memanahnya diketahui. Hadiah dikeluarkan oleh salah satu dari dua peserta lomba, sehingga apabila ia menang, ia mengambilnya kembali, dan jika ia kalah, rekannya mengambilnya. Jika keduanya sama-sama mengeluarkannya, hukumnya tidak boleh kecuali jika keduanya memasukkan seorang muhallil1 (peserta ketiga yang tidak ikut mengeluarkan hadiah) di antara mereka: jika ia menang, ia mengambil hadiah; dan jika ia kalah, ia tidak menanggung apa pun.

Catatan

1 Muhallil ialah peserta ketiga yang menjadikan lomba itu halal, sehingga tidak termasuk perjudian.

كِتَابُ الْأَيْمَانِ وَالنُّذُوْرِKitab Sumpah dan Nazar

وَلَا يَنْعَقِدُ الْيَمِيْنُ إِلَّا بِاللّٰهِ تَعَالَى، أَوْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاۤئِهِ، أَوْ صِفَةٍ مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ. وَمَنْ حَلَفَ بِصَدَقَةِ مَالِهِ فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الصَّدَقَةِ أَوْ كَفَّارَةِ الْيَمِيْنِ. وَلَا شَيْءَ فِيْ لَغْوِ الْيَمِيْنِ. وَمَنْ حَلَفَ أَنْ لَا يَفْعَلَ شَيْئًا فَأَمَرَ غَيْرَهُ بِفِعْلِهِ لَمْ يَحْنَثْ، وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ أَمْرَيْنِ فَفَعَلَ أَحَدَهُمَا لَمْ يَحْنَثْ. وَكَفَّارَةُ الْيَمِيْنِ هُوَ مُخَيَّرٌ فِيْهَا بَيْنَ ثَلَاثَةِ أَشْيَاۤءَ: عِتْقِ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، أَوْ إِطْعَامِ عَشَرَةِ مَسَاكِيْنَ كُلَّ مِسْكِيْنٍ مُدًّا، أَوْ كِسْوَتِهِمْ ثَوْبًا ثَوْبًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ.

Sumpah tidak sah kecuali dengan (menyebut nama) Allah Ta'ala, atau dengan salah satu nama-Nya, atau salah satu sifat Dzat-Nya. Barang siapa bersumpah dengan menyedekahkan hartanya, ia boleh memilih antara bersedekah atau membayar kafarat sumpah. Tidak ada apa pun (kewajiban) pada sumpah laghw1 (sumpah yang terucap tanpa maksud). Barang siapa bersumpah tidak akan melakukan sesuatu, lalu ia menyuruh orang lain melakukannya, ia tidak melanggar sumpah. Barang siapa bersumpah akan melakukan dua hal, lalu ia melakukan salah satunya, ia tidak melanggar sumpah. Dalam kafarat sumpah, ia diberi pilihan antara tiga hal: (1) memerdekakan budak yang mukmin; (2) memberi makan sepuluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud; atau (3) memberi pakaian kepada mereka, masing-masing satu helai pakaian. Jika ia tidak mendapatkannya, ia berpuasa tiga hari.

فَصْلٌPasal

وَالنَّذْرُ يَلْزَمُ فِي الْمُجَازَاةِ عَلَى مُبَاحٍ وَطَاعَةٍ، كَقَوْلِهِ: إِنْ شَفَى اللّٰهُ مَرِيْضِيْ فَلِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُصَلِّيَ، أَوْ أَصُوْمَ، أَوْ أَتَصَدَّقَ، وَيَلْزَمُهُ مِنْ ذٰلِكَ مَا يَقَعُ عَلَيْهِ الِاسْمُ. وَلَا نَذْرَ فِيْ مَعْصِيَةٍ، كَقَوْلِهِ: إِنْ قَتَلْتُ فُلَانًا فَلِلّٰهِ عَلَيَّ كَذَا. وَلَا يَلْزَمُ النَّذْرُ عَلَى تَرْكِ مُبَاحٍ، كَقَوْلِهِ: لَا آكُلُ لَحْمًا، وَلَا أَشْرَبُ لَبَنًا، وَمَا أَشْبَهَ ذٰلِكَ.

Nazar menjadi wajib dalam bentuk mujazah (balasan atas suatu nikmat) pada perkara yang mubah dan ketaatan, seperti perkataannya: “Jika Allah menyembuhkan orangku yang sakit, maka wajib atasku karena Allah untuk salat, atau berpuasa, atau bersedekah.” Ia wajib melaksanakan dari hal itu kadar paling sedikit2 yang dapat disebut dengan nama tersebut. Tidak ada nazar dalam maksiat, seperti perkataannya: “Jika aku membunuh si Fulan, maka wajib atasku karena Allah begini.” Nazar tidak menjadi wajib untuk meninggalkan perkara mubah, seperti perkataannya: “Aku tidak akan makan daging, tidak akan minum susu,” dan yang semisal itu.

Catatan

1 Seperti ucapan "Tidak, demi Allah" dan "Ya, demi Allah" yang terucap dalam percakapan tanpa maksud bersumpah.

2 Contoh: nazar salat cukup dua rakaat, nazar puasa cukup satu hari, dan nazar sedekah cukup dengan sesuatu yang memiliki nilai.

كِتَابُ الْأَقْضِيَةِ وَالشَّهَادَاتِKitab Peradilan dan Persaksian

وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَلِيَ الْقَضَاۤءَ إِلَّا مَنِ اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالذُّكُوْرِيَّةُ، وَالْعَدَالَةُ، وَمَعْرِفَةُ أَحْكَامِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَمَعْرِفَةُ الْإِجْمَاعِ، وَمَعْرِفَةُ الِاخْتِلَافِ، وَمَعْرِفَةُ طُرُقِ الِاجْتِهَادِ، وَمَعْرِفَةُ طَرَفٍ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ، وَمَعْرِفَةُ تَفْسِيْرِ كِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَى، وَأَنْ يَكُوْنَ سَمِيْعًا، وَأَنْ يَكُوْنَ بَصِيْرًا، وَأَنْ يَكُوْنَ كَاتِبًا، وَأَنْ يَكُوْنَ مُسْتَيْقِظًا.

Tidak boleh memegang jabatan qadhi1 (hakim) kecuali orang yang padanya terpenuhi lima belas sifat2: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; (5) laki-laki; (6) adil; (7) mengetahui hukum-hukum Al-Qur'an dan Sunah; (8) mengetahui ijmak; (9) mengetahui perbedaan pendapat (ulama); (10) mengetahui metode-metode ijtihad; (11) mengetahui sebagian bahasa Arab; (12) mengetahui tafsir Kitab Allah Ta'ala; (13) dapat mendengar dan dapat melihat; (14) dapat menulis; dan (15) sadar (tidak pelupa).

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْلِسَ فِيْ وَسَطِ الْبَلَدِ فِيْ مَوْضِعٍ بَارِزٍ لِلنَّاسِ، وَلَا حَاجِبَ لَهُ، وَلَا يَقْعُدُ لِلْقَضَاۤءِ فِي الْمَسْجِدِ. وَيُسَوِّيْ بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ فِيْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاۤءَ: فِي الْمَجْلِسِ، وَاللَّفْظِ، وَاللَّحْظِ. وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَقْبَلَ الْهَدِيَّةَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ. وَيَجْتَنِبُ الْقَضَاۤءَ فِيْ عَشَرَةِ مَوَاضِعَ: عِنْدَ الْغَضَبِ، وَالْجُوْعِ، وَالْعَطَشِ، وَشِدَّةِ الشَّهْوَةِ، وَالْحُزْنِ، وَالْفَرَحِ الْمُفْرِطَيْنِ، وَعِنْدَ الْمَرَضِ، وَمُدَافَعَةِ الْأَخْبَثَيْنِ، وَعِنْدَ النُّعَاسِ، وَشِدَّةِ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ.

Disunahkan qadhi duduk di tengah kota, di tempat yang terbuka bagi orang banyak, tanpa penjaga pintu (yang menghalangi orang), dan ia tidak duduk untuk mengadili di masjid. Ia menyamakan kedua pihak yang bersengketa dalam tiga hal: tempat duduk, ucapan, dan pandangan. Ia tidak boleh menerima hadiah3 dari orang-orang yang berada dalam wilayah kerjanya. Ia menghindari mengadili dalam sepuluh keadaan: ketika marah, lapar, haus, syahwat yang memuncak, sedih dan gembira yang berlebihan, ketika sakit, ketika menahan buang air besar dan kecil, ketika mengantuk, dan ketika sangat panas dan sangat dingin.

وَلَا يَسْأَلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ كَمَالِ الدَّعْوَى، وَلَا يُحَلِّفُهُ إِلَّا بَعْدَ سُؤَالِ الْمُدَّعِيْ. وَلَا يُلَقِّنُ خَصْمًا حُجَّتَهُ، وَلَا يُفَهِّمُهُ كَلَامًا، وَلَا يَتَعَنَّتُ بِالشُّهَدَاۤءِ. وَلَا يَقْبَلُ الشَّهَادَةَ إِلَّا مِمَّنْ ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُ. وَلَا يَقْبَلُ شَهَادَةَ عَدُوٍّ عَلَى عَدُوِّهِ، وَلَا شَهَادَةَ وَالِدٍ لِوَلَدِهِ، وَلَا وَلَدٍ لِوَالِدِهِ. وَلَا يَقْبَلُ كِتَابَ قَاضٍ إِلَى قَاضٍ آخَرَ فِي الْأَحْكَامِ إِلَّا بَعْدَ شَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ يَشْهَدَانِ بِمَا فِيْهِ.

Ia tidak menanyai pihak tergugat kecuali setelah gugatan disampaikan dengan sempurna, dan tidak menyumpahnya kecuali setelah penggugat memintanya. Ia tidak boleh mendiktekan hujah kepada salah satu pihak, tidak boleh mengajarinya ucapan, dan tidak boleh mempersulit para saksi. Ia tidak menerima kesaksian kecuali dari orang yang telah terbukti keadilannya. Ia tidak menerima kesaksian seorang musuh atas musuhnya, tidak pula kesaksian orang tua untuk anaknya, dan tidak pula kesaksian anak untuk orang tuanya. Ia tidak menerima surat dari seorang qadhi kepada qadhi lain dalam perkara hukum kecuali setelah ada kesaksian dua orang saksi yang bersaksi atas isinya.

فَصْلٌPasal

وَيَفْتَقِرُ الْقَاسِمُ إِلَى سَبْعَةِ شَرَاۤئِطَ: الْإِسْلَامِ، وَالْبُلُوْغِ، وَالْعَقْلِ، وَالْحُرِّيَّةِ، وَالذُّكُوْرَةِ، وَالْعَدَالَةِ، وَالْحِسَابِ. فَإِنْ تَرَاضَى الشَّرِيْكَانِ بِمَنْ يَقْسِمُ بَيْنَهُمَا لَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى ذٰلِكَ. وَإِذَا كَانَ فِي الْقِسْمَةِ تَقْوِيْمٌ لَمْ يُقْتَصَرْ فِيْهِ عَلَى أَقَلَّ مِنِ اثْنَيْنِ. وَإِذَا دَعَا أَحَدُ الشَّرِيْكَيْنِ شَرِيْكَهُ إِلَى قِسْمَةِ مَا لَا ضَرَرَ فِيْهِ لَزِمَ الْآخَرَ إِجَابَتُهُ.

Petugas pembagi (qasim) memerlukan tujuh syarat: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; (5) laki-laki; (6) adil; dan (7) menguasai ilmu hitung. Jika kedua pihak yang berserikat rela dengan seseorang yang membagi di antara mereka, maka tidak diperlukan syarat-syarat itu. Apabila dalam pembagian terdapat penaksiran harga, maka tidak cukup kurang dari dua orang (penaksir). Apabila salah seorang dari dua sekutu mengajak sekutunya untuk membagi sesuatu yang tidak menimbulkan mudarat, sekutu yang lain wajib memenuhinya.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا كَانَ مَعَ الْمُدَّعِيْ بَيِّنَةٌ سَمِعَهَا الْحَاكِمُ وَحَكَمَ لَهُ بِهَا، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِيَمِيْنِهِ، فَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِيْنِ رُدَّتْ عَلَى الْمُدَّعِيْ فَيَحْلِفُ وَيَسْتَحِقُّ. وَإِذَا تَدَاعَيَا شَيْئًا فِيْ يَدِ أَحَدِهِمَا فَالْقَوْلُ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِ بِيَمِيْنِهِ، وَإِنْ كَانَ فِيْ أَيْدِيْهِمَا تَحَالَفَا وَجُعِلَ بَيْنَهُمَا. وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ حَلَفَ عَلَى الْبَتِّ وَالْقَطْعِ، وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ غَيْرِهِ: فَإِنْ كَانَ إِثْبَاتًا حَلَفَ عَلَى الْبَتِّ وَالْقَطْعِ، وَإِنْ كَانَ نَفْيًا حَلَفَ عَلَى نَفْيِ الْعِلْمِ.

Apabila penggugat memiliki bukti, hakim mendengarkannya dan memutuskan perkara untuknya berdasarkan bukti itu. Jika ia tidak memiliki bukti, maka yang dipegang adalah perkataan tergugat disertai sumpahnya. Jika tergugat menolak bersumpah, sumpah dikembalikan kepada penggugat, lalu ia bersumpah dan berhak (atas yang digugatnya). Apabila dua orang saling menggugat sesuatu yang berada di tangan salah satunya, maka yang dipegang adalah perkataan orang yang menguasainya disertai sumpahnya. Jika barang itu berada di tangan keduanya, keduanya saling bersumpah dan barang itu dijadikan milik bersama di antara keduanya. Barang siapa bersumpah atas perbuatannya sendiri, ia bersumpah dengan pasti dan tegas. Barang siapa bersumpah atas perbuatan orang lain: jika berupa penetapan, ia bersumpah dengan pasti dan tegas; dan jika berupa penafian, ia bersumpah atas ketidaktahuannya.

فَصْلٌPasal

وَلَا تُقْبَلُ الشَّهَادَةُ إِلَّا مِمَّنِ اجْتَمَعَتْ فِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوْغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالْعَدَالَةُ. وَلِلْعَدَالَةِ خَمْسُ شَرَاۤئِطَ: أَنْ يَكُوْنَ مُجْتَنِبًا لِلْكَبَاۤئِرِ، غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَى الْقَلِيْلِ مِنَ الصَّغَاۤئِرِ، سَلِيْمَ السَّرِيْرَةِ، مَأْمُوْنَ الْغَضَبِ، مُحَافِظًا عَلَى مُرُوْۤءَةِ مِثْلِهِ.

Kesaksian tidak diterima kecuali dari orang yang padanya terkumpul lima sifat: (1) Islam; (2) baligh; (3) berakal; (4) merdeka; dan (5) adil. Keadilan memiliki lima syarat: (1) menjauhi dosa-dosa besar; (2) tidak terus-menerus melakukan dosa kecil walaupun sedikit; (3) bersih hatinya; (4) dapat dipercaya ketika marah; dan (5) menjaga muru'ah4 (harga diri) yang layak bagi orang semisalnya.

فَصْلٌPasal

وَالْحُقُوْقُ ضَرْبَانِ: حُقُوْقُ اللّٰهِ تَعَالَى، وَحُقُوْقُ الْآدَمِيِّيْنَ. فَأَمَّا حُقُوْقُ الْآدَمِيِّيْنَ فَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: ضَرْبٌ لَا يُقْبَلُ فِيْهِ إِلَّا شَاهِدَانِ ذَكَرَانِ، وَهُوَ مَا لَا يُقْصَدُ مِنْهُ الْمَالُ وَيَطَّلِعُ عَلَيْهِ الرِّجَالُ. وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ شَاهِدَانِ، أَوْ رَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ، أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِيْنُ الْمُدَّعِيْ، وَهُوَ مَا كَانَ الْقَصْدُ مِنْهُ الْمَالَ. وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ رَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ، وَهُوَ مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ الرِّجَالُ.

Hak itu ada dua macam: hak-hak Allah Ta'ala dan hak-hak manusia. Adapun hak-hak manusia ada tiga macam. (1) Hak yang tidak diterima kecuali dengan dua orang saksi laki-laki, yaitu perkara yang tidak dimaksudkan untuk harta dan biasa diketahui oleh laki-laki. (2) Hak yang diterima dengan dua orang saksi (laki-laki), atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan, atau seorang saksi dan sumpah penggugat, yaitu perkara yang dimaksudkan untuk harta. (3) Hak yang diterima dengan seorang laki-laki dan dua orang perempuan, atau empat orang perempuan, yaitu perkara yang tidak biasa diketahui oleh laki-laki.

وَأَمَّا حُقُوْقُ اللّٰهِ تَعَالَى فَلَا تُقْبَلُ فِيْهَا النِّسَاۤءُ، وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: ضَرْبٌ لَا يُقْبَلُ فِيْهِ أَقَلُّ مِنْ أَرْبَعَةٍ، وَهُوَ الزِّنَا. وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ اثْنَانِ، وَهُوَ مَا سِوَى الزِّنَا مِنَ الْحُدُوْدِ. وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ وَاحِدٌ، وَهُوَ هِلَالُ رَمَضَانَ.

Adapun hak-hak Allah Ta'ala, tidak diterima padanya kesaksian perempuan. Hak-hak ini ada tiga macam. (1) Yang tidak diterima kurang dari empat orang saksi, yaitu zina. (2) Yang diterima dengan dua orang saksi, yaitu hudud selain zina. (3) Yang diterima dengan satu orang saksi, yaitu hilal Ramadan.

وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْأَعْمَى إِلَّا فِيْ خَمْسَةِ مَوَاضِعَ: الْمَوْتِ، وَالنَّسَبِ، وَالْمِلْكِ الْمُطْلَقِ، وَالتَّرْجَمَةِ، وَمَا شَهِدَ بِهِ قَبْلَ الْعَمَى، وَمَا شَهِدَ بِهِ عَلَى الْمَضْبُوْطِ. وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ جَاۤرٍّ لِنَفْسِهِ نَفْعًا، وَلَا دَافِعٍ عَنْهَا ضَرَرًا.

Kesaksian orang buta tidak diterima kecuali dalam lima perkara5: (1) kematian; (2) nasab; (3) kepemilikan mutlak; (4) penerjemahan; (5) perkara yang ia saksikan sebelum buta; dan perkara yang ia saksikan atas orang yang ia pegangi6 (sampai ke hadapan hakim). Tidak diterima kesaksian orang yang menarik manfaat untuk dirinya, dan tidak pula orang yang menolak mudarat dari dirinya.

Catatan

1 Syarat-syarat ini ialah syarat qadhi mujtahid. Bila orang yang memenuhinya tidak ada, sah pengangkatan orang yang paling layak di antara yang ada, karena darurat.

2 Rincian dalam matan berjumlah enam belas bila dihitung satu per satu. Bilangan lima belas sesuai bila dapat mendengar dan dapat melihat dihitung satu sifat, yaitu sehatnya pancaindra.

3 Karena hadiah itu dapat memengaruhi keadilannya dalam memutuskan perkara.

4 Muru'ah ialah menjaga diri dari perbuatan yang dianggap rendah menurut adat orang terhormat di tempatnya, walaupun tidak haram.

5 Rincian yang disebutkan dalam matan berjumlah enam, dan bilangan lima tidak dapat dicocokkan dengannya tanpa memaksakan penggabungan dua perkara yang berbeda.

6 Contoh: seseorang mengaku sesuatu di telinga orang buta, lalu orang buta itu memeganginya terus sampai membawanya ke hadapan hakim.

كِتَابُ الْعِتْقِKitab Memerdekakan Budak

وَيَصِحُّ الْعِتْقُ مِنْ كُلِّ مَالِكٍ جَاۤئِزِ التَّصَرُّفِ فِيْ مِلْكِهِ، وَيَقَعُ بِصَرِيْحِ الْعِتْقِ، وَالْكِنَايَةِ مَعَ النِّيَّةِ. وَإِذَا أَعْتَقَ بَعْضَ عَبْدٍ عَتَقَ جَمِيْعُهُ، وَإِنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِيْ عَبْدٍ وَهُوَ مُوْسِرٌ سَرَى الْعِتْقُ إِلَى بَاقِيْهِ، وَكَانَ عَلَيْهِ قِيْمَةُ نَصِيْبِ شَرِيْكِهِ. وَمَنْ مَلَكَ وَاحِدًا مِنْ وَالِدَيْهِ أَوْ مَوْلُوْدِيْهِ عَتَقَ عَلَيْهِ.

Memerdekakan budak sah1 dilakukan oleh setiap pemilik yang boleh bertasaruf atas miliknya. Kemerdekaan jatuh dengan lafaz yang tegas, dan dengan lafaz kinayah disertai niat. Apabila ia memerdekakan sebagian budak, maka merdekalah seluruhnya. Jika ia memerdekakan bagiannya dalam seorang budak (milik bersama), sedangkan ia orang yang berkelapangan, maka kemerdekaan itu menjalar ke bagian sisanya, dan ia wajib membayar harga bagian sekutunya. Barang siapa memiliki salah seorang dari orang tuanya atau anak keturunannya, maka orang itu merdeka atasnya.

فَصْلٌPasal

وَالْوَلَاۤءُ مِنْ حُقُوْقِ الْعِتْقِ، وَحُكْمُهُ حُكْمُ التَّعْصِيْبِ عِنْدَ عَدَمِهِ. وَيَنْتَقِلُ الْوَلَاۤءُ عَنِ الْمُعْتِقِ إِلَى الذُّكُوْرِ مِنْ عَصَبَتِهِ. وَتَرْتِيْبُ الْعَصَبَاتِ فِي الْوَلَاۤءِ كَتَرْتِيْبِهِمْ فِي الْإِرْثِ. وَلَا يَجُوْزُ بَيْعُ الْوَلَاۤءِ وَلَا هِبَتُهُ.

Wala'2 adalah salah satu hak yang timbul dari memerdekakan budak, dan hukumnya seperti hukum 'ashabah ketika tidak ada 'ashabah (nasab). Wala' berpindah dari orang yang memerdekakan kepada 'ashabahnya yang laki-laki. Urutan 'ashabah dalam wala' seperti urutan mereka dalam warisan. Wala' tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.

فَصْلٌPasal

وَمَنْ قَالَ لِعَبْدِهِ: إِذَا مِتُّ فَأَنْتَ حُرٌّ، فَهُوَ مُدَبَّرٌ يَعْتِقُ بَعْدَ وَفَاتِهِ مِنْ ثُلُثِهِ. وَيَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَبِيْعَهُ فِيْ حَالِ حَيَاتِهِ، وَيَبْطُلُ تَدْبِيْرُهُ. وَحُكْمُ الْمُدَبَّرِ فِيْ حَالِ حَيَاةِ السَّيِّدِ حُكْمُ الْعَبْدِ الْقِنِّ.

Barang siapa berkata kepada budaknya: “Apabila aku mati, engkau merdeka,” maka budak itu menjadi mudabbar; ia merdeka sesudah wafat tuannya dari sepertiga hartanya. Tuan boleh menjualnya semasa hidupnya, dan batallah tadbirnya. Hukum budak mudabbar semasa tuannya masih hidup sama seperti hukum budak murni3.

فَصْلٌPasal

وَالْكِتَابَةُ مُسْتَحَبَّةٌ إِذَا سَأَلَهَا الْعَبْدُ وَكَانَ مَأْمُوْنًا مُكْتَسِبًا. وَلَا تَصِحُّ إِلَّا بِمَالٍ مَعْلُوْمٍ، وَيَكُوْنُ مُؤَجَّلًا إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوْمٍ أَقَلُّهُ نَجْمَانِ. وَهِيَ مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ لَازِمَةٌ، وَمِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ جَاۤئِزَةٌ، فَلَهُ فَسْخُهَا مَتَى شَاۤءَ. وَلِلْمُكَاتَبِ التَّصَرُّفُ فِيْمَا فِيْ يَدِهِ مِنَ الْمَالِ. وَعَلَى السَّيِّدِ أَنْ يَضَعَ عَنْهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ مَا يَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى أَدَاۤءِ نُجُوْمِ الْكِتَابَةِ. وَلَا يَعْتِقُ إِلَّا بِأَدَاۤءِ جَمِيْعِ الْمَالِ.

Kitabah (pemerdekaan budak dengan cicilan) disunahkan apabila budak memintanya dan ia dapat dipercaya serta mampu berusaha. Kitabah tidak sah kecuali dengan harta yang jelas, yang dibayar secara bertempo sampai waktu yang jelas, paling sedikit dua kali angsuran. Kitabah mengikat dari pihak tuan, tetapi tidak mengikat dari pihak budak mukatab, sehingga ia boleh membatalkannya kapan saja ia kehendaki. Budak mukatab boleh bertasaruf atas harta yang ada di tangannya. Tuan wajib menggugurkan sebagian harta kitabah darinya yang dapat membantunya membayar angsuran-angsuran kitabah. Ia tidak merdeka kecuali setelah membayar seluruh hartanya.

فَصْلٌPasal

وَإِذَا أَصَابَ السَّيِّدُ أَمَتَهُ فَوَضَعَتْ مَا تَبَيَّنَ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ آدَمِيٍّ حَرُمَ عَلَيْهِ بَيْعُهَا وَرَهْنُهَا وَهِبَتُهَا، وَجَازَ لَهُ التَّصَرُّفُ فِيْهَا بِالِاسْتِخْدَامِ وَالْوَطْءِ. وَإِذَا مَاتَ السَّيِّدُ عَتَقَتْ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ قَبْلَ الدُّيُوْنِ وَالْوَصَايَا، وَوَلَدُهَا مِنْ غَيْرِهِ بِمَنْزِلَتِهَا. وَمَنْ أَصَابَ أَمَةَ غَيْرِهِ بِنِكَاحٍ فَالْوَلَدُ مِنْهَا مَمْلُوْكٌ لِسَيِّدِهَا، وَإِنْ أَصَابَهَا بِشُبْهَةٍ فَوَلَدُهُ مِنْهَا حُرٌّ، وَعَلَيْهِ قِيْمَتُهُ لِلسَّيِّدِ. وَإِنْ مَلَكَ الْأَمَةَ الْمُطَلَّقَةَ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمْ تَصِرْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ بِالْوَطْءِ فِي النِّكَاحِ، وَصَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ بِالْوَطْءِ بِالشُّبْهَةِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ. وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.

Apabila seorang tuan menggauli budak perempuannya, lalu budak itu melahirkan sesuatu yang telah tampak padanya sebagian bentuk manusia, maka haram bagi tuan menjualnya, menggadaikannya, dan menghibahkannya, tetapi ia boleh memanfaatkannya dengan mempekerjakan dan menggaulinya. Apabila tuan meninggal dunia, budak itu merdeka dari pokok harta peninggalannya, sebelum dibayarkan utang-utang dan wasiat-wasiat. Anak budak itu dari laki-laki lain berkedudukan sama dengannya. Barang siapa menggauli budak perempuan milik orang lain dengan nikah, maka anak darinya menjadi milik tuan budak itu. Jika ia menggaulinya karena syubhat, anaknya darinya merdeka, dan ia wajib membayar harga anak itu kepada tuannya. Jika setelah itu ia memiliki budak perempuan yang telah ia talak itu, budak itu tidak menjadi ummul walad baginya4 karena persetubuhan dalam nikah, dan ia menjadi ummul walad baginya karena persetubuhan syubhat menurut salah satu dari dua pendapat. Allah lebih mengetahui.

تَمَّ الْكِتَابُ بِحَمْدِ اللّٰهِ تَعَالَى.

Kitab ini selesai dengan memuji Allah Ta'ala.

Catatan

1 Perbudakan kini tidak lagi ada dalam praktik. Bab ini tetap dipelajari karena terkait dengan bab-bab lain, seperti kafarat, dan untuk menunjukkan bagaimana syariat mendorong pembebasan budak.

2 Wala' ialah hubungan kekerabatan hukum antara orang yang memerdekakan dan budak yang dimerdekakannya, yang menyebabkan saling mewarisi dari satu pihak.

3 Qinn ialah budak yang belum memiliki sebab kemerdekaan sedikit pun, seperti tadbir atau kitabah.

4 Ummul walad ialah budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya; ia otomatis merdeka ketika tuannya wafat.

Kesimpulan Isi Kitab

Matan al-Ghayah wa at-Taqrib merangkum fikih mazhab Syafi‘i dari ibadah hingga hukum keluarga, pidana, dan peradilan dalam ungkapan yang sangat ringkas. Ringkasan isinya sebagai berikut.

Pertama, ibadah. Kitab Bersuci menjelaskan air, najis, wudhu, mandi, tayamum, haid, dan nifas. Kitab Salat menjelaskan waktu, syarat, rukun, dan sunah salat, salat berjamaah, salat musafir, Jumat, salat dua hari raya, gerhana, istisqa, salat khauf, serta pengurusan jenazah. Kemudian Kitab Zakat, Kitab Puasa, dan Kitab Haji menerangkan syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkan atau merusak ibadah-ibadah tersebut.

Kedua, muamalah. Kitab Jual Beli membahas jual beli, riba, salam, gadai, pengampuan, perdamaian, hawalah, jaminan, syirkah, wakalah, iqrar, pinjaman, perampasan (ghashab), syuf‘ah, qiradh, musaqah, sewa-menyewa, ji‘alah, ihya’ al-mawat, wakaf, hibah, luqathah, dan laqith, serta wadi‘ah.

Ketiga, waris dan wasiat. Kitab Faraid menyebutkan ahli waris laki-laki dan perempuan, bagian-bagian yang ditentukan, dan ketentuan wasiat.

Keempat, keluarga. Kitab Nikah menjelaskan rukun dan syarat nikah, wali, mahar, walimah, pembagian giliran, nusyuz, khulu‘, talak, rujuk, ila’, zhihar, li‘an, ‘iddah, istibra’, persusuan, nafkah, dan hadhanah.

Kelima, pidana dan jihad. Kitab Jinayah membahas qishash dan diyat; Kitab Hudud membahas had zina, qadzf (menuduh zina), minum khamar, pencurian, perampokan, dan murtad; disusul Kitab Jihad tentang ketentuan perang, ghanimah, fai’, dan jizyah.

Keenam, hukum-hukum lain. Kitab Perburuan dan Penyembelihan menerangkan hewan yang halal dan cara menyembelih, termasuk kurban dan akikah; disusul Kitab Perlombaan dan Memanah, Kitab Sumpah dan Nazar, Kitab Peradilan dan Persaksian, dan Kitab Memerdekakan Budak sebagai penutup.

Dengan susunan yang tertib ini, Matan Taqrib menjadi pintu masuk bagi penuntut ilmu untuk mempelajari fikih Syafi‘i, sebelum melanjutkan ke syarahnya seperti Fath al-Qarib dan kitab-kitab yang lebih luas. Semoga Allah Ta‘ala menjadikan ilmu ini bermanfaat dan diamalkan.